16. COPET DAN HIDAYAH-NYA

64 6 4
                                        

Pencet tombol bintang nya dulu, boleh? maacii
.
.
.

بسم الله الرحمن الرحيم...

"Terkadang, kita menjadi perantara akan hijrahnya seseorang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Terkadang, kita menjadi perantara akan hijrahnya seseorang. Maka janganlah ragu untuk mengambilnya dan mengajak seseorang untuk berbuat kebaikan"

-Ghafir Azzam El Ihsan-

Kini Azzam menemani sang Umi pergi ke pasar.

"Nak, biar cepet, boleh minta tolong belikan Umi wortel?"

"Wortel? Dimana, Umi?" Tanya Azzam menggaruk kepalanya.

"Itu tuh disana, nanti bilang aja beli wortel setengah kilo" Tunjuk Umi Fatimah kepada salah satu penjual.

"O-oke" Azzam pun pergi menuju penjual itu.

Sesampainya di depan sana, Azzam malah celingak-celinguk bak orang bingung. Disana terdapat berbagai macam sayur dan buah.

"Emm yang namanya wortel, yang mana, ya?" pikirnya masih celingukan.

Sang penjual yang melihat nya pun langsung saja bertanya,

"Eh, enek arek ganteng. Arep tuku opo, Le?"

"Eh, emm, kulo ajeng tumbas wortel, Bu. Setengah kilo, nggeh" ucap Azzam dengan gelagat Jawa nya.

"Oalah, nggih. Sekedap ditenggo riyen, nggih"

Ibu penjual itu lalu menimbang wortel sesuai yang akan Azzam beli. Setelah pas, ia masukkan ke dalam kresek dan ia serahkan kepada Azzam.

Azzam pun menerimanya, "Maturnuwun, Bu. Niki artonipun"

"Yo, Le, suwun. Niki arto ne pas, nggih"

"Nggih, Bu. Kulo pamit riyen, Assalamu'alaikum, monggo Bu"

"Wa'alaikumsalam"

"Waduh duh duh,,, wes ganteng, sopan meneh. Idaman... idaman" gumam Ibu penjual seraya melihat kepergian Azzam.

Azzam bergegas menemui Umi nya.

"Umi!" Panggilnya.

Umi Fatimah menoleh, "Gimana? Udah?"

"Alhamdulillah udah ni, Mi" Jawab nya sambil menenteng kresek nya ke atas.

"Pinter, yaudah sekarang pulang, ya. Udah semua belanjaannya"

"Siap"

Umi Fatimah dan Azzam pun berjalan beriringan menuju Pesantren, karena jarak pasar ke Pesantren cukup dekat, jadi mereka jalan kaki saja.

Tanpa disadari, ada seorang lelaki yang berpenampilan layaknya preman, berjalan pelan di belakang mereka, mengawasi setiap gerak gerik yang ada di depannya, mencari waktu yang tepat untuk beraksi.

WHO REALLY ME? (Slow Up)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang