Semua karyaku tersedia dalam bentuk ebook, pdf, playbook dan juga tersedia di karyakarsa. Mampir ya, jangan lupa dukungannya. Akun karyakarsa-ku AokiRei sama dengan nama akun wattpadku. Yang mau pdf bisa kontak di no 081917797353
Jangan lupa tinggalkan jejak yah. Happy reading.
❤❤❤❤
"Selamat datang, My Lady."
Edheline menghentikan langkah ketika hendak memasuki rumah. Keningnya berkerut begitu mendengar sapaan dari Lidya. Rasanya aneh mendengar Lidya tetap memanggilnya seperti itu setelah apa yang terjadi padanya sejak tiga tahun terakhir. Meskipun statusnya memang masih seorang bangsawan tapi kehidupan yang saat ini dijalaninya jelas sudah sangat berbeda. Ia tidak lagi bergelimang harta dan dikelilingi banyak pelayan seperti kehidupan yang dijalani sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa tidak masuk?" tanya Lidya heran.
"Bukankah aku sudah sering memintamu untuk tidak memanggilku seperti itu lagi, Lidya? Kau tidak mungkin melupakan perintahku, kan?"
Lidya tertawa. Tentu saja ia tidak lupa, hanya saja ia masih belum terbiasa memanggil Edheline tanpa embel-embel kehormatan yang wanita itu miliki. Meskipun kehidupan yang Edheline jalani saat ini sudah sangat berubah tapi wanita itu masih memiliki darah bangsawan yang sulit Lidya abaikan.
"Maafkan aku, aku ingat hanya saja aku masih belum terbiasa dengan permintaanmu itu."
"Sudah hampir dua tahun, Lidya. Aku rasa itu sudah cukup lama, bahkan sangat lama untuk membuatmu terbiasa."
Lidya menyengir. Sejak dua tahun hidup bersama Edheline, wanita itu memang sudah meminta padanya untuk tidak lagi memanggilnya layaknya seorang pelayan kepada majikannya. "Kenyataannya memang seperti itu, jadi biarkan saja aku memanggil dengan cara seperti itu."
Edheline berdecak. Ia menatap Lidya dengan kesal.
"Baiklah, baiklah, maafkan aku. Aku akan memanggil namamu hanya saat kita sedang berdua saja, Edheline."
"Bukan masalah, toh tidak akan ada orang lain selain aku dan kau."
Edheline tersenyum dan menggandeng Lidya masuk. Lidya hanya dua tahun lebih tua darinya tapi Edheline sudah mengenal Lidya sejak ia kecil. Selain berteman dengan Bianca, Lidya merupakan temannya yang lain. Lidya memang seorang pelayan tapi bagi Edheline, Lidya adalah keluarganya. Lidya membuktikan kesetiaan padanya ketika orang tuanya meninggal. Lidya memutuskan untuk tetap bersamanya disaat yang lain lebih memilih mengabdikan hidup kepada pamannya yang menjadi penerus Baron selanjutnya.
"Apa menu makan malam kita kali ini?"
"Semangkuk mie kuah dengan irisan daging sapi dan paprika," Lidya menoleh pada Edheline. "Bagaimana? Kau suka?"
"Tentu saja. Aku selalu menyukai apa pun yang kau masak. Apa yang bisa aku bantu?"
Lidya menghentikan langkah dan menatap Edheline dengan tatapan tajam. "Jangan berani-berani mengacau di dapurku, Edheline," kata Lidya penuh peringatan. Ia ingat bagaimana kacaunya dapur mungilnya setiap kali Edheline berkata akan membantunya. Sudah terlalu sering Edheline mengancau dan ia tidak ingin hal yang sama terulang kembali.
"Mengacau? Aku hanya berniat membantumu."
"Tidak! Jangan sentuh apa pun di dapurku, kau mengerti."
Edheline memberengut. "Kau jahat sekali."
"Biar saja, persetan dengan keluhanmu. Aku masih muda dan aku ingin hidup lebih lama lagi."
"Kau memang menyebalkan."
