Hari Pertama

103 22 0
                                    


Cahaya merambat melalui sela-sela kamar Seokjin dan Jisoo. Jisoo terbangun karena sinar itu menyentuh wajah cantiknya.

"Pagi dunia!" Gumam Jisoo sebelum bangkit dari tempat tidur. Dia melihat Seokjin masih tertidur pulas. Jisoo melihat jam yang menunjukkan pukul 06.20 kst. Dia kemudian mendekat ke arah Seokjin dan memperhatikan pria itu.

"Dia tampan. Tapi...menyebalkan." Ucap Jisoo lalu beranjak memasuki kamar mandi.

Jisoo membuka pintu kamar mandi namun dia dikejutkan dengan Seokjin yang tiba-tiba ada di depan pintu hingga membuat Jisoo terhuyung kebelakang.

Dengan sigap Seokjin menahan pinggang Jisoo agar gadis itu tidak terjatuh. Handuk yang melilit rambut Jisoo terlepas dan jatuh ke lantai, membuat rambut basah gadis itu terutai. Mereka saling tatap satu sama lain. Ini kedua kalinya mata mereka bertemu dengan jarak yang cukup dekat.

"Sarah!" Panggil Jungeun pada kepala pelayannya yang kebetulan ada di depan pintu kamar Seokjin. Hal itu membuat mereka tersadar dan segera memperbaiki posisi mereka.

"Apa yang kau lakukan di depan kamar mandi!" Tanya Jisoo pada Seokjin. Seokjin menatapnya.

"Apa? Kau pikir aku mengintipmu? Aku tidak tau jika kau di dalam." Seokjin acuh dan hendak beranjak.

"Setidaknya kau bisa mengetuk pintu atau memanggilku, kan?" Seokjin berbalik mendengar pertanyaan Jisoo.

"Yang pertama, aku malas menyebut namamu. Dan yang kedua, aku hendak melakukannya tapi kau lebih dulu membukanya." Jelas Seokjin santai. Seokjin pun memasuki kamar mandi dan mengabaikan Jisoo.

"Dasar pria gila!" Jisoo kemudian beranjak dari sana dan bersiap. Setelah itu mereka berdua menuruni anak tangga dan pergi ke meja makan untuk sarapan.

Mereka duduk di kursi masing-masing. Para pelayan sibuk menyiapkan makanan di meja makan.

"Pagi eomma, appa, hyung dan...noona.." sapa Jungkook ragu. Jisoo hanya tersenyum membalas sapaan pria itu.

"Apa tidurmu nyenyak, Jisoo?" Tanya Seojun.

"Ye ahjussi?" Seojun tersenyum.

"Kau bisa memanggilku appa. Dan memanggil Jungeun eomma. Benarkan, Jungen-ah?" Tanya Seojun pada istrinya yang duduk di sebelahnya.

"Tentu! Lagi pula ini hanya sandiwara sementara, bukan?" Jungeun menatap Jisoo. Melihat tatapan itu membuat Jisoo mengerti bahwa Jungeun tak menyukainya. Tapi tak masalah. Bukankah dunia memang selalu membencinya.

"Jungeun.." tegur Seojun pelan.

"Jangan hiraukan eomma mu ini. Dia memang selalu sensitif setiap pagi. Makanlah!" Seojun tersenyum menenangkan Jisoo.

Mereka kemudian fokus pada makanannya. Tidak ada obrolan di antara mereka. Hanya terdengar suara piring dan sendok yang saling bertemu.

Hingga mereka selesai dan pelayan hendak membersihkan piring-piring itu namun Jungeun mencegahnya.

"Tunggu Sarah! Kita baru saja kedatangan keluarga baru. Jika mengikuti tradisi keluarga kita, bukan kah anggota keluarga tersebut wajib membantu para pelayan di rumah ini untuk membersihkan rumah?" Ucap Jungeun.

"Jungeun apa yang kau lakukan? Tradisi itu sudah tidak ada lagi. Itu tidak penting. Tidak usah membahasnya!" Ucap Seojun.

"Kenapa tidak? Itu penting! Bagaimana jika hidup kita tidak lagi seperti ini? Apa kau akan terus mengandalkan orang lain? Ini hanya hal kecil. Apa kau takut dia--astaga!" Jungeun menutup mulutnya. Semua tentu menatapnya bingung.

All I Need Just Love❌️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang