d u a : he's crazy.

6 0 0
                                    

Ibra datang tepat waktu.

Pria itu masuk dengan membawa kantong plastik berisi nasi goreng yang tadi sempat dia beli.

Begitu masuk kedalam rumah, matanya langsung melihat Jeihan dan Nata yang duduk di ruang tamu. Ibra juga melihat Jeihan sedang meminum teh yang pastinya itu buatan adiknya.

"Assalamualaikum," Ucap Ibra memberi salam.

Nata pun menoleh dan menjawab. "Waalaikumsalam, Mas."

Melihat Ibra datang Jeihan bangkit lalu memberi salam ala laki-laki yang biasa Nata lihat. Entahlah, cara mereka memberi salam sama persis ketika teman kantor kakaknya main ke rumah.

"Gimana kabar lo, Han? Sehat?" Tanya Ibra lalu berjabat tangan.

Jeihan menggangguk. "Well, kayaknya gue bisa lebih tenang dari sebelumnya. Bisa tidur nyenyak." Ujarnya lalu tertawa.

"Oh ya jelas, disini bukan daerah konflik, gue jamin lo bisa ngorok sepuas lo." Sahut Ibra meledek.

"Sialan lo!"

Tak ingin mendengarkan obrolan yang tidak Nata paham sama sekali. Gadis itu memilih beranjak pergi.

Lagipula masih Nata sedang banyak pesanan buket bunga artifisial yang baru masuk tadi pagi. Daripada mendengarkan kakaknya dan temannya mengobrol lebih baik menyeselaikan pekerjaannya saja.

"Ya udah, Mas Ibra kan udah balik aku ke kamar dulu ya Mas. Mau ngerjain pesanan buket dulu, mau diambil besok pagi soalnya." Ucap Nata yang langsung berlalu menaiki tangga tanpa menunggu jawaban dari Ibra.

Kedua laki-laki itu saling tatap namun Jeihan mengangkat bahu tanda tidak tau. "Gue berani sumpah demi apapun. Gue ngga apa-apain adik lo."

Bohong!

Padahal Jeihan tau jika Nata pasti sedang jengkel karena candannya beberapa waktu lalu.

Ibra menggadikan bahu, lagian siapa juga yang sedang menuduh Jeihan aneh-aneh. Ibra tertawa lalu menyuruh Jeihan untuk duduk lagi.

"Jadi gimana nih, gue penasaran banget kenapa lo bisa mutusin buat pensiun padahal masa bakti lo masih panjang, Raden Jeihan Abisetya Maguworo." Tutur Ibra memulai pembicaraan.

Lagipula bukannya Ibra menentang keputusan Jeihan, hanya saja jiwa bebas seperti Jeihan tidak mungkin memutuskan sesuatu tanpa berpikir panjang.

Apalagi ini mengenai karir. Dunia intelijen sudah mereka geluti sejak umur awal 20 tahunan dan sekarang mereka sudah masuk kepala tiga. Bisa dibilang hampir setengah hidupnya dan Jeihan diabdikan pada pekerjaan.

Jeihan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. Sebenarnya itu pertanyaan yang mudah dijawab namun justru mengingatkan kembali pada bulan-bulan lalu dimana dia mencoba berpikir jika keputusannya tidaklah salah.

"Hanya mungkin cuma ini keputusan terbaik," Ujar Jeihan. "Lo tau ayah gue punya perusahaan manufaktur yang cukup oke lah. Juga punya cabang yang cukup banyak. Tapi ayah gue udah mulai tua. Harusnya Mas Jenderal yang meneruskan posisi ayah, cuma lo tau sendiri kalo kakak gue udah punya rumah sakit milik dia sendiri. Jadi mau ngga mau gue juga yang harus gantiin posisi ayah gue."

"Jadi ini ceritanya lo yang bakal jadi CEO Mahawaru Group?" Tanya Ibra.

Jeihan mengangguk. "Gue sebenarnya ngga punya skill dalam berbisnis. Tapi dari gue SMA sampe kuliah gue udah dikasih guru privat buat ngajarin khusus tentang dunia bisnis. Cuma ya berhenti setelah gue memutuskan buat masuk jadi anggota intelijen."

Memang keluarga Maguworo itu bukan sembarang keluarga. Bahkan keluarga ayah Jeihan saja masih mewarisi darah biru. Dari buyut sampai cicit tidak ada yang kekurangan satupun. Justru malah mempunyai keturunan yang sempurna dan tampan seperti Jeihan dan kakaknya.

R A D E NTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang