Bab 2

51 6 0
                                        

Siang itu, suasana di kantor terasa lebih tegang dari biasanya. Emma Helia, seorang perempuan berusia 22 tahun, duduk di balik meja kerjanya dengan tangan yang sibuk mengetik keyboard, menatap layar komputer seolah berusaha menembus angka-angka yang terus berputar di hadapannya. Rambut panjangnya yang hitam kecoklatan mengalir rapi di punggung, menambah kesan tenang pada wajahnya yang selalu serius. Namun, di dalam batinnya, gelombang kecemasan mengalir deras, menanti saat yang tepat untuk meluap.

Siang itu terasa berbeda, lebih mencekam dari biasanya. Setiap kali Emma melirik jam dinding, detak waktu seolah melambat, menambah tekanan yang semakin menggulung pikirannya. Ia menatap meja kerjanya yang penuh dengan dokumen produksi dan laporan stok, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Sesuatu yang lebih besar sedang terjadi di balik layar, sesuatu yang hanya diketahui segelintir orang, dan Emma terjebak di tengah-tengahnya.

Empat tahun bekerja di perusahaan industri ini telah mengajarkan banyak hal. Emma telah berkelana dari satu bagian ke bagian lain, berusaha mengasah keterampilannya di setiap kesempatan. Dan kini, ia menduduki posisi di Production Planning and Inventory Control (PPIC) sebagai admin.

Kerja kerasnya selama ini telah membawanya ke posisi yang cukup strategis di PPIC, namun seiring waktu berlalu, Emma mulai menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan cara operasional perusahaan. Perselisihan antar departemen, manipulasi data, bahkan keputusan yang seolah dibuat untuk menutupi sesuatu.

Kantor yang dulu dipandangnya sebagai tempat untuk tumbuh dan berkembang kini telah berubah menjadi arena penuh intrik dan konflik.

Dan sekarang, Emma tahu rahasia gelap itu.

Beberapa bulan yang lalu, saat ia masih membantu bagian Finance, ia tanpa sengaja menemukan beberapa transaksi yang tidak wajar. Jumlah barang yang diinput sering kali berbeda dengan yang dilaporkan oleh warehouse. Awalnya, ia mengira ini hanya kekeliruan biasa. Tetapi, ketika ia mencoba mengonfirmasi ke bagian lain, semua orang menghindar untuk menjawabnya. Bahkan atasannya hanya menyuruhnya untuk "tidak ikut campur".

Saat itulah Emma sadar, ada sesuatu yang sedang disembunyikan.

Dia mencoba melupakan, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanya paranoia, bahwa mungkin memang hanya masalah teknis biasa. Tapi ketika ia dipindahkan ke PPIC, dan mulai melihat pola yang sama dalam laporan inventaris dan permintaan barang, firasat buruknya semakin kuat. Barang-barang sering kali 'hilang' begitu saja dari gudang, data pengiriman dan penerimaan seolah sengaja diubah-ubah. Setiap kali Emma menanyakan hal ini ke tim warehouse, jawaban yang ia terima selalu penuh dengan alasan yang tak masuk akal, atau lebih sering, hanya tatapan dingin dan ancaman terselubung.

Dan kini, dia terperangkap.

Laporan yang dibanting ke mejanya tadi pagi oleh supervisor bukanlah sekadar masalah salah tanggal atau ketidaksesuaian data. Itu adalah titik kritis yang bisa membuka tabir kebohongan besar yang selama ini tersembunyi. Laporan itu, jika diperbaiki dengan benar, akan menunjukkan bahwa barang-barang senilai ratusan juta rupiah telah menghilang dari catatan tanpa penjelasan yang masuk akal.

"Apa yang harus kulakukan?" gumam Emma pelan, jari-jarinya menggenggam erat tepi meja. Dia merasa sendirian. Jika dia mengabaikannya, dia akan dianggap ikut terlibat. Tetapi jika dia melaporkan hal ini tanpa bukti yang kuat, dia tahu akan ada konsekuensi besar yang harus ditanggung.

Suara dering telepon memecah lamunannya.

"Emma, ini saya," suara dari ujung telepon terdengar datar, tetapi nada tegasnya membuat Emma langsung terjaga. "Saya ingin kamu datang ke ruangan saya sekarang."

Jantung Emma berdegup kencang. "Baik, Bu. Saya segera ke sana."

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Emma merapikan berkas-berkas di mejanya. Pikiran-pikiran liar melintas di benaknya, "apakah Bu Diana tahu sesuatu? Apakah aku akan dimarahi lagi? Atau lebih buruk lagi?" Kata Emma yang menyebut nama si penelpon tadi dan merupakan orang yang menegur Emma sebelumnya.

Begitu tiba di depan ruangan Bu Diana, Emma menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu.

"Masuk."

Emma membuka pintu perlahan dan menemukan Bu Diana duduk di balik meja kerjanya yang besar, dikelilingi oleh beberapa berkas tebal. Ekspresi wajah Bu Diana sulit dibaca, tetapi sorot matanya yang tajam mengisyaratkan bahwa ini bukanlah pertemuan biasa.

"Duduklah," kata Bu Diana tanpa basa-basi.

Emma menuruti perintah itu, mencoba menenangkan diri.

"Apa yang terjadi pagi tadi?" Bu Diana membuka percakapan dengan pertanyaan langsung.

Emma menelan ludah, berusaha memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ada kesalahan dalam laporan inventaris yang dikirimkan ke bagian saya, Bu. Setelah dicek, ternyata ada ketidaksesuaian data dari tim warehouse. Saya sudah mencoba mengklarifikasi, tetapi..," belum selesai Emma mengatakan nya, Bu Diana sudah memotong nya.

"Jangan bertele-tele, Emma," potong Bu Diana dengan nada dingin. "Saya tahu apa yang kamu maksud. Bukan kali ini saja terjadi, dan saya yakin kamu pun menyadarinya."

Emma terdiam, hatinya berdegup semakin kencang. Ini lebih buruk dari yang ia bayangkan. Jika Bu Diana tahu, mengapa ia tidak berbuat apa-apa? Atau, apakah dia terlibat?

"Dengar, Emma," lanjut Bu Diana, mencondongkan tubuhnya ke depan. "Apa pun yang kamu temukan, simpan itu sendiri. Jangan bertindak gegabah. Kamu mungkin merasa ini tidak adil, tapi ada hal-hal yang lebih besar yang sedang dimainkan di sini. Jika kamu bergerak terlalu cepat, kamu hanya akan berakhir terluka."

Ancaman halus itu membuat bulu kuduk Emma meremang.

"Apa maksud Ibu?" tanya Emma dengan suara serak.

"Maksud saya, jangan berusaha menjadi pahlawan. Fokus saja pada tugasmu. Laporan itu, saya akan urus. Kamu hanya perlu diam dan terus bekerja seperti biasa," jawab Bu Diana sambil menyandarkan diri ke kursi, tatapan matanya tak pernah lepas dari Emma.

Emma menatap Bu Diana, mencoba mencari tanda-tanda kejujuran di wajah atasannya. Tetapi, yang ia lihat hanyalah topeng profesional yang tak dapat ditembus.

"Baik, Bu," jawab Emma akhirnya, menganggukkan kepala dengan pelan.

"Bagus. Sekarang, kembali bekerja. Ingat, Emma, ini untuk kebaikanmu sendiri."

Saat Emma melangkah keluar dari ruangan, perasaannya campur aduk. Seolah beban yang tak kasatmata semakin menghimpitnya. Dia tahu, satu langkah yang salah bisa menghancurkan kariernya. Tapi di sisi lain, dia juga tahu bahwa rahasia ini harus dibongkar. Untuk dirinya sendiri, dan untuk orang-orang yang bekerja keras dengan jujur di perusahaan ini.

"Tidak, aku tidak bisa hanya diam," pikir Emma dengan tekad yang mulai menguat. "Jika aku harus melawan, aku akan mencari caranya. Dan aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja."

Emma tahu, jalan di depannya tidak akan mudah. Tapi satu hal yang pasti, ini bukan lagi hanya soal pekerjaan. Ini tentang kebenaran, tentang keberanian, dan tentang keadilan yang selama ini dipermainkan di balik meja-meja rapi perusahaan tempat ia bekerja.

Setelah keluar dari ruangan Bu Diana, Emma berjalan kembali ke mejanya dengan langkah yang lebih perlahan. Setiap tatapan dari rekan kerja di sekitarnya seolah menyoroti ketegangan yang ia rasakan. Sebagian dari mereka hanya melirik sekilas, sementara yang lain. Seperti Rian dari tim Sales, menatapnya dengan lebih lama, seakan tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Balancing Acts in the Office "The Realities Behind It"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang