Bab 22 | Boleh + Info

800 41 8
                                        

Beberapa hari telah berlalu. Zayyan kira ia berada ditempat barunya akan sangat menyebalkan,namun ternyata tidak buruk juga.

Berkat kursi rancangan papanya,ia tidak terkurung dalam ranjang miliknya sepanjang hari. Malahan sejak itu juga gorden yang selalu membuat kamarnya redup kini terbuka lebar.

Ia selalu senang bisa memandang keluar,karena cukup menghibur dirinya, mengusir rasa bosan.

Jika bukan karena sabuk menyebalkan yang mengikatnya,maka akan menjadi lebih baik,dan ia mungkin bisa keluar dari sini. Ini salah satu hal yang ia benci.

Walaupun begitu,ada beberapa hal lain yang ia rasa cukup bagus. Seperti, sandaran kursi terasa sangat nyaman dan empuk. Ia bisa duduk sepanjang hari tanpa merasa pegal dan kebas dipantanya.

Tidak mengapa ia terjebak disini,masih ada poin plusnya.

Zayyan kini duduk anteng dengan strap yang terpasang manis di perut dan dada atasnya. Kakinya yang bebas bergelantungan ria dibawah sana.

Tangannya yang bosan mengetuk-ngetuk meja yang melingkari tubuhnya.

tuk,tuk, tuk-tuk, tuk-tuk, tuk-tuk-tuk.

Hanya bunyi ketukan yang mengisi kesunyian kamar.

Ia dapat menggerakkan tangannya,namun terbatas. Hanya bisa menggerakkan lengan bagian bawah dan mengangkatnya sebatas dada.

Mata Zayyan melebar sejenak, memperhatikan kawanan kelompok burung putih yang terbang bersama-sama. Sayapnya mengepak cepat, terbang di udara.

Sangat indah melihatnya. Jumlah mereka yang banyak membuat formasi burung-burung tampak kompak bergerak seirama,meskipun tidak semua gerakan sayap mereka sama.

"Sam"

"Ya tuan muda?"

"Haus"

Sam mengerti, segera mengambilkan segelas air dan membantu meminumkan ke Zayyan menggunakan sedotan.

Poin minusnya. Apapun ia harus dibantu,misal contoh kecilnya seperti tadi. Ia minum saja harus ada yang membantu mengarahkan gelasnya ke mulut.

Padahal tangannya masih bisa berfungsi dengan baik, kenapa malah diikat seperti ini.

"Perlahan-lahan tuan muda" peringatnya.

"Ini sudah pelan" batinnya.

"Sudah?"

"Ya Sam" rasa haus nya sudah hilang.

Sam mengambil sebuah selimut tebal, ukurannya tidak terlalu besar. Kemudian menyelimuti tubuh Zayyan.

"Anda pasti kedinginan"

Zayyan diam, membiarkan. Toh,ia tidak bisa menolak, lagipula ada benarnya ucapannya.

Hangat.

Jika diingat-ingat, sepertinya ia sudah lama tidak melakukan hobi favoritnya.

Ya, melukis.

Tapi,dengan keadaannya seperti ini?

Lupakan saja,lain kali jika sudah lebih baik ia akan melakukannya.

"Sam"

"Ya tuan muda?"

"Sebelum kamu berada disini apa yang kamu lakukan?"

Daripada tidak ada hal yang bisa dilakukan lakukan,ia mengajak mengobrol dengan Sam.

"Maaf?" Mencoba memahami maksudnya.

ZAYYAN [HIATUS]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang