Gama tidak terlihat sejak tiga hari belakangan ini, namun Gika takjub karena pria itu masih mau mengabarinya. Gama hampir setiap hari mengiriminya pesan, juga kadang-kadang menghubunginya jika sedang senggang. Perhatiannya itu memang lambat laun membuat Gika merasa nyaman, juga mungkin hampir terbiasa.
Gama sepertinya memang tipe pria yang romantis, selain sering mengabari dan meminta Gika selalu bercerita kegiatannya di tiap malam, sudah tiga hari ini Gama rutin mengiriminya bunga juga makan siang.
"So sweet banget calon pacar" tidak juga, mereka sebenarnya tidak ada pembicaraan kesana. Gika menerima sebuket bunga lagi hari ini, beserta kotak makan siang yang selalu rutin Gama kirimkan.
"Tapi kok doi gak pernah keliatan?" Mila sudah kenal Gama, pria itu pernah kemari dan mengobrol lumayan lama.
"Kerja lah" jawab Gika pendek, seperti apa yang Gama jelaskan. Katanya pekerjaannya sedang banyak dan dia pun sedang repot mengurus urusannya yang lain.
"Kemarin ada yang nyariin kamu, tapi kamu kan kemarin di restoran." Ucap Mila, mereka sedang duduk di salah satu meja menikmati makan siang.
"Siapa?" Seingatnya, Gika tidak ada janji bertemu dengan siapa-siapa.
"Itu loh, yang katanya pernah satu kampus sama kamu."
"Theana?" Mila mengangguk, aneh. Padahal dia mungkin bisa menelponnya saja
"Dia mau apa? Pesen tiramisu lagi?" Thea memang suka sekali memesan banyak tiramisu disini.
"Enggak, katanya mau ngomong. Aku tanya ada apa, dia enggak jawab." Gika mengangkat bahunya, sejak mengenalkannya dengan Gama, sejak hari itu pula Theana tidak lagi ia tau kabarnya. Wajar lah, dulu juga mereka tidak benar-benar akrab.
Gika pulang agak lebih cepat dari biasanya, bukan tanpa alasan. Sore tadi Gama mengiriminya pesan, salah satu temannya ada yang ulang tahun dan Gama meminta Gika menemaninya.
Gika sangat butuh proses pendekatan ini, maka dengan senang hati Gika memang mengiyakan ajakan itu tanpa pikir dua kali.
Gika mengenakan dress berwarna hitam, Gama bilang acaranya diadakan di salah satu kelab. Sebenarnya Gika tidak terlalu suka ke kelab sejak lulus kuliah, sejak sibuk bekerja, pernah beberapa kali di awal-awal ia stress memikirkan perceraiannya.
Aneh memang, Gika mencoba tetap waras dengan mendatangi keramaian dan bersenang-senang dengan Mila hari itu. Sampai Bara marah dan menyeretnya pulang, padahal tidak ada yang terjadi. Gika juga tidak mabuk, tidak di ganggu dan tidak menganggu orang lain. Bara saja yang berlebihan. Bara, entah bagaimana kabarnya karena Gika tidak tau. Mungkin masih di Paris. Karena Bara memang bilang dia dapat hadiah bulan madu ke Paris dari ayahnya.
Tenang, Gika sudah mengiriminya list oleh-oleh lumayan panjang sampai membuat Bara kesal sendiri karena merasa di repotkan.
Gama menjemputnya pukul delapan malam, ia di sambut oleh Gauri. Dan jujur saja agaknya Gika melihat Gauri menanggapi dingin kedatangan Gama. Ia tidak banyak bicara juga hanya sesekali tersenyum. Padahal Gama sudah sangat sopan dan ramah menyapanya.
"Jangan pulang terlalu malam" Gika mengangguki ucapan mamanya, dia memang tidak ada niat pulang lewat dari jam dua belas.
"Gika akan aman sama saya kok tante" ucapan Gama hanya diangguki Gauri, agaknya reaksi Gauri ini berbanding sangat jauh ketika ia berbincang dengan Aric.
Aric? Kenapa harus mengingat pria itu? Hampir saja moodnya rusak.
_____
Teman Gama adalah wanita yang malam ini berulang tahun ke dua puluh sembilan, Gama bilang dia adalah teman SMA sekaligus tetangga apartment nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
BORN TO BE OVERLOVE ✓
RomansaI can smile because we're together, i can cry because it's you. So what can't i do? - smile flower
