2

434 43 5
                                        

Pagi itu, suasana di ruang makan terasa hangat. Gita, dengan piyama merah muda yang masih kusut, menyantap roti panggangnya sambil sesekali memandang ke arah kakak-kakaknya. Gian duduk di sebelahnya, sibuk memeriksa ponselnya, mungkin membaca pesan dari teman-temannya di sekolah.

“Gita, pelan-pelan makannya,” tegur Feni lembut sambil menyodorkan segelas jus jeruk.

Gita mengangguk sambil tersenyum kecil, meskipun roti di tangannya hampir habis dalam satu gigitan besar. Gracia tertawa kecil melihat tingkah adiknya, lalu melirik ke arah Shani yang baru saja duduk di kursi kepala meja.

“Ci Shani, apa ada masalah di kantor?” tanya Gracia.

Shani tersenyum tipis, menatap adik-adiknya bergantian. "Tidak ada yang serius, hanya beberapa laporan yang perlu aku selesaikan. Tapi... aku merasa aneh pagi ini."

"Aneh kenapa, Ci?" Gian ikut menimpali, meletakkan ponselnya di meja.

Shani menggeleng pelan. "Entahlah, mungkin hanya perasaanku. Tapi kalian semua harus hati-hati, terutama Gita dan Gian."

Ucapan Shani membuat ruangan itu sesaat hening. Gita berhenti mengunyah, memandang kakaknya dengan bingung. "Kenapa aku juga, Ci?"

“Karena kalian yang paling sering keluar rumah tanpa pengawasan,” jawab Shani sambil tersenyum kecil untuk menenangkan suasana.

Gracia melirik jam tangannya, lalu berdiri. “Aku harus pergi. Ada jadwal operasi pagi ini. Gian, jangan lupa antar Gita ke sekolah, ya.”

Gian mengangguk, tapi tatapannya tetap curiga pada Shani. Ia tahu kakaknya tidak berbicara sembarangan, dan firasat buruk Shani biasanya tidak pernah salah.

Setelah sarapan, suasana rumah perlahan menjadi lebih sepi. Gracia pergi ke rumah sakit, Feni ke restorannya, dan Shani ke kantor pusat perusahaannya. Gian dan Gita akhirnya keluar bersama, menuju sekolah mereka.

Di perjalanan, Gian mengendarai motornya sambil sesekali melirik ke arah Gita di jok belakang. “Tadi malam kamu kenapa, Git? Kelihatan gelisah banget.”

Gita diam sejenak sebelum menjawab, “Aku mimpi ada orang yang mencoba masuk ke rumah kita, Kak. Orang itu pakai topeng dan bawa sesuatu, tapi aku nggak tahu apa.”

Gian terdiam, pikirannya kembali ke ucapan Shani tadi pagi. “Mungkin itu cuma mimpi, tapi kalau ada apa-apa, langsung kasih tahu aku, ya.”

Gita mengangguk, tapi perasaan gelisah itu tidak kunjung hilang dari benaknya.

---

Sementara itu, di kantor Shani, seorang pria tak dikenal datang dengan sebuah paket besar yang ditujukan langsung kepadanya. Asistennya menerima paket itu dengan ragu, lalu membawanya ke ruang Shani.

“Bu Shani, ada kiriman ini untuk Anda,” kata asisten itu sambil meletakkan kotak berwarna hitam di meja.

Shani mengerutkan kening. “Dari siapa?”

“Saya tidak tahu, pengirimnya tidak mencantumkan nama.”

Shani menatap kotak itu dengan curiga. Instingnya mengatakan ada sesuatu yang salah. Dengan hati-hati, ia membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah boneka kecil yang tampak biasa saja, namun di tangan boneka itu terikat secarik kertas dengan tulisan besar:

“Kami tahu segalanya. Keluargamu tidak aman.”

Mata Shani melebar. Tangannya bergetar saat membaca pesan itu. Ia segera menghubungi Feni dan Gracia, memberi tahu mereka untuk waspada.

---

Di sekolah, Gian dan Gita menjalani hari mereka seperti biasa. Namun, saat jam istirahat, Gian merasa ada seseorang yang mengawasi mereka dari kejauhan. Ia mencoba mengabaikan perasaan itu, tapi ketika mereka pulang, seorang pria tak dikenal tampak berdiri di sudut jalan, memperhatikan mereka.

“Kak, itu siapa?” bisik Gita, menggenggam tangan Gian erat.

“Entahlah,” jawab Gian, mencoba tetap tenang. Namun, ia segera menarik tangan Gita dan mempercepat langkah mereka menuju rumah.

Ketika mereka tiba di rumah, Gian langsung mengunci pintu dan memeriksa semua jendela. Hatinya penuh dengan kecemasan, terutama setelah mendengar firasat Shani tadi pagi.

Malam itu, semua anggota keluarga kembali berkumpul. Shani akhirnya menceritakan tentang paket misterius yang ia terima, sementara Gian menceritakan pria mencurigakan yang ia lihat.

“Ada yang mencoba mengancam keluarga kita,” ujar Shani dengan suara tegas. “Kita harus lebih berhati-hati mulai sekarang.”

Semua anggota keluarga mengangguk, meskipun ketegangan terasa jelas di udara. Namun, jauh di luar rumah mereka, seseorang mengawasi dari kejauhan, memastikan setiap langkah keluarga Adijaya selalu dalam pantauannya.

Misteri itu baru saja dimulai.

















Maaf yah mungkin agak aneh cerita nya dan ada yang gak nyambung  mungkin chapter berikut nya author usahain lebih baik
















Sekian dari saya
#MahadayaGita
#gitaoshi

MUSUH DALAM SELIMUTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang