Hallooooooooo
Lanjut
00:30:12 – Rumah Sakit Militer (Listrik Masih Padam)
Gracia menenangkan Gita dalam gelap, sementara Gian memegang pisau bedah yang ia ambil dari meja alat medis. Suara langkah mendekat. Tapi sebelum mereka mencapai pintu, tiba-tiba.
BRUKK!
Pintu terbuka dan masuklah Shani dan Feni, wajah mereka tegang. “Kami sempat lacak sinyal ke sini,” ujar Shani cepat. “Cepat pindah! Tempat ini udah nggak aman!”
---
Di dalam Mobil Evakuasi – 00:26:44
Dalam perjalanan cepat ke tempat aman, Gracia membuka tas dokumen kecil milik ayah mereka yang ia simpan sejak lama—tersimpan rapat di laci rumah utama, kini ia bawa setelah ancaman muncul. Ia keluarkan foto lusuh bertanda waktu.
Gita tertidur kembali di pangkuannya.
“Ini semua... ada hubungannya dengan masa lalu Ayah,” kata Gracia perlahan.
Gian menoleh. “Maksud Ci Gre?”
Gracia menatap Shani, lalu perlahan mulai menjelaskan:
---
Flashback – 20 Tahun Lalu
Ayah mereka, Ardian Adijaya, adalah seorang pengusaha muda jenius. Namun di balik kesuksesannya, ia tergabung dalam sebuah organisasi rahasia yang dikenal dengan nama "Mata Ketiga"—kelompok elit yang mengendalikan jaringan ekonomi, politik, dan militer dari balik layar.
Ardian awalnya hanya ingin melindungi keluarganya dan membangun kejayaan Adijaya Group. Namun organisasi itu mulai menjalankan misi-misi yang melibatkan manipulasi, kekerasan, dan penghilangan nyawa. Ardian menolak ikut dalam satu misi penting—melenyapkan seorang pengkhianat internal yang ternyata adalah sahabat lamanya.
Tempat: Markas Tertutup Organisasi Mata Ketiga, Jam 01:15 Dini Hari
Langit malam gelap tanpa bintang. Di sebuah gedung bawah tanah yang tersembunyi di balik lereng pegunungan, seorang pria berdiri mematung di depan meja besar penuh dokumen rahasia, peta militer, dan foto-foto target. Pria itu adalah Ardian Adijaya, ayah dari Shani, Feni, Gracia, Gian, dan Gita.
Wajahnya keras, tetapi sorot matanya tajam dan lelah. Seorang pria berseragam hitam masuk dan meletakkan map di mejanya
“Targetnya siap dieliminasi. Kau hanya perlu tanda tangan ini, Ardian.”
Ardian membuka map itu. Matanya membelalak—foto target yang harus dihabisi adalah Sudarmaji, sahabat masa kecilnya yang dulu menyelamatkannya dari ledakan bom saat di medan tempur bisnis gelap mereka lima tahun lalu.
“Ini… salah. Dia bukan pengkhianat,” desis Ardian.
“Perintah tetaplah perintah. Kau bukan siapa-siapa di sini selain eksekutor. Sudarmaji melanggar kode. Jika kau menolak, kau tahu risikonya.”
Ardian meremas surat itu, menatap rekan setimnya dengan sorot tajam.
“Kalau membunuh sahabat sendiri adalah syarat loyalitas… maka aku memilih jadi pengkhianat.”
Keesokan paginya, Ardian menghilang dari organisasi. Ia membawa serta semua data, rekaman, dan nama-nama pemimpin organisasi. Ia membangun kehidupan baru—perusahaan besar yang kelak menjadi Adijaya Group, menikahi istrinya, dan membesarkan anak-anak mereka dalam dunia yang seolah damai.
Tapi di balik semua itu… Ardian terus diawasi.
---
Beberapa Tahun setelah nya
Hari itu langit Jakarta mendung. Ardian dijadwalkan menghadiri pertemuan penting dengan investor asing. Mobilnya melewati jembatan besar di selatan kota. Shani, yang saat itu baru berumur 8 tahun, memandangi mobil ayahnya dari balkon rumah dengan penuh semangat—ia sempat ingin ikut, tapi ditolak dengan senyuman sayang.
Lalu...
“DUAARRRR!!”
Ledakan keras mengguncang udara. Asap hitam membumbung ke langit. Mobil ayah dan ibu mereka terbakar, tak bersisa.
Polisi menyatakan itu kecelakaan karena kebocoran bahan bakar. Tapi Shani tahu ayahnya selalu memeriksa semuanya.
Gracia, yang masih kecil saat itu, mengingat jelas ibunya berkata lirih di pelukannya:
“Ayah kalian... tidak mati karena kecelakaan. Tapi karena kebenaran.”
Dan sebelum ibu nya meninggal, ibunya menitipkan pesan ke shani,“Jika mereka datang kembali, lindungi adik-adikmu. Karena mereka tidak mencari uang… mereka mencari darah.”
---
Kembali ke Masa Kini – diDalam Mobil
Gracia menahan tangis, menatap keluar jendela. “Ayah kita meninggal karena memilih menyelamatkan nyawa orang lain. Karena menolak jadi boneka kekuasaan.”
Shani menambahkan, “Dan sekarang, mereka yang dulu memburuh ayah,kembali memburu kita.”
Gian mengepal tangannya. “Kalau begitu, aku mau jadi seperti Ayah. Nggak akan pernah tunduk sama siapa pun.”
Feni menatap mereka, lalu tersenyum kecil penuh kekuatan. “Kita nggak akan mundur. Keluarga Adijaya bukan hanya berdiri di atas darah, tapi juga keberanian.”
Penolakannya dianggap sebagai pengkhianatan.
DiMobil – 00:22:01
Shani mengangguk pelan. “Mereka bukan hanya ingin menghancurkan kita, mereka ingin membalaskan dendam lama.”
Feni mengepal tangannya. “Dan mereka tahu... satu-satunya cara menghancurkan keluarga Adijaya adalah lewat ketakutan dan kehilangan.”
Gian menatap foto ayahnya. “Kalau begitu, ini bukan cuma tentang bertahan hidup. Ini tentang mengakhiri siklus itu.”
Shani menatap mereka satu-satu, lalu berkata tegas:
“Malam ini, kita lawan mereka. Bukan sebagai target… tapi sebagai keluarga.”
Cerita semakin gak jelas
Vote and komen
Sekian
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSUH DALAM SELIMUT
Teen FictionAda suatu cewek yang dimanja oleh empat saudaranya dan seseorang yang mengincarnya
