5

159 27 9
                                        


"Hallooooooooo"



























































































"Ceritanya dibawah"




































































































































































Malam Itu – Rumah Keluarga Adijaya

Jam menunjukkan pukul 01.47 dini hari ketika listrik di seluruh rumah padam tiba-tiba. Semua ruangan langsung gelap gulita, menyisakan keheningan yang mencekam. Alarm keamanan berbunyi nyaring beberapa detik, lalu... senyap.

Shani terbangun dengan jantung berdebar. Ia segera mengaktifkan senter dari ponselnya dan berlari ke kamar Gracia dan Feni. “Kita diserang,” ucapnya tegas.

Gracia yang sudah bersiap langsung mengambil tas medis daruratnya. “Gita dan Gian harus diamankan dulu.”

Sementara itu, Gian yang juga terbangun, langsung menarik Gita dan menyembunyikannya di balik lemari rahasia yang hanya mereka sekeluarga tahu. “Jangan keluar sampai aku bilang, ya,” bisiknya.

Gita mengangguk kecil, matanya basah, tapi ia mencoba kuat.

Gian mengambil tongkat bisbol di bawah tempat tidurnya dan bersiap di depan pintu. Beberapa langkah terdengar di lantai bawah. Pelan. Berat. Sengaja dibuat terdengar.

Gracia dan Feni sudah berada di koridor, saat suara pecahan kaca terdengar dari arah dapur. Shani memberi isyarat diam, lalu membuka laci di lorong rahasia dan mengeluarkan pistol kecil milik ayah mereka yang dulu diajarkan padanya untuk keadaan darurat.

“Gracia, kau lindungi Gita. Feni ikut aku,” perintah Shani.

Feni mengangguk. “Kita harus tahu siapa yang masuk.”

Saat mereka menuruni tangga dengan hati-hati, cahaya dari lampu taman tiba-tiba menyala kembali. Namun alih-alih menenangkan, cahaya itu justru memperlihatkan sesuatu yang membuat darah mereka dingin—di dinding ruang tamu, terpampang tulisan merah besar:

SATU HARUS MATI.”

Feni memekik pelan. Shani memandangi tulisan itu dengan rahang mengeras.

“Creeaak…”

Pintu belakang perlahan terbuka… dan sosok bertopeng yang sama dari tadi malam masuk perlahan. Namun kali ini, dia tidak sendiri. Dua orang lain dengan penutup wajah ikut masuk dari bayangan malam.

Shani mengangkat pistolnya. “Berhenti. Satu langkah lagi, dan aku tembak.”

Salah satu dari mereka tertawa pelan. “Kalian tidak Tahu permainan Apa yang Sedang kami mainkan, Nona ceo.”

---

Di Atas, Gian Bersiap

Gian memantau dari lantai atas dan segera mengirim sinyal ke Gracia bahwa mereka butuh rencana B. Gracia mengetik cepat:
"Panggil bantuan, aktifkan sistem penguncian darurat. Aku lindungi Gita."

Gian membalas:
"Hati-hati, Ci. Kalau perlu, aku akan turun."

---

Di Ruang Tamu

Salah satu penyusup mulai mendekat. Feni, dengan ketenangannya, melemparkan botol parfum kaca ke arah musuh sebagai pengalih. Shani menembak ke udara—tembakan peringatan. Mereka mundur sejenak, lalu pria bertopeng itu berkata pelan:

“Permainan baru dimulai. Kami akan ambil satu dari kalian. Pilih… atau kami yang pilih.”

Kemudian, mereka melempar sebuah flash drive kecil ke lantai sebelum kabur ke dalam kegelapan.

Shani bergegas menutup semua pintu dan mengaktifkan sistem keamanan baru. Ketika mereka membuka flash drive itu, sebuah video mulai diputar…

Video itu menampilkan Gita di taman bermain, beberapa minggu lalu. Tapi... yang merekam jelas bukan dari dalam rumah. Mereka telah diawasi sejak lama.



























Cerita nya makin gak jelas hehe
Vote and komen
Sekian

MUSUH DALAM SELIMUTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang