Sudah dua hari sejak curahan penuh emosi dari Brian dan ia masih enggan untuk bicara pada Sungjin dan Wonpil. Dua pria tersebut berperan besar dalam luapan emosinya di depan ambang pintu. Sambil menunjuk-nunjuk Sungjin dan Wonpil, Brian memaki dan membentak. Mengatakan bahwa mereka berdua bukan teman yang baik; Apa mulut kalian bisu sampai tak mengatakan apa yang kalian lihat? Kalian benar-benar teman yang buruk!
Sementara itu Dowoon dan Jae hanya bisa diam, mereka tak tahu harus apa. Dowoon yang menjadi teman satu ruangan Brian tidak berani sama sekali mengganggu pria itu—meskipun hanya untuk menegur sapa ia juga tidak benar. Sedangkan Jae ia mencoba mengajak bicara Brian, namun hanya ditanggapi dengan anggukan atau dehaman. Lama-kelamaan Jae sendiri jadi lelah. Ia merasa seperti menghadapi Lyra versi laki-laki. Ia akan lepas tangan soal ini.
Saat ini udara Seoul kian mendingin, Brian tidak mau kalah dingin dengan udara. Dua hari sudah berlalu namun ekspresi datarnya masih tercetak jelas di wajah, tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghangat.
"Bisakah kau berhenti melakukan permainan saling mengacuhkan seperti ini?" ujar Jae berusaha mengejar langkah Brian.
Mereka tak sengaja bertemu ER dan sekarang dalam perjalanan menuju tujuan masing-masing.
Bohong kalau Jae sudah tak peduli perihal Brian dan hatinya yang hancur. Sejujurnya ia tahu betul perasaan Brian karena hal serupa pernah terjadi padanya, lebih tepatnya pada Lyra, oleh karena itu ia mungkin akan mencoba sedikit lagi untuk menenangkan Brian.
"Aku tahu mereka salah tapi jangan bertingkah seperti ini. Kalau kau tidak suka dengan cara mereka menyembunyikan soal mantanmu bicarakan dengan baik-baik, tidak perlu berkata kasar seperti kemarin. Tingkahmu kemarin menunjukkan kalau kau tidak berpikir jernih dan—"
"Memang benar kemarin aku tidak berpikir jernih."
Brian menghentikan langkahnya. Wajahnya berbalik, menampilkan ekspresi datar seperti tanpa jiwa.
"Apa ada orang yang bisa berpikir jernih setelah tahu temannya menyembunyikan fakta soal perselingkuhan kekasihnya sendiri? Apa ada yang bisa berpikir jernih di saat seperti itu, hyung?"
"I know what you mean, but at least you don—"
"Bullshit."
Kerutan di mata membuktikan bahwa rasa kesal Brian sudah di ubun-ubun.
"Mereka tahu dan memutuskan untuk menyembunyikannya. Mereka membuatku bodoh karena aku sendiri tidak tahu soal perselingkuhan itu!"
"Mereka menyembunyikannya demi kau. Sungjin dan Wonpil tidak ingin kau terlu—"
"Cukup omong kosongnya. Aku tidak mau dengar demi aku, demi dia atau demi siapa pun."
Brian merasakan ponselnya bergetar, tahu siapa yang meneleponnya.
"Pasienku menunggu. Aku tidak mau membuat mereka kecewa. Tidak seperti dua orang itu."
Percakapan tadi menjadi akhir dari usaha seorang Park Jaehyung menenangkan si pria yang sedang patah hati. Kali ini ia akan benar-benar lepas tangan dan menyerahkannya pada—entah, siapa pun yang bisa menenangkan pria itu.
Setelah menangani pasiennya, Brian memutuskan untuk pulang. Ia tidak akan pergi ke basement rumah orang yang mengkhianatinya dan bertemu dengan satu orang lagi yang juga mengkhianatinya. Pesan di ruang obrolan band masih terus berbunyi. Tiga pria di dalam obrolan itu mengetik namanya tapi—tentu saja—ia tidak membalasnya. Ia akan masa bodoh sekarang.
"Dokter Kang!"
Brian tahu suara teriakan itu berasal dari siapa, tapi kakinya tetap melangkah ke lift lalu menekan tombol panah bawah, menuju parkiran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Days Gone By (END)
Fanfiction[Medical - Romance] Hari-hari yang terus berlalu tidak akan memberitahu ke mana hidup dan hati ini berlabuh. Semua adalah rahasia, dan rahasia hanya akan terbuka jika hari sudah berlalu. Days Gone By; kelima dokter yang tidak tahu bagaimana kehidup...
