Gerungan garang mobil terdengar memasuki halaman sekolah mencuri perhatian, berputar mengitari [ Name ] berdiri. Amat mengesankan saat mobil balap merah yang terbilang jadul itu mengepot sampai asap keluar dari gesekan roda, dan aspal. Pemiliknya mahir mengendarai. Bisa dikatakan dia telah menyatu dengan mobilnya.
Kap mesin, atap, fascia, dan disepanjang sisi mobil berkelir livery klasik. Garis putih sebagai ciri khas mobil dengan kecepatan kuda Mustang. Termasuk detail nomor balap. Autentic dengan ribuan watermark menempel ditiap titik badan mobil. Seolah itu memang milik seorang pembalap mobil dunia.
[ Name ] melongo, rahangnya jatuh karena kagum, menebak-nebak mobil siapa? "Dibilang kampungan sama kamu udah termasuk pujian, pup [ Name ]~" Mobil berhenti, kaca terbuka perlahan mendapati ternyata Satoru yang menyapa dari dalam mobil.
Mobil tadi miliknya, wow.
"Jangan menuduh, mulutku tak sekasar itu bilang kampunga --Tunggu!!!" [ Name ] melotot. Satoru memanggilnya pup? Nama depannya Puppis, oke.
[ Name ] jadi kesal. Ia jarang, hampir tak pernah merasa sejengkel ini. Dua detik, tiga, empat, lima, menit sampai jam semakin lama waktu mengenal Satoru, semakin sering pula [ Name ] berekspresi. Ia enggan sadar. Seperti jiwa kelam itu nekat memahami bagaimana emosi bekerja, bukan mau hiperbola. Rasanya memang begitu.
[ Name ] mendengkus, bergumam, "aku membenci nama depanku."
Satoru mendengarnya, nama depan [ Name ] imut. Ada bintang dengan nama Zeta puppis, ratunya cocok gunakan nama itu, sungguh.
Meanwhile [ Name ]. Memikirkan penyebab papa memberi nama puppis, mengingat betapa sering ia pup? Kemungkinan benar. Bukan pengisi waktu luang, bukan pula fomo yang dianggap sebagai kebiasaan lucu. Padahal dunia medis berkata, keseringan be'ol bisa jadi penyakit. [ Name ] tak ambil pusing, tubuhnya memang sakit-sakitan.
[ Name ] membalas tatapan kuat Satoru. "Kau benar-benar tidak membiarkanku menolak ajakanmu, Satoru. Mengapa?"
"Tidak ada alasan. Aku hanya bersumpah setia menunggumu selama tiga tahun, asal kamu tau. [ Name ]." Satoru mempertegas, terdengar tak akan melepaskan bayangan [ Name ] sekalipun.
[ Name ] terkesiap, matanya tersirat keraguan. "kita baru bertemu. Jangan buat aku percaya mimpi."
Salah satu ujung bibir Satoru terangkat tinggi, menyeringai. "[ Name ] mulai inget ya?"
[ Name ] menautkan alis tak paham, Satoru segan menanggapi empu yang membutuhkan banyak jawaban, dan malah menepuk tempat duduk disebelahnya. "Naik sini."
[ Name ] termenung, jahat sekali bingungnya tak dianggap penting. Ia merunduk setelah membuka pintu mobil, turut menempatkan diri seperti yang Satoru titahkan, sembari menelisik tata letak beberapa komponen mobil balap yang baru pertama ia naiki, entah keluaran tahun berapa menilik penampilannya yang kuno.
[ Name ] membelai sabuk pengaman untuk dikaitkan ke wadahnya. "Aku kaget kau punya mobil seperti ini, Satoru. Unik," lontar [ Name ] masih kagum.
"Rongsokan ini? Yah, aku memungutnya dari mantan pembalap yang kini pensiun. Kondisinya masih bagus, sayang kalo dibuang. Terlebih aku dapatnya gratis," terang Satoru mengedipkan satu mata. Mengelus lembut setir yang dia genggam dari tadi.
Oalah gratisan. [ Name ] terkekeh. "Jangan bilang rongsokan, mobil ini pencapaian bagi pemiliknya. Kukira kau seorang pembalap juga, Satoru. Tak semua orang bisa drifting haha."
Satoru mengangkat dagunya tinggi, bersikap arogan. "Itu teknik sederhana. Mustahil aku tidak mampu," sombongnya.
Ah tengil. Yang dikatakan teman-temannya mengenai Satoru, benar. Bagaimana mereka menahan kesal tidak mengaada-ada, cowok ini punya segudang cara bikin siapapun naik darah. Gas diinjak, kecepatan mobil balap itu berada di tingkat paling tinggi setelah melaju melewati gerbang sekolah, menyisakan kepulan debu yang tanpa sadar menubruk wajah Suguru bertubi-tubi.
"Di tinggalin nih!!!!" Sungut Suguru. Dia pulang sekolah selalu bersama Satoru. Berhubung hari ini tuan muda Gojo mengantar [ Name], alhasil dia ter luntang-lantung didepan gerbang. Tak lama terdengar knalpot motor menghampiri, berhenti di depannya, menyapa kegundahan yang melanda.
Penunggang melepas helm full facenya, lantas berseru, "kau merasa diselingkuhi. Suguru?" Nanami mengatakan itu tanpa dosa.
Suguru mencebik. "Diselingkuhi bijimu kotak. Aku ngga bisa pulang."
"Bagaimana dengan jalan kaki, sekalian joging?" Tawar Nanami, menilik ketua utama kesiswaan hanya berkutat dengan dokumen tanpa peduli kesehatan. Kantung mata Suguru mengatakan betapa sering dia begadang, dan kurang olahraga. Satu kali setelah bertahun-tahun Nanami tak menghisap nikotin saja membuatnya sekarat.
Jika bukan paksaan Satoru untuk rencana menemui ratu tawanannya, Nanami tidak sudi menghisap cerutu. Hidupnya sangat sehat.
"Mansion klan Gojo sekitar empat kilometer jauhnya. Kau menyuruhku joging nyampe sana, Nanamin? Tidak adakah niat untuk memberi tumpangan," racau Suguru. Kepekaan Nanami hanya tentang kebugaran tubuh, dia sampai lupa tengah membawa motor.
Nanami diam termenung. Sesaat setelahnya mengulurkan helm lain pada Suguru. "Oh iya, " balasnya datar.
▄▄▄▄▄▄▄
"Uso deshou? Tojing menahanmu dipenjara bawah tanah klan?"
Tangis berhenti, wajah cantik nan mungil sedikit pucat yang tadinya menelungkup diantara kedua lutut kini terangkat, menyipitkan mata pandangi dengan intens remaja seumurannya yang tengah menatapnya terkejut. Lewat cahaya temaram gadis itu tau dia anak laki-laki berambut putih, seorang albino?
"Kamu siapa, aku siapa?"
Baru kemarin [ Name ] menenggak paracetamol khusus dari Toji, lihatlah sekarang... [ Name ] benar-benar telah kehilangan ingatannya.
Albino menatap miris, kasian. Membuka pintu jeruji besi di depannya kemudian mendekat, menghampiri [ Name ] yang bersimpuh tak berdaya dilantai. Menelisik teliti keseluruhan tubuh gadis itu; kulit putih penuh cemong, dekil, dan terdapat luka sobekan disudut bibir yang masih hangat akan darah, jangan lupakan lebam dipipi.
Albino merobek ujung kemeja putih yang di kenakannya, hendak dia gunakan untuk menyeka darah dibibir [ Name ] "Siapa yang menamparmu?" Tanyanya menuntut.
"Itu a-aku merasa melupakan semuanya. Dan-" [ Name ] menunjuk takut pria bersurai biru panjang dengan jahitan diwajah. Tampaknya kutukan yang turut ditahan sebagai tawanan, perwujudan kebencian umat manusia. "Dia selalu menggangguku. Kumohon, pindahkan tempatku," pinta [ Name ].
Albino terenyuh mendengar permintaan [ Name ]. "Kau minta pindah. Bukan dibebaskan?"
"Jangan mengasihani penjahat. Aku sadar melakukan kesalahan, dan berakhir ditahan. Aku hanya meminta pindah ke ruangan lain," terang [ Name ]. Polos sekali. Apa mungkin, seseorang jadi sangat bodoh saat kehilangan ingatan?
Penjara memanglah tempat penjahat. Sesaat setelah [ Name ] terbangun, dan mendapati dirinya mendekam dalam jeruji besi ia berasumsi telah melakukan tindak criminal tak termaafkan, dulunya. Maka dari itu [ Name ] pasrah di tahan.
Walau jejak ingatan itu tidak ada sama sekali.
Albino menggertakan gigi getir, tersenyum kecut dengan perasaan geram, marah, dan sedih bercampur membuatnya tak dapat memikirkan hal logis. Dia mengeluarkan sisa plester luka dari saku celana, lantas menempelkannya pada luka [ Name ].
"Bukan... kau, bukan penjahatnya." Albino memekik lirih menahan gelora asing yang entah kesedihan atau tunas kepuasan menyadari betapa lucu keadaan ini.
Tawa kutukan yang berada tak jauh dari mereka menggelegar seram. "Aku menyebutmu gila, tuan muda Gojo. Bersedih bukan candu HAHAHA!!!"

KAMU SEDANG MEMBACA
𝐇 𝐄 𝐀 𝐕 𝐄 𝐍.
Fanfic𝗙𝗔𝗡𝗙𝗜𝗖𝗧𝗜𝗢𝗡 𝗛𝗔𝗥𝗗 𝗟𝗘𝗩𝗘𝗟 ┈┈┈┈┈┈ ▼𝖯𝖾𝗋𝗀𝗂, 𝖽𝖺𝗇 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗐𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗀𝗂𝗇𝗒𝖺 𝖯𝗎𝗉𝗉𝗂𝗌 [ 𝖭𝖺𝗆𝖾 ] 𝖺𝖽𝖺𝗅𝖺𝗁 𝗉𝖾𝗅𝖺𝗇𝗀𝗀𝖺𝗋𝖺𝗇. Obsesi Satoru berubah liar tak terkendali. Dia ingin melihat tempat terakhir bagi [ Na...