[[ FOLLOW DULU YO SEBELUM BACA ]]
Cerita ini mengisahkan sosok pemuda yang pada saat menjelang Ramadhan, ia mengajak Ayah nya liburan bersama sang Kakak. Tetapi ia terjatuh ke jurang karena di kejar-kejar oleh dua orang penjahat.
Pemuda itu di temuk...
Sudah Follow dan Vote belum? Follow dan Vote dulu yo, hehe!
بسم اللّه الرّحمن الرّحيم...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"AAAAA!!!"
Prackk!!
"Astaghfirullah!"
Umi Fatimah yang sedang memegang gelas, tiba-tiba saja gelas itu melesat kebawah karna tiba-tiba seperti ada sesuatu yang menyambar hatinya.
Alhasil gelas itu jatuh dan pecah berserakan di lantai.
"Astaghfirullah, Umi apa yang terjadi?" Tanya Gus Ridho yang datang dengan buru-buru.
"Ada apa, ini?" Tanya Abah Ahmad yang juga datang dengan terburu-buru.
"A-Azzam.. Hiks.." Tangis Umi Fatimah pecah.
Dengan sigap, Abah Ahmad langsung memeluk istrinya itu.
"Umi.. Tenang"
Umi Fatimah menggeleng "A-Azzam, Bah..! Keadaan Azzam gimana?" Tanya nya.
"Tenang, Umi.. Azzam pasti akan baik-baik aja" Ujar Abah Ahmad mengelus-elus puncak kepala istrinya dengan lembut.
"Iya, Umi. Adam, Agam, juga warga yang ada disana pasti akan selalu menjaga Azzam" Ucap Gus Ridho.
"Nggak, nak! Umi mau liat Azzam! Ayo antarkan Umi kesana, sekarang! Hiks hiks.." Ujar Umi Fatimah semakin menjadi.
"Shutt, Umi.. Umi tenang. Istighfar, Umi.." Abah Ahmad semakin erat mendekap istrinya itu.
"T-tapi, Bah.. Putra kita.. hiks"
Tak ada yang bisa Abah Ahmad lakukan kali ini, kecuali terus memeluk istrinya, memberikan ketenangan.
"Maa Syaa Allah, Umi.. Kekuatan batinmu dengan Azzam sangatlah kuat. Padahal Azzam hanya anak adopsi. Pasti kamu sudah menganggapnya anak kandungmu sendiri. Saya jadi nggak tega jika suatu hari nanti Azzam bertemu dengan keluarga yang sebenarnya. Apa kamu akan melepaskannya?" batin Abah Ahmad.
"Ridho, kamu waktu itu kasih ponsel ke Agam, kan? Kenapa gak telpon dia aja" Tanya Abah Ahmad.
"Eh, iya ya, Bah. Ridho lupa. Yaudah, Ridho telpon dulu"
🍁🍁🍁
Agam berhenti berlari disaat sudah sampai di kampung. Di sana terdapat Pak Nasrun, Shafira juga beberapa warga lainnya.
"Huh, huh, huh..!"
"Agam, kenapa?" Tanya Shafira.
"I-itu Mabk.. A-anu.. huh.."
"Agam, kamu tarik nafas dulu, baru ngomong" Ujar Shafira lagi.
Agam pun menurut, ia menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya.