22. Retak?

579 72 15
                                        

Shani dan Gio sedang berjalan di lorong sekolah yang mulai sepi, langkah mereka bergema pelan di sepanjang lorong. Waktu sudah menjelang sore, sekolah untuk hari ini sudah usai karena itu hanya terlihat beberapa siswa yang sepertinya masih ada kepentingan lain, entah itu ingin berkumpul dengan teman lebih lama lagi, dipanggil guru, atau menghadiri ekstrakurikuler.

Shani sendiri sudah tidak ada kepentingan, tidak ada kumpul OSIS atau ekstrakurikuler karena memang Shani sudah tidak aktif lagi dalam dua hal itu. Dia sudah kelas tiga, dimana lebih fokus belajar. Sedangkan Gio sepertinya tidak ada kegiatan lain.

Hari ini mereka memiliki janji untuk pulang bersama, janji yang Gio usulkan saat hari dimana pengajian memperingati kematian Papih Shani terjadi. Pria tinggi yang berjalan di sebelah Shani dengan tenang yang meminta Shani pulang bersama dengannya, setelah selesai kelas Gio bahkan menunggu Shani yang harus mengurus beberapa hal dulu tadi.

Shani merasa aneh, dia merasa canggung apalagi memang suasana hatinya sedang tidak baik karena kejadian di kantin. Melihat Gio bersama Dey saat di kantin sempat membuat Shani ingin menghindar dan membatalkan janji ini, hampir sepanjang kelas akhir tadi dia memikirkan hal ini, tapi pada akhirnya dia lebih memilih menepati janjinya untuk pulang bersama.

Dia pikir itu akan menghilangkan rasa tidak enak hatinya, tapi nyatanya sekarang dia menyesal. Dia melirik ke arah samping, ia hampir menghelakan nafasnya dengan kencang melihat Gio yang diam saja. Pria di sampingnya ini belum berbicara lagi padanya, hanya berjalan menatap lurus ke depan, seakan sibuk sendiri dengan dunianya.

Gio tidak seperti biasanya, dia diam saja padahal biasanya ada banyak yang Gio ceritakan. Tentang tingkah konyol teman-temannya di kelas, tentang adik kecilnya di rumah, atau sekedar basa-basi membahas akhir pekan dan berakhir mengajak Shani main.

"Hahh..." Keluh Shani dan tanpa dia sadari itu terlalu kencang, lalu menarik perhatian Gio.

"Kenapa?" Tanya Gio sambil menoleh ke arah Shani yang sedang menatap ke bawah dengan wajah yang Gio tahu itu sedang kesal.

"Nggak, aku tiba-tiba kepikiran beberapa tugas yang sulit" Bohong Shani lalu mengangkat wajahnya dan memasang senyuman, setelah itu tidak ada jawaban dari Gio, apalagi Gio hanya mengangguk dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dengan cepat Shani mengubah senyumannya dengan ekspresi masam, "Kamu lagi banyak tugas juga gak? Apa ada yang susah? Feel free loh kalau kamu mau tanya" Lanjut Shani mencoba memancing Gio lagi.

Gio menoleh ke arah Shani lagi, "Bukannya kamu juga ada tugas yang sulit?" Tanya Gio. Shani asing dengan ini, dengan situasi dan percakapan yang tidak ada nyawanya sama sekali, tidak ada sama sekali rasa antusias dari Gio.

Shani memalingkan wajahnya ke arah lain, dia jadi malas juga dengan Gio. "Iya sih, yaudah deh" Balas Shani, dia memilih untuk diam tak lagi berusaha sendirian menciptakan topik. Dia benar-benar pasrah saja terjebak dalam kondisi canggung sampai nanti rumah dan ini pertama kalinya dia merasa ingin cepat-cepat sampai saat pulang bersama Gio.

Namun, ditengah rasa kesal Shani, terasa sebuah usapan lembut pada puncak kepalanya. Spontan Shani menoleh ke arah Gio, dia mendapati Gio sedang mengusap rambutnya dan tersenyum manis ke arahnya. Tiba-tiba saja dia merasakan sebuah kehangatan disini, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya dan tanpa sadar dia ikut tersenyum juga.

"Capek ya? kerjain pelan-pelan aja. Nanti aku bawain roti favorite kamu, gimana? Atau sekarang aja mampir dulu ke toko?" Tutur Gio lalu secara perlahan usapan di puncak kepala Shani hilang, tapi senyuman untuk Shani masih ada.

"Boleh, kalau gak ngerepotin" Balas Shani, senyuman di antara mereka semakin mengembang. Mereka sedikit mempercepat langkahnya menuju parkiran dan kecanggungan yang sebelumnya perlahan hilang, walaupun tetap Shani masih harus berusaha dua kali lipat dari biasanya.

Jejak Rasa [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang