Damar memegang bagian atas anaknya, sedangkan Varrel kakinya. Dengan posisi ini lebih mudah,ditambah perbedaan tenaga yang jauh membuat Zayyan tidak bisa berkutik.
"Tidak apa-apa Zayyan,airnya hanya akan terasa dingin sebentar" Damar menenangkan.
"Ehss,dingin" desis Zayyan saat bagian bawahnya terkena air.
"Kalian!"
Tubuh Zayyan mengambang di udara, berhenti, mendengar suara rendah dari sebrang.
"Kalian apakan anak-ku?" Suaranya kian membuat leher seolah tercekik.
"Ah, seperti yang kamu lihat, memandikannya Sayang" Ucap Damar, diselingi tawa hambar.
"Angkat"
Satu kata itu dengan cepat dilaksanakan.
Yuliana ikut menyusul masuk kedalam karena Damar tidak kunjung keluar. Merasa ada sesuatu yang terjadi pada anaknya, insting seorang ibu memang hebat.
"Maa" Telapak tangan Zayyan menutup muka karena malu.
"Tenang ya sayang,tidak apa-apa" Ucapnya, paham. Mengelus rambut putranya.
Tubuhnya kembali diangkat,digendong menyamping. Telapak tangan Damar yang besar menutupi pantat agar tidak terlalu terekspos.
Yuliana sedikit mengurangi air yang berada di bathtub, kemudian menyalakan keran khusus air panas. Saat dirasa suhunya sudah pas,ia mematikan keran.
"Kalian berdua bapak dan anak sama saja"
"Seharusnya atur dulu suhunya,karena musim ini masih hujan jadi airnya dingin"
"Bedakan dengan diri kalian"
Yuliana terus mengomel.
"Menurutku jika airnya dingin akan terasa lebih segar" Varrel menjelaskan.
Urusan begini dirinya kurang peduli,mandi saja kenapa harus repot. Entah itu menggunakan air dingin,air hangat,air panas,air keras- eh
"Zayyan tidak bisa,dia berbeda dari kalian" Menegaskan sekali lagi.
"Apa kalian lupa jika Zayyan-kita rentan dingin?"
Perkataan Yuliana membuat mereka sedikit terlonjak. Benar, bagaimana bisa mereka melupakannya. Tubuh Zayyan memang rentan terhadap apapun. Tidak kuat dalam suhu dingin,dan tidak tahan juga jika terlalu panas.
Raut wajah Damar dan Varrel nampak datar. Merasa bersalah dan gagal.
"Maafkan papa Zayyan"
"Maafkan kakakmu juga" kedua telapak tangannya menangkap pipi berisi adiknya.
"Tidak apa-apa kak,pa, Zayyan baik-baik saja" balasnya,memegang punggung tangan Varrel yang berada dipipinya.
Tersenyum tipis,ia memang tidak suka dipaksa seperti tadi. Namun, dirinya lebih tidak suka jika melihat keluarganya sedih. Ini bukan salah mereka, salahkan tubuhnya ini yang terlalu lemah.
"Baik,sudah siap. Masukkan perlahan-lahan"
Tubuh polos anaknya Damar letakkan dengan hati-hati hingga masuk sepenuhnya dalam bathub. Airnya tidak terlalu penuh,hanya sampai batas bawah dada.
"Bagaimana?nyaman?" Tanyanya lembut.
"Ya ma" suhunya rasanya sangat pas,mamanya memanglah terbaik.
Yuliana mengusap badannya lembut, telapak tangannya yang basah berisi air sedikit demi sedikit mengguyur rambut anaknya. Badannya kini sudah seratus persen basah.
Rambut bagian depannya terlihat menutupi dahi,matanya pun sampai tidak terlihat. Yuliana menyampirkan poninya ke daun telinga,lalu mengusap wajah Zayyan perlahan, menghindari area mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
ZAYYAN [HIATUS]
General FictionZayyan, seorang remaja yang selalu dikekang oleh keluarganya Selama 16 tahun dirinya tidak pernah merasakan yang namanya kebebasan. Dikekang,diatur, sudah biasa Zayyan rasakan. walau demikian, keluarganya sangat menyayangi Zayyan,putra bungsu keluar...
![ZAYYAN [HIATUS]](https://img.wattpad.com/cover/345744100-64-k796193.jpg)