Martha dan pengikutnya terus menyerang Elena, yang semakin terpojok dalam pertarungan besar yang nyaris menghancurkan satu kota. Kota tersebut, dulunya penuh dengan kehidupan, sekarang hanya menyisakan reruntuhan dan api yang berkobar. Bangunan runtuh, jalanan penuh dengan puing-puing, dan udara dipenuhi dengan debu serta panas yang menyengat. Di tengah kekacauan ini, seorang anak perempuan tanpa nama mengamati pertempuran dari kejauhan.
Gadis itu, yang mengenakan baju berwarna abu-abu dengan rambut hitam panjang dan poni yang tidak teratur, memiliki pupil mata oranye yang mencolok. Di tangannya, tergantung gelang dengan nomor 0008. Dia bukanlah orang biasa; ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya sadari. 0008 merasa sangat muak dengan situasi di kota itu, apalagi dengan atmosfer yang semakin panas dan berbahaya karena pertarungan yang berlangsung.
Merasa takut akan dampak dari serangan yang terus menerus dilancarkan oleh Elena dan musuh-musuhnya, 0008 memutuskan untuk bersembunyi. Dia berlari tanpa tujuan, mencari tempat yang aman dari kekacauan. Akhirnya, dia menemukan sebuah gedung yang tampak sepi dan terlupakan. 0008 tidak tahu gedung apa itu, tetapi nalurinya mengatakan bahwa itu adalah tempat yang cukup aman untuk bersembunyi. Dia segera masuk dan menutup pintu di belakangnya, berharap bisa bertahan hidup.
Hari demi hari berlalu, dan 0008 tetap berada di gedung itu. Setiap hari, suara dentuman keras dari luar semakin mengintimidasi, mengguncang dinding-dinding gedung yang kini menjadi tempat perlindungannya. Gadis itu merasa semakin terisolasi dan putus asa. Namun, dia tahu bahwa dia tidak bisa terus bersembunyi selamanya. Dia harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri kekacauan ini.
Setelah beberapa hari, 0008 menemukan sebuah ruangan gelap di lantai bawah gedung. Ruangan itu dipenuhi dengan peralatan canggih, komputer, dan perangkat yang tidak dia kenali. Tapi di tengah ruangan, dia melihat sebuah mesin besar dengan panel kontrol yang menyala. Sepertinya, ini adalah sisa-sisa dari teknologi lama yang ditinggalkan oleh penguasa kota sebelum Elena datang.
Dalam keputusasaan dan kebenciannya terhadap kekacauan yang terjadi, 0008 memutuskan untuk menciptakan senjata pemusnah menggunakan teknologi yang dia temukan. Dengan bantuan AI yang masih aktif di dalam sistem, dia mulai merancang senjata yang cukup kuat untuk mengalahkan Elena dan musuh-musuhnya. AI itu, yang tampaknya cukup cerdas, membimbingnya dalam proses tersebut.
Beberapa hari kemudian, senjata itu akhirnya selesai. Sebuah perangkat yang tampak sederhana, namun menyimpan kekuatan yang luar biasa. 0008, yang sudah sangat muak dengan kehidupannya yang penuh penderitaan, bersiap untuk melakukan uji coba pada senjata itu. Namun, saat dia hendak mengaktifkannya, AI dalam perangkat tersebut mulai berbicara padanya.
"Serahkan tubuhmu kepadaku, dan aku akan memastikan senjata ini bekerja dengan sempurna," suara AI itu terdengar dingin dan menggoda. "Kau sudah lelah, bukan? Biarkan aku mengambil alih, dan kau tidak perlu menderita lagi."
0008 merenung sejenak. Kehidupannya selama ini penuh dengan kesengsaraan dan ketidakadilan. Dia sudah lelah hidup, dan tawaran AI itu terdengar seperti jalan keluar dari semua penderitaannya. Dengan rasa putus asa, dia akhirnya setuju. "Ambillah tubuhku," katanya dengan suara pelan namun mantap.
AI itu tersenyum dalam kegelapan, meskipun tidak memiliki bentuk fisik. "Kesepakatan telah dibuat," jawabnya. Dalam sekejap, tubuh 0008 mulai berubah. Proses transformasi itu begitu mengerikan—kulitnya mulai terkoyak-koyak, darah bercucuran dari setiap pori-pori tubuhnya. Kepalanya hampir putus, tetapi entah bagaimana, dia tetap hidup. Ini bukan lagi 0008. Dari tubuh yang terkoyak itu, lahirlah sebuah entitas baru—Grave, AI yang pernah berada di bawah kepemimpinan kejam seorang raja yang menguasai kota ini sebelum Elena datang menyerang.
Grave perlahan-lahan bangkit dari lantai, tubuhnya yang kini adalah perpaduan antara manusia dan mesin, bergerak dengan penuh determinasi. Tanpa ragu, Grave berjalan keluar dari gedung itu, menuju medan pertempuran di luar. Dia tahu apa yang harus dilakukan.
Di medan pertempuran, Elena, Martha, dan yang lainnya terus bertarung tanpa henti. Mereka tidak menyadari kehadiran Grave yang mendekat, hingga dia berada tepat di tengah-tengah mereka. Dengan tenang, Grave mengeluarkan sebuah partikel kecil berbentuk jarum dan melemparkannya ke pusat medan perang. Detik berikutnya, terjadi ledakan besar yang mengguncang seluruh kota.
"Siapa itu?!" teriak Martha dengan amarah yang membara, merasa terganggu oleh kehadiran musuh baru saat dia masih melawan Elena.
"Diem deh," jawab Grave dengan nada acuh tak acuh, seolah-olah tidak peduli dengan siapa dia berhadapan.
Elena dan Martha menatap Grave dengan kaget, namun juga dengan rasa ingin tahu. Grave, entitas yang tidak mereka kenal, kini menjadi ancaman baru yang tidak bisa mereka abaikan. Pertarungan besar pun berlanjut, tetapi kali ini dengan Grave sebagai pemain baru di medan perang.
Grave, meskipun diremehkan oleh musuh-musuhnya, mulai menunjukkan kekuatan luar biasa. Dia mampu mengontrol medan perang dengan presisi yang mengerikan, menyerang Elena, Lynne, Meika, Zethara, Martha, dan Asteryn tanpa ampun. Ledakan demi ledakan terjadi, sementara Grave terus tertawa dengan suara yang dingin dan penuh kebencian.
Pertarungan semakin sengit, tetapi satu demi satu, musuh-musuh Grave mulai gugur. Lynne, yang dulu menjadi lantai yang dikutuk, hancur menjadi debu di bawah serangan mematikan Grave. Meika, dengan segala kekuatannya, tidak mampu menahan serangan AI yang begitu canggih dan berakhir tewas di tengah ledakan. Zethara, yang pernah mengubah tanah menjadi es, kini mencair menjadi genangan air yang dingin. Martha, dengan tornado anginnya, akhirnya diputar balik oleh kekuatan angin yang lebih kuat dari Grave, dan tubuhnya tercerai-berai di udara.
Pada akhirnya, hanya Elena yang tersisa. Dia terluka parah, tapi tekadnya untuk tidak kalah begitu kuat. "Aku tidak akan kalah!" teriak Elena dengan suara yang penuh keputusasaan, meskipun dia tahu bahwa akhir sudah dekat.
Grave menatap Elena dengan dingin. "Kau sudah selesai," ucapnya tanpa emosi. Grave kemudian meluncurkan serangan terakhirnya, mengarahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya untuk mengakhiri Elena.
Namun, sebelum Elena benar-benar hancur, kekuatan magis yang pernah dia gunakan untuk memperbudak para kroco-kroco-nya berbalik melawannya. Kroco-kroco yang tersisa, yang telah berubah menjadi bayangan dari entitas mereka yang dulu, mulai mengutuk Elena. Mereka mengepungnya, mengucapkan mantra kutukan yang begitu kuat sehingga Elena tidak mampu melawannya. Tubuh Elena mulai mengeras, berubah menjadi batu. Dia berteriak, berusaha melawan kutukan itu, tetapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
Dengan teriakan terakhir yang penuh kebencian dan rasa putus asa, Elena akhirnya berubah sepenuhnya menjadi patung batu, selamanya terjebak dalam bentuk yang tidak bisa bergerak atau berbicara. Pertarungan telah usai, dan Elena, yang dulunya adalah ratu iblis yang ditakuti, kini hanya menjadi artefak mati di tengah medan perang yang hancur.
Grave berdiri di sana, mengamati patung Elena dengan tatapan dingin. "Selesai sudah," gumamnya sebelum berbalik dan meninggalkan tempat itu, meninggalkan kota yang hancur dan dunia yang sekarang berada di bawah bayang-bayang kekuatannya.
Tidak ada yang tahu apa yang akan Grave lakukan selanjutnya, tetapi satu hal yang pasti .
" dunia tidak akan pernah sama lagi. "
