Di kamar yang terasa sepi, Shani termenung di tepi tempat tidur. Matanya menerawang ke arah jendela, menembus tirai tipis yang menghalangi pandangan ke arah luas. Di luar, angin bertiup lembut, tapi tidak mengusir rasa sesak yang terus dia rasakan di dadanya.
Pikirannya benar-benar gusar, rasa khawatir dan rasa bersalah terus menghantuinya. Semakin terasa mengganggu saat sore hari tadi diberi kabar jika Chiko sampai harus dirawat, pemeriksaan juga harus dilakukan dan itu terdengar cukup serius. Pikiran-pikiran negatif terus saja datang secara bergantian, kemungkinan-kemungkinan buruk yang ia takutkan akan terjadi.
"Seharusnya ini gak terjadi, seharusnya aku gak melibatkan Chiko" Gumam Shani dengan lirih, bibirnya bergetar hebat yang kemudian dia gigit untuk menyembunyikan rasa khawatirnya. Semenjak tadi sore, dia memang tidak habisnya menyalahkan diri sendiri, dia merasa jika saja dirinya menerima Chiko, semua ini tidak akan terjadi. Jika saja dia tidak melibatkan Chiko sedari awal, semuanya tidak akan berakhir seperti ini.
Nasi sudah menjadi bubur, sekarang Shani hanya menerima perasaan bersalah yang sangat mengganggu, bagaimanapun juga alasan Chiko sampai berbuat sejauh itu tidak lain adalah dirinya.
Lalu tentang Gio. Dia tak tahu bagaimana harus menghadapi Gio esok hari, dia tahu menyalahkan Gio itu tak sepenuhnya benar, hanya saja dia sedikit kecewa karena Gio diam saja seolah sengaja membiarkan Chiko dipukuli oleh Gracio.
Tentang perasaannya, Shani sudah menyerah tentang itu. Selama ini dia banyak memberi jalan untuk Gio, memberi sinyal dan terbuka tentang perasaannya. Entah apa yang Gio mau, dia benar-benar tak paham, apalagi tentang perasaannya pada Dey. Awalnya dia pikir itu tidak masalah, hanya sebatas rasa kasihan saja, tetapi melihat bagaimana Gio sama sekali tidak meliriknya saat bersama Dey, dia merasa takut.
Takut jika ternyata dia salah tentang perasaan Gio padanya, dia juga terlalu takut jika harus menjadi yang pertama melangkah, bagaimana jika perasaan pada Gio yang tumbuh di dalam dirinya justru menjadi luka baru untuknya? Dia merasa dirinya memang pengecut untuk itu.
Ternyata luka sebelumnya berdampak sebesar ini–lebih dalam dari yang dia kira. Rasa takut untuk melangkah lebih dulu dan sepenuhnya mempercayai cinta yang lain perlahan menjalar seperti racun yang tidak terlihat. Semakin hari, luka itu semakin tumbuh, dan tanpa sadar membentuk dinding tinggi di sekeliling hatinya.
Shani tahu bahwa luka dan ketakutan ini tidak sepenuhnya salah Gio. Dia sadar semua ini berasal dari masa lalunya, dari perasaan ditinggalkan dan dikhianati yang masih melekat erat. Tetapi dia tidak bisa mengabaikan kesalahan Gio, dengan segala ketidakpastiannya. Itu membuat Shani harus menghadapi rasa sakit yang coba disembunyikan selama ini.
Dia menghelakan nafasnya cukup kencang, tanpa sadar hari sudah semakin larut. Tubuhnya sudah terasa sangat lelah, apalagi matanya yang sedikit bengkak karena menangis juga semakin berat. Shani mencoba melupakan tentang Chiko maupun Gio untuk malam ini, dia ingin ketenangan. Dia membawa tubuhnya berbaring di tempat tidur, masuk ke dalam selimut untuk mencari kehangatan.
"Semoga besok aku bisa memperbaiki semuanya" Gumam Shani sambil memejamkan matanya, mencoba memasuki dunia mimpi walau tetap kepalanya sangat berisik.
**
Sesuai arahan dari Pak Akbar, hari ini Pak Budi mengumpulkan siswa dan para orang tua yang terlibat dalam kejadian kemarin. Terlihat Gio bersama dengan Toni, duduk bersebelahan dan berseberangan dengan Shani dan Ve. Sedari awal bertemu, Ve dan Toni sudah berbicara tentang banyak hal, tapi sayangnya Gio dan Shani tidak. Sekarang saja Shani memilih menatap ke arah lain, padahal Gio sudah banyak curi-curi pandang ke arahnya.
Selain mereka berdua, orang tua Gracio yang mewakili Gracio juga Dey ada disana. Tinggal menunggu perwakilan dari Chiko saja yang belum datang. Mereka terduduk cukup tenang, walaupun tenang, tapi ketegangan terasa disini, apalagi tatapan tak bersahabat dari keluarga Gracio dan Dey yang sudah Toni dan Ve coba hindari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jejak Rasa [TAMAT]
FanfictionBagaimana rasanya mencintai dalam diam? Mungkin satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah Gio. Dia dengan segala pertimbangan di kepalanya memilih memendam rasa pada sang kakak kelas saat dia masih SMP. Rasa yang dia kira akan pudar saat...
![Jejak Rasa [TAMAT]](https://img.wattpad.com/cover/374929891-64-k506246.jpg)