─7

235 18 6
                                        

"Selamat pagi, sayang." Jeno mengerang dari tidurnya, tak mengindahkan ucapan selamat pagi dari Jaehyun yang membangunkannya. Kembali menyusuri alam mimpinya yang sempat tertunda. "Masih mengantuk rupanya."

Hari masih sangat pagi namun Jaehyun sudah siap untuk pergi ke kantor. Tidak seperti biasanya, kali ini ia bangun pagi-pagi dan berniat membangunkan Jeno. Entahlah Jaehyun nampak bersemangat pagi ini.

Tungkai Jaehyun berjalan menuju cermin, menggapai kerah kemeja yang sialnya sulit di rapikan. Biasanya Jeno yang akan merapikan, sekaligus memasangkan dasi. Namun, Jaehyun tidak tega untuk membangun kan Jeno yang tampaknya masih ingin bergelung di selimut tebal.

"Sial! Mengapa kerah ini sulit untuk di rapikan!" Akhirnya Jaehyun menyerah. Memilih untuk mengabaikan kerahnya dan mengambil selembar dasi polos. Lagi-lagi Jaehyun tidak bisa menyimpulkan dasinya. Ia frustasi.

Jaehyun berjengit saat tiba-tiba tangan dingin menyentuhnya. Untung saja Jeno langsung menunjukkan presensinya sebelum Jaehyun berteriak sebab terkejut. "Sayang, kenapa mengagetkanku?" Menghela napas lega, Jaehyun beralih memeluk pinggang ramping Jeno.

"Kau saja yang tidak menyadari keberadaanku." Jeno gapai kerah kemeja yang sedari tadi menjadi sasaran amukan Jaehyun, merapikannya dengan mudah tanpa banyak bicara, selanjutnya memasangkan dasi yang dengan cepat di simpulkan tanpa terbelit acak sekalipun.

Jaehyun tersenyum senang melihatnya. Jeno memang pandai mengurusnya. "Lakukan pelan-pelan, kau selalu terburu-buru melakukan segala hal." Jeno beralih mengusap lengan berotot Jaehyun, menatap paras tampan Jaehyun yang selalu di pujanya. Tampan, suaminya sangat tampan.

"Sengaja. Supaya kau bisa mengurusku dan membantuku dalam hal apapun." Jeno pukul manja lengan berotot Jaehyun. Lantas ia peluk tubuh tegap Jaehyun. "Tumben sekali kau mau memelukku pagi-pagi begini? Biasanya kau paling anti untukku peluk. Alasannya karena belum mandilah, mau buat sarapanlah, dan banyak lagi."

Jeno sadar dirinya banyak berubah semenjak kehamilannya, ia semakin menempel pada Jaehyun dan selalu menginginkan keberadaan suaminya. Bahkan Jeno tidak rela membiarkan Jaehyun pergi bekerja, Jeno ingin bersama Jaehyun seharian. Namun, apalah daya ia hanya bisa memendam semua, Jeno tidak mau menjadi egois dan menghambat pekerjaan suaminya. Jeno harus mengerti.

"Kenapa?"

"Tidak. Aku hanya merindukanmu." Semakin erat dirinya memeluk Jaehyun.

"Apa sebaiknya aku cuti lagi? Aku tidak mau meninggalkanmu." Jaehyun cemas. Ia tahu Jeno menginginkannya, namun Jeno memilih untuk tidak bicara. Memendam seperti biasanya dan Jaehyun yang selalu tahu apa yang Jeno pikirkan.

"Tidak perlu. Yuta akan mengamuk kalau tahu kau mengambil cuti lagi. Lagipun aku tidak sendiri, ada banyak pelayan disini. Aku juga akan mengabarimu, kau tidak perlu khawatir." Jeno menenangkan. Jaehyun kecup seluruh permukaan wajah Jeno, mengecup hingga menimbulkan erangan dari empunya.

"Baiklah kalau itu mau mu." Jaehyun pasrah, mematuhi perintah Jeno.

"Kalau begitu ayo sarapan. Kau juga harus meminum susu."

Jaehyun memapah hati-hati, merangkul pundak ringkih dan berjalan perlahan. "Tidak perlu begini, kau berlebihan."

"Tidak ada yang berlebihan mengenai dirimu, sayang."

Jeno memutar bola mata malas. Ia sungguhan berpikir bahwa perlakuan Jaehyun sangat berlebihan, Jeno masih sanggup untuk naik turun tangga tanpa bantuan siapapun namun Jaehyun terlalu memanjakannya. Jaehyun memastikannya tidak mengalami kesulitan apapun.

"Mau sarapan apa?" Tanya Jaehyun, setelah mereka sampai di dapur. Menarik kursi untuk Jeno duduki, sementara dirinya menghampiri pantry  untuk membuat sarapan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 06, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SPECIAL HUMANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang