𝙃𝙚𝙖𝙫𝙚𝙣-𝗍𝖾𝗇.

62 8 3
                                    

Kebisingan murid memenuhi koridor-koridor SMA Jujutsu Tokyo, sarangnya pemburu roh terkutuk berbakat. Menjadikan akademi itu pilihan terbaik untuk pengguna muda teknik kutukan di era modern. Salah seorang wali kelas berwajah jahat, namun berbudi luhur... beliau, Pak. Masamichi Yaga –bapak-bapak berumur kepala empat dengan tubuh atletis mencerminkan betapa sehat dirinya dimasa tua, tengah meremat dahinya pening.

"Yare...yare~. Apa aku gagal membina anak muridku, cara mereka berteriak terdengar tidak asing."

Pagi-pagi sekali kerusuhan terdengar diluar kantornya. Tak dapat dipungkiri, akan selalu ada murid serampangan dalam lingkup sekolah sehebat apapun.

"ATAS DASAR APA ANGGOTA PERWAKILAN SISWA MELAKUKAN KONSPIRASI, JAWAB?" Utahime berteriak menuntut, setelah Shoko menceritakan kejadian yang dia alami kemarin, kemungkinan.

Utahime tidak menyangka, Suguru yang sempat ia pilih jadi kandidat patner untuk memburu kutukan dilapangan ternyata kriminal

"Konspirasi apa, kau mabuk?" Suguru membalas seraya menutup dua telingannya malas.

Utahime masih mengoceh berisik memotong gerombolan adik kelas yang hendak berburu ilmu pengetahuan kala matahari menyingsing tinggi. Mei-mei menghampiri, kemudian menghempaskan tubuh Utahime menjauh, jika tidak moncong gadis itu akan terus memberi sumpah serapah sampai wajah lawan bicara banjir air liurnya.

"Bejat sekali. Ku dengar dari Shoko kalian sempat menahannya karena tau dia teman pertama [ Name ]? Tujuannya juga [ Name ], dia syarat utama Shoko dilepaskan. Pulang bareng? Jangan bercanda kalian pasti berbuat macam-macam pada [ Name ]. Terutama Kau, Satoru. Apa hubunganmu dengan [ Name ], jujur atau tubuhmu kami potong jadi dua." Mei-mei menginterograsi, begitu detail pertanyaanya karena penasaran.

Mewakili Satoru, Suguru maju satu langkah mendekati Mei-mei. "Balasan apa yang menguntungkanmu ketika kami jujur?" Tabiat buruk selalu di sembunyikan oleh siapa saja, tak terkecuali siswi dengan kemampuan sihir nyaris setara dengan Satoru.

Mei-mei menyipitkan matanya. "Tidak ada niat jahat apapun, Suguru. Tindakanku murni karena [ Name ] temanku," balasnya.

"Teman?" Suguru terkekeh. "Sejak kapan kau mau berteman, bukankah hubungan sosial sama dengan buang-buang waktu bagimu?"

Alasan mengapa Mei-mei tidak suka Suguru, cowok itu terlalu peka. Serapat apapun Mei-mei menutup tujuannya, Suguru selalu tahu lewat hal kecil yang dia kenali. "Angkuh. Sadarlah asumsimu tidak selalu benar. Hanya karena kau tau sedikit, bukan berarti berhak menaruh orang lain dibawah kendalimu," tekan Mei-mei sembari memberi jari tengah.

Suguru menghentakan dua bahunya. "Kenapa tidak? Menjauhkan kuman-kuman seperti kalian dari [ Name ] itu tugasku."

"Anjing gila begitu patuh pada tuannya, ya?"

𝗸𝗮𝗮𝗮𝗮𝗸𝗸!!
𝗸𝗮𝗮𝗮𝗸𝗸𝗸𝗸!!!
𝗸𝗮𝗮𝗸𝗸𝗸𝗸𝗸𝗸!!!!

𝙋𝙪𝙠. 𝙋𝙪𝙠. 𝙋𝙪𝙠.

Satoru menginjak sayap-sayap puluhan burung gagak yang mati jatuh berserakan dibelakang Suguru berdiri. Mereka datang atas perintah Mei-mei, jelas. Eksistensi teknik kutukan merepotkan dari gadis itu memaksa Satoru untuk bertindak, juga membunuh sebelum mengacaukan paginya.

Satoru mengangkat dua telapak tangannya menilik beberapa siswa hendak mengerumuni peristiwa adu mulut disana, memberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Lantas merangkul pundak Suguru, menimpali, "banyak hal yang tidak harus kalian ketahui, oke. Statusmu sebagai teman [ Name ] juga demikian, karena jika bukan aku, orang terdekat [ Name ] yang lain harus pergi."

"Euhhh... tidak waras kau Sat," sarkas Utahime sembari memunguti kulit pisang dirambutnya yang menempel. Bukan main. Mei-mei menghempaskannya dengan tenaga dalam sampai dia nyusruk tempat sampah di depan kelas.

𝐇 𝐄 𝐀 𝐕 𝐄 𝐍.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang