lantai jadi jahad

16 2 5
                                    

Pada tahun 1782, di sebuah kastil kuno yang berdiri megah di tengah hutan, tinggallah seorang penyihir tua yang sangat sakti. Kastil itu memiliki lantai yang terbuat dari batu pualam yang dingin dan licin. Sang penyihir, meskipun sangat bijaksana, terkenal ceroboh dan sering tersandung saat berjalan di dalam kastilnya sendiri.

Suatu malam, ketika sang penyihir tengah asyik merapal mantra di ruangannya, dia tidak sengaja tersandung pada sebuah ubin yang sedikit menonjol. Amarahnya memuncak, dan dia mengutuk lantai kastil itu dengan sebuah mantra yang mengerikan, mengubahnya menjadi seorang manusia. "Kau yang berani membuatku tersandung, sekarang rasakan hukumanmu! Aku kutuk kau menjadi manusia, dengan semua rasa sakit dan penderitaan yang harus kau alami!" teriak penyihir itu.

Seketika, lantai itu berubah menjadi seorang perempuan muda yang cantik dengan kulit seputih pualam dan mata sehitam malam. Namanya adalah Lynne, namun panggilannya tetap sama-Lantai. Lynne merasa bingung dan ketakutan pada awalnya, tapi seiring berjalannya waktu, dia mulai menyadari bahwa dunia ini penuh dengan hal-hal baru dan menarik yang tidak pernah dia alami sebagai lantai kastil.

Dengan rasa ingin tahu yang besar, Lynne meninggalkan kastil tua itu dan berjalan menuju sebuah desa yang tidak jauh dari hutan, sembari berjalan Lynne berkata " mampus lu nenek nenek, sapa suruh ngutuk aku , mweahahahhahah " , saat itu lah Lynne melihat desa nya. Desa itu adalah kluster perumahan mewah, penuh dengan rumah-rumah besar dan orang-orang kaya yang hidup dalam kenyamanan. Dengan penuh semangat, Lynne mendekati gerbang desa, berharap bisa bertemu dengan manusia-manusia lain dan menjadi bagian dari komunitas mereka.

Namun, reaksi warga desa jauh dari yang ia bayangkan. Saat dia berjalan melewati jalan setapak yang dipenuhi bebatuan mahal dan trotoar yang bersih, orang-orang mulai memandangnya dengan tatapan aneh. Mereka melihatnya sebagai orang asing yang kotor dan tidak pantas berada di lingkungan mewah mereka. Pakaiannya yang lusuh, yang masih menggambarkan asal usulnya sebagai lantai kastil yang sudah tua, membuatnya tampak mencolok di antara penduduk yang berpakaian rapi dan berkelas.

"Siapa dia?" bisik seorang wanita kaya sambil menutup hidungnya seolah mencium bau yang tidak sedap. "Orang seperti dia tidak pantas berada di sini," kata seorang pria dengan nada meremehkan. " Bajunya begitu lusuh, tak mungkin dia sama dengan kaum ku " .

Lynne, yang awalnya sangat excited, mulai merasa terasingkan. Setiap kali dia mencoba berbicara dengan orang-orang, mereka menjauh, menghindarinya seolah-olah dia membawa penyakit. Anak-anak yang awalnya bermain riang di jalanan, lari ketakutan saat melihatnya. Bahkan anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar perumahan pun menggonggong dengan galak setiap kali dia lewat.

Kesedihan dan kemarahan mulai menguasai dirinya. Dia tidak mengerti mengapa manusia yang dulunya hanya berjalan di atasnya kini menolaknya dengan begitu kejam. Dia mencoba bertahan, tapi perlakuan dingin dari para warga desa semakin lama semakin melukai hatinya. Hingga akhirnya, rasa dendam mulai tumbuh di dalam dirinya.

Malam itu, saat bulan purnama menggantung di langit, Lynne kembali ke kastil tua tempat asalnya. Di sana, dia menemukan sebuah buku mantra yang tertinggal oleh sang penyihir. Dengan cepat, dia mempelajari mantra-mantra tersebut dan menemukan satu mantra kuno yang bisa memberinya kekuatan untuk membalas dendam. " Jancok, terpaksa nih ya, sapa suruh rasis "

Keesokan harinya, dia kembali ke desa dengan tujuan yang jelas. Dengan mantra yang dia pelajari, Lynne mulai memanipulasi desa itu. Dia membuat lantai-lantai di rumah-rumah penduduk menjadi licin dan berbahaya, membuat mereka jatuh dan tersandung di mana-mana. Setiap kali mereka jatuh, mereka merasa ketakutan karena tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, itu hanya awal dari rencananya.

Lynne menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan seluruh desa. Lantai-lantai di rumah-rumah mereka tiba-tiba hidup, menutup pintu-pintu, menjebak orang-orang di dalam rumah mereka sendiri. Lynne, yang sekarang merasa berkuasa, membuat para penduduk desa menjadi budaknya. Setiap hari, mereka dipaksa untuk membersihkan lantai-lantai rumah mereka, yang selalu kotor dan penuh dengan debu ajaib yang tidak pernah hilang, tidak peduli seberapa keras mereka mencoba membersihkannya.

Tidak ada yang bisa melawan Lynne. Desa yang dulu dipenuhi dengan orang-orang kaya yang sombong dan angkuh, kini menjadi tempat yang suram, di mana penduduknya hidup dalam ketakutan dan penderitaan. Mereka yang dulu meremehkan dan menghina Lynne, sekarang memohon belas kasihan, tapi tidak ada yang bisa menghentikan kutukan yang telah dia berikan kepada mereka.

Akhirnya, Lynne menjadi penguasa desa itu, memperbudak semua orang yang dulu menolaknya. Ia sekarang hidup dalam kemewahan yang dulu hanya bisa diimpikan, sementara para warga desa, yang dulunya begitu tinggi hati, kini hanya bisa menunduk dan patuh pada perintahnya. Kutukan penyihir yang awalnya dimaksudkan sebagai hukuman, kini menjadi alat balas dendam yang menghancurkan seluruh desa, membuat Lynne tertawa puas di atas penderitaan mereka.

Apalah lantai

nyengir Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang