Ada yang masih ingat cerita ini
Maaf baru up
---
semakin larut, namun keluarga Adijaya masih terjaga. Shani duduk di ruang kerja dengan rahang mengatup, matanya terpaku pada layar laptop yang masih menampilkan email anonim tadi. Gracia berdiri di belakangnya, tangan mengepal di sisi tubuhnya.
“Apa maksudnya ‘pilih siapa yang ingin kamu selamatkan’?” gumam Gracia.
Shani menghela napas panjang. “Seolah-olah mereka ingin kita mengorbankan salah satu dari kita.”
Feni yang baru saja masuk ke ruangan langsung menegaskan, “Tidak ada yang akan dikorbankan. Kita akan cari tahu siapa dalang semua ini.”
Shani memijat pelipisnya. “Kita harus lebih hati-hati. Aku akan meminta bantuan seseorang untuk melacak pengirim email ini.”
Gracia mengangguk, lalu menoleh ke arah pintu. “Aku mau cek Gita dan Gian. Aku khawatir mereka nggak bisa tidur dengan semua yang terjadi.”
---
Di kamar Gita dan Gian, suasana lebih tenang, tapi tidak dengan pikiran mereka. Gian duduk bersandar di tempat tidur, memandangi ponselnya dengan tatapan tajam. Sejak pesan ancaman pertama, ia mulai mencari informasi tentang siapa saja yang bisa menjadi musuh keluarga mereka.
Gita, yang meringkuk di bawah selimut, berbisik, “Kak, kita bakal baik-baik aja, kan?”
Gian menoleh ke adiknya, lalu mengusap kepalanya pelan. “Iya, Dedek. Aku nggak akan biarin siapa pun nyakitin kita.”
Tiba-tiba, ponsel Gian bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Lihat jendela.”
Jantung Gian berdegup kencang. Dengan gerakan hati-hati, ia melirik ke jendela kamar mereka. Seketika, darahnya membeku. Di luar, seseorang berdiri di bawah lampu taman, mengenakan hoodie hitam dan masker, menatap langsung ke arah kamar mereka.
Gian langsung menarik Gita ke dalam pelukannya, menjauhkan adiknya dari jendela. “Jangan lihat, Dedek.” Suaranya terdengar tegang.
Gita yang merasakan perubahan sikap kakaknya ikut merapat, jantungnya berdegup kencang. “Ada apa, Kak?” tanyanya pelan.
Gian menelan ludah, lalu melirik ke jendela lagi. Sosok itu masih berdiri di sana, tidak bergerak, hanya menatap tajam ke arah mereka.
Tanpa membuang waktu, Gian meraih ponselnya dan menghubungi Shani. “Ci Shani! Ada orang di luar rumah! Dia berdiri di bawah jendela kamar kami!”
Tidak butuh waktu lama, suara langkah kaki terdengar dari koridor. Pintu kamar mereka terbuka dengan cepat, menampilkan sosok Shani, Gracia, dan Feni yang terlihat tegang.
“Di mana?” tanya Shani cepat.
Gian menunjuk ke jendela. Namun, saat mereka semua melihat ke luar, sosok itu sudah menghilang. Hanya bayangan pepohonan yang bergoyang pelan tertiup angin malam.
“Dia ada di sana tadi!” kata Gian frustrasi.
Feni segera berlari ke ruang keamanan untuk mengecek rekaman CCTV. Gracia menenangkan Gita yang mulai gemetar ketakutan, sementara Shani mencoba menghubungi petugas keamanan rumah mereka.
Beberapa menit kemudian, Feni kembali dengan ekspresi serius. “Aku lihat rekamannya. Ada seseorang di luar, tapi anehnya… saat dia meninggalkan halaman rumah, dia menghilang begitu saja. Seperti bayangan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Gian mengepalkan tangannya. “Aku nggak suka ini, Ci. Rasanya mereka cuma main-main sama kita.”
Shani memejamkan mata sejenak, lalu berkata dengan tegas, “Besok kita akan meningkatkan keamanan lebih jauh lagi. Aku juga akan mencari tahu siapa musuh kita. Kalau mereka pikir kita akan menyerah, mereka salah besar.”
---
Keesokan Harinya
Gita merasa gelisah sepanjang hari. Di sekolah, dia merasa terus diawasi. Setiap kali menoleh, selalu ada sepasang mata yang mengamatinya dari kejauhan. Gian juga merasakan hal yang sama. Bahkan, Kevin—siswa baru yang kemarin memperingatkannya—kini bersikap lebih aneh.
Saat jam istirahat, Kevin kembali menghampiri Gian. “Aku udah bilang untuk hati-hati, kan?” katanya dengan nada santai, tetapi matanya menyiratkan sesuatu.
Gian menatapnya tajam. “Apa yang kamu tahu?”
Kevin tersenyum kecil. “Bukan apa yang aku tahu, tapi siapa yang aku kenal.”
Gian semakin curiga. “Maksudmu?”
Kevin mendekat, lalu berbisik, “Mereka sudah semakin dekat. Hati-hati, Gian.”
Sebelum Gian sempat bertanya lebih jauh, Kevin sudah pergi begitu saja, meninggalkan pertanyaan yang semakin bertumpuk di kepala Gian.
---
Di Tempat Lain
Di dalam sebuah ruangan gelap, pria bertopeng yang tadi malam mengawasi rumah keluarga Adijaya menatap layar ponselnya. Sebuah pesan masuk:
"Waktunya bergerak. Buat mereka tahu kita tidak main-main."
Pria itu tersenyum tipis, lalu mengetik balasan singkat.
“Mengerti. Malam ini, mereka akan mendapat kejutan.”
---
Malam itu, rumah keluarga Adijaya diteror kembali. Kali ini, bukan hanya sekadar bayangan di luar jendela… tetapi sesuatu yang lebih nyata dan mengancam.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Siapa sebenarnya musuh keluarga adijaya?
Sekian dari saya (kalo ada salah kata/typo mohon dimaafkan karna bukan manusia kalo tidak ada salah )
Komen and vote
KAMU SEDANG MEMBACA
MUSUH DALAM SELIMUT
Fiksi RemajaAda suatu cewek yang dimanja oleh empat saudaranya dan seseorang yang mengincarnya
