Keynara Florencia, seorang siswi SMA, harus menghadapi kenyataan pahit setelah melakukan kesalahan fatal bersama pacarnya, Ryder Valentine Vincent, ia hamil.
Saat Keynara mengusulkan untuk menggugurkan kandungannya, Ryder menolak dan berjanji akan m...
“Terkadang semua akan pergi saat kita sedang membutuhkannya.” — KEYNARA FLORENCIA.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di depan kalender Key sedang melihat tanggal jadwalnya untuk mengecek kandungannya yang beberapa hari ini mulai terasa aktif. Entah kenapa hari ini berbeda dengan yang lainnya. Mungkin karena ini adalah hari pertama dirinya mengecek kondisi kehamilan nya setelah kepergian Ryder.
"Kamu masih di situ, ayo siap-siap." Entah sejak kapan Jevan berdiri di ambang pintu, menatap adiknya yang terasa begitu sedih namun kenapa bisa Key menyembunyikan kesedihannya dengan senyuman.
Kadang senyuman adalah hal terbaik untuk menyembunyikan kesedihan kita. Mungkin juga Key sedang melakukan itu juga.
"Entar Bang, masih pagi juga. Lagian bang Jevan nggak ada pekerjaan apa?" Key mengambil baju yang akan ia pakai dari dalam lemari.
Jevan duduk di tepi kasur Key. "Nggak, Abang hari ini gak masuk kerja karena mau nemenin adiknya ke dokter buat periksa kandungan," Tiba-tiba Key terhenti saat mendengarkan ucapan Jevan tadi. Hatinya seperti terketuk dari luar. Jevan berhasil membuat hatinya yang keras ini mulai terguncang.
"Tapi bang, Key udah ada janji sama temen-temen Key buat periksa kandungan, gimana dong?" Ket berfikir keras, bagaimana caranya agar keluar dari rumah ini. Apalagi Salma melarangnya keluar setelah hari itu, hari dimana ia tahu jika dirinya sedang mengandung.
Jevan tetap dengan pendiriannya. "Gak, abang tetep mau ngantar kamu hari ini ke dokter kandungan. Titik gak pake koma!" tentu saja Jevan tidak akan menyerah apalagi hal ini.
Keynara menghela nafas mendengar penuturan Jevan. Kakaknya ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Apalah, apa daya seorang adik kecil terhadap kakaknya yang lebih dewasa dan berkuasa.
"Tapi bang---"
"Gada tapi-tapi, kalo masih mau ngebantah yaudah, mulai sekarang jangan anggap abang sebagai abang kamu lagi," nada bicara nya seolah-olah sedang marah, namun kenyataannya nggak sama sekali. Key bahkan tak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Jevan.
"Udah bang, muka nya jangan ke gitu. Udah kek nahan berak aja," gelak tawa Key pecah saat mengatakannya. Jevan hanya menatap dingin adiknya ini. Benar-benar laknat.
****
"Ayo bang lama banget dehh, itu udah ditunggu sama sopir taksinya!" teriak Key sudah sejak tadi meneriaki Abangnya yang tak kunjung keluar dari rumah, padahal udah daritadi Key berada dalam mobil taksi.
"Aduhh lama banget nih manusia yang satu ini, semoga masih sempet buat periksa soalnya mau ke gramed!" seru Key melihat beberapa list buku yang tertulis di handphonenya.
Bughh... Terdengar suara pukulan dari dalam rumah Key. Suara pukulan serta beberapa barang terdengar jelas di dalam telinganya.
"Suara apa itu?" karena ketakutan dan juga penasaran, buru-buru Key turun dari mobil taksi meninggalkan tas di dalam mobil. Secepat mungkin berlari melihat ke dalam rumah.