6

169 28 10
                                        

Hallooooooooooo















































































Maaf cerita nya pendek
Authornya masih belum
Mahir 😮‍💨


















































































Masih di Ruang Kerja – Beberapa Menit Setelah Video

Shani, Feni, dan Gracia berdiri mematung, menatap layar laptop yang menampilkan video rekaman Gita kecil yang sedang tertawa di taman. Tapi senyum mereka lenyap saat melihat satu detail yang membuat darah mereka membeku—kamera bergerak pelan… memperlihatkan seorang pria bertopi yang berdiri terlalu dekat dengan Gita, tangannya memegang sesuatu… sejenis alat pelacak kecil yang dengan cepat diselipkan ke dalam boneka beruang Gita.

“Ya Tuhan…” bisik Gracia. “Mereka sudah menanam pelacak.”

Shani langsung berdiri dan berteriak, “Gian! Cek boneka Gita sekarang!”

Tak butuh waktu lama, Gian muncul sambil membawa boneka teddy bear kesayangan Gita. Dengan hati-hati, ia merobek sedikit bagian punggung boneka itu—dan benar saja, sebuah chip pelacak tertanam di sana. Matanya menyala penuh kemarahan.

“Berarti… mereka bisa tahu semua lokasi kita,” desis Gian sambil mengepalkan tangan. “Dari dulu…”

Feni langsung melempar chip itu ke lantai dan menginjaknya dengan keras. “Kita harus pindahkan Gita ke tempat aman. Mereka jelas mengincar dia.”

Gracia menggenggam tangan Shani. “Kita tak bisa tunggu lebih lama. Aku punya akses ke rumah sakit militer—tempat itu dijaga ketat. Gita bisa tinggal di sana sementara.”

Shani mengangguk. “Tapi kita nggak bisa pisah. Kalau mereka bisa membobol rumah kita, mereka bisa masuk ke mana pun.”

---

Beberapa Jam Kemudian – Perjalanan ke Rumah Sakit Militer

Gita tertidur di pelukan Gracia di kursi belakang mobil lapis baja milik Shani. Gian duduk di sebelahnya, berjaga dengan tongkat bisbol dan pisau kecil di balik jaketnya. Di mobil terpisah, Feni dan Shani sedang memantau jalur GPS dan komunikasi radio.

Semua tampak tenang… sampai Shani melihat satu hal mencurigakan di layar monitor:
“Mobil tak dikenal mengikuti dari jarak 200 meter. Plat nomor… tidak terdaftar.”

“Feni, kita harus pisah jalur sekarang. Ini jebakan,” ucap Shani cepat.

Feni langsung mengaktifkan protokol pengalihan, membuat mobil Gracia berbelok ke jalan alternatif yang aman. Sementara Shani dan Feni melambatkan laju mereka untuk memancing si pengejar.

---

Di Mobil Gracia

Gian melihat jalanan mulai sepi dan gelap. “Kita harus sampai secepatnya.”

Namun belum sempat mereka melaju lebih jauh, suara alarm mobil berbunyi—ban belakang mereka meletus.

“Siapa pun itu, mereka udah tanam jebakan,” ujar Gracia panik.

Gian keluar dari mobil, mengamati sekeliling. Hening. Tapi… dari balik semak-semak, terdengar suara langkah cepat.

“Ci Gracia, jaga Gita!” teriak Gian sambil bersiap dengan tongkatnya.

Seorang pria bertopeng melompat dari semak dan menyerang Gian. Mereka bergulat di tanah, saling menghindar dan menyerang. Gian sempat terkena pukulan di bahu, namun ia membalas dengan memukul lutut lawannya hingga jatuh.

Gracia yang melihat semua itu langsung menekan tombol darurat di mobil—sinyal untuk meminta bantuan.

---

Sementara Itu – Shani dan Feni di Jalur Pengecoh

Mobil mereka berhasil membuat mobil pengejar berhenti di tengah jalan. Namun, tak lama kemudian, Shani menerima pesan suara anonim.

“Gagal kali ini, tapi masih ada waktu. Kami akan tetap ambil satu dari kalian. Mulai hitung mundur…”

01:00:00

Timer di layar ponsel menyala. Satu jam tersisa.
Pilihan harus dibuat… atau salah satu dari mereka akan diambil secara paksa.
















"Yang minta doble  udah nih"
Vote and komen
Sekian

MUSUH DALAM SELIMUTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang