Halloooooooooooo
Ada yang nunggu?
00:59:00
Timer terus berjalan. Di ruang kontrol mobil, Shani menatap layar dengan napas memburu. Feni menggenggam setir erat, berusaha menjaga kendali meski jantungnya berdetak tidak karuan.
“Kita harus temukan markas mereka sebelum waktu habis,” desis Shani. “Aku nggak akan biarkan mereka ambil siapa pun.”
Feni mengangguk. “Kita punya alat pelacak yang ditanam di laptop Gracia, mungkin mereka nggak tahu itu. Aku bisa pakai sinyal umpan.”
Shani langsung menyetujui. “Umpan itu kita arahkan ke arah hutan utara, biar mereka pikir kita sembunyi di sana.”
---
Di Mobil Gracia – 00:55:02
Gian terengah-engah, berdiri dengan luka kecil di pipi dan tangan berdarah. Pria bertopeng itu melarikan diri saat suara sirene patroli terdengar di kejauhan—sinyal darurat dari Gracia dijawab dengan cepat.
Gita masih tertidur, tak tahu betapa dekatnya tadi ia dengan bahaya. Gracia memeluknya erat, lalu menatap Gian. “Kamu terluka…”
“Aku nggak apa-apa. Yang penting Gita aman,” jawab Gian.
Ambulans khusus dari rumah sakit militer tiba, dan Gracia serta Gita segera masuk ke dalamnya. Gian tetap berjaga di depan, tak memercayai siapa pun.
---
00:47:08 – Kembali ke Shani dan Feni
Sinyal umpan berhasil—kamera drone mereka memperlihatkan tiga mobil gelap bergerak ke arah hutan utara. Tapi itu hanya sementara.
Ponsel Shani kembali berbunyi. Kali ini… panggilan video.
Shani ragu sejenak, lalu mengangkatnya.
Wajah pria bertopeng muncul di layar, dengan latar belakang gelap dan samar terlihat simbol aneh di dinding—lambang berbentuk segitiga dengan mata di tengahnya.
“Kalian pikir bisa menipu kami?”
“Kami tahu Gita sudah dipindahkan. Tapi ingat, ini bukan hanya tentang dia. Ini tentang kalian semua.”
Feni maju ke layar. “Siapa kamu?! Apa salah kami?”
Pria itu tertawa dingin. “Ini bukan tentang kesalahan. Ini tentang balas dendam… karena dulu, ayah kalian pernah mengkhianati seseorang yang tak seharusnya dikhianati.”
Shani tersentak. “Apa maksudmu? Ayah kami sudah meninggal puluhan tahun lalu!”
“Tepat. Dan kematiannya bukan kecelakaan… melainkan permulaan.”
Lalu layar mati. Timer menyala lebih terang.00:40:00
---
Di Rumah Sakit Militer
Gita akhirnya terbangun, matanya perlahan terbuka. Ia melihat wajah Gracia yang tersenyum lembut meski lelah. “Dedek di mana?” bisiknya.
“Dedek aman, sayang. Bersama Ci Gre dan Kak Gian. Nggak ada yang boleh nyakitin Dedek,” jawab Gracia.
Tapi di luar ruangan, dua penjaga rumah sakit mulai bersikap aneh. Salah satu dari mereka melirik ke arah kamera, dan sesaat kemudian… listrik di lantai itu mati.
---
00:35:38
Gian langsung bangkit. “Ada yang salah.”
Gracia menggenggam Gita, wajahnya pucat. “Jangan bilang mereka sudah masuk ke rumah sakit ini…”
Gian membuka pintu perlahan. Lorong sepi. Lampu hanya menyala beberapa kali lalu mati lagi—pertanda bahwa sistem sedang diretas.
Dan dari ujung lorong, suara sepatu menghantam lantai menggema.
Seseorang… atau sesuatu… datang mendekat.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Siapakah pelakunya?
Tunggu part selanjutnya oke
Vote and komen
Sekian 😎
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSUH DALAM SELIMUT
Fiksi RemajaAda suatu cewek yang dimanja oleh empat saudaranya dan seseorang yang mengincarnya
