BAB 33. SORE MENEMANI RINDU

71 17 0
                                        

“Setiap saat, setiap menit, setiap detik, pikiran dan hatiku masih tertaut dengan nama-Mu, hanya namamu seorang.”
— KEYNARA FLORENCIA.

“Rindu itu berat.”
— JEVANO ORION BAGASKARA.

Semilir angin mampu membuat dedaunan kering jatuh dari tangkainya, tapi kenapa angin belum bisa membawa rindu kepada-Nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semilir angin mampu membuat dedaunan kering jatuh dari tangkainya, tapi kenapa angin belum bisa membawa rindu kepada-Nya.

Gadis cantik itu sedang menatap langit sore, matahari yang tidak terlalu terik mampu membuatnya nyaman dan berlama-lama di tempatnya.

Dia, Keynara Florencia. Gadis yang sedang merindukan kekasihnya yang tak kunjung pulang dari luar negeri. Menempuh pendidikan namun janjinya belum ia tetapi. Akankah dirinya berjuang dengan kesendirian.

"Sendiri mulu?"

Keynara menoleh, melihat siapa yang datang.

"Bang Jevan," tengoknya melihat Jevan datang membawa secangkir teh.

"Kenapa? Gak biasanya kamu di sini."

Key masih menatap langit, tidak ada rasa untuk menjawab pertanyaan kakaknya, ia pasti tau jika ia sekarang sedang menggalau.

Jevan menyodorkan cangkir teh yang ia bawa pada Key. "Minum dulu, jangan terlalu keseringan melamun. Ingat kamu sedang berbadan dua."

Setelah mengatakan itu Jevan langsung pergi dari situ, meninggalkan Key yang tampaknya masih betah. Tak ingin diganggu.

"Bagaimana sayang?" tanya Salma dari balik dinding saat putranya baru datang.

"Begitulah Ma, Jevan gatau mau ngapain. Mungkin Key butuh waktu sendiri," sahut Jevan, tak ingin terlalu ikut campur namun demi kebaikan adiknya.

"Yo wes kamu masuk ke dalam dulu, Mama mau nyamperin adikmu dulu, siapa tau dia mau cerita sama Mama."

Salma tengah berjalan mendekati Keynara, anak bungsunya. "Sayang kamu ngapain di sini?" Senyum Salma langsung menyapa wajah cemberut Key.

"Mama? Kok udah pulang." Key sedikit kaget, melihat Salma pulang lebih cepat dari sebelumnya.

Salma tertawa mendengarnya, apalagi wajah Key terlihat menggemaskan di mata dirinya.

"Kenapa memang, kamu gak seneng kalo Mama pulang cepat?"

Key menggeleng, ia tidak bermaksud begitu. "Gak Ma, maksudnya Key. Kok tumben Mama cepat pulangnya, biasanya kam pulangnya larut malam!"

Salma duduk di samping Key. "Ouh gitu, kebetulan Mama ambil cuti beberapa hari ini karena mau nemenin anak kesayangan Mama," seru Salma memeluk anaknya, Key.

Key makin terkejut mendengar penjelasan Salma. "Maksud Mama?"

"Iya kamu gak salah denger, Mama ambil cuti karena kamu lagi hamil sekarang, apalagi udah deket ujian nasional kan? Biar kamu ga terbebani sekali, makanya Mama mau nemenin anak Mama yang cantik ini," sambil bercanda.

"Tapi gak usah Ma, Key bisa sendiri juga kok," Dirinya merasa membebani ibunya sekarang, bagaimanapun juga sudah cukup banyak Ibunya berkorban untuk dirinya.

Salma mengelus rambut anak gadisnya, "Gausah gaenak sama Mama,"

Key hanya bisa tersenyum kaku.

****

"Ayah gak habis fikir sama kamu."

"Kok bisa kamu ngelakuin itu. Anak setan memang."

"Ayah udah mati-matian kerja buat kamu sekolah biar kamu bisa banggain ayah nantinya tapi apa? Kamu malah buat ayah malu."

Laura hanya bisa terdiam di sofa sambil mendengarkan ceramah ayahnya. Ia benar-benar takut sekarang, siapapun itu tolong Laura sekarang.

"Mulai sekarang semua yang aset papa, mulai dari HP, ATM, mobil dan yang lain bakal ayah sita!"

"Tapi Yah?" Laura tak bisa jika semuanya di sita, apalagi HP nya.

"Ayah gamau denger penolakan! Ini akibatnya karena kamu telah melakukan kesalahan yang sangat fatal. Dan bisa menjadi pembelajaran selanjutnya buat kamu!"

Tegas Ayah Laura, ia tak ingin jika Laura kedepannya berbuat tak baik kepadamu seseorang yang ia benci. Lebih baik ia melakukan semua ini, toh nantinya dia bakal sadar dengan sendirinya.

"Kamu juga gak bakal keluar rumah selama satu minggu lebih, ayah udah sewa penjaga buat jaga kamu."

"Baik Yah," jawab Laura dengan tatapan lesu, masih tak menyangka jika satu minggu kedepannya adalah maut yang bakal membuatnya bosan.

****

Bau makanan sudah tercium wangi sejak tadi, hingga siapa saja yang menghirupnya bakal merasa lapar. Di dapur terlihat dua perempuan sedang memasak. Salma dan Aruna, mereka sedang memasak untuk makan malam nantinya.

"Ma, ini makanannya sudah matang."

Salma melihat sayur asem kesukaannya. "Wahh, yaudah kamu pindahkan di mangkok, Mama mau manggil Key sama Jevan dulu."

"Gausah Ma," jawab Keynara, sejak kapan dia berdiri di sana.

"Kamu ngapain di situ Key?"

"Lagi liatin Mama memasak sama calon kakak ipar aku," balasnya mampu membuat Salma tersenyum begitupun dengan Aruna yang pipinya sudah memerah akibat pujian Key.

"Kalo begitu tolong panggilin abang kamu, suruh makan."

"Siap Ma!" kata Key, sambi hormat lalu berjalan ke kamar Jevan. Salma geleng-geleng kepala melihat tingkah laku anak bungsunya itu.

****

Setelah makan bersama, Jevan bersiap-siap mengantar Aruna pulang, sedang Key tengah bersandarkan kepala pada Mama nya, menonton TV.

"Mama, Key. Aruna mau pamit pulang dulu," Aruna berdiri pamit pulang.

"Owhh kamu sudah mau pulang, kenapa nggak bermalam aja?" ujar Salma, memperbaiki posisi ya.

"Lain kali aja Ma, lagian kasihan kalo Raya di tinggal sendiri," alasan Aruna.

Key dan Salma mengangguk pelan membenarkan. Fyi, Raya adalah kucing kesayangan Aruna, sudah lama Aruna memelihara Raya dan menganggap Raya adalah adiknya sendiri.

"Yaudah Ma, Key. Jevan pamit yah antarin Aruna pulang."

"Iya hati-hati di jalan sayang," Salma.

"Iya Ma," Jevan lalu menyalimi punggung tangan Salma begitupun Aruna. Key tersenyum melihat mereka berdua.

Ahmad fitrah | 03 November 2024

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ahmad fitrah | 03 November 2024.

Hai, mood gue lagi bagus keknya. Mumpung weekend juga.

Saran dong, endingnya nanti mau gimana apa sad ending aja gak yah? Atau happy?

Sekian, terima vote.


S.M.A [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang