[16+]
Deovander Tenggara berhasil menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya selama belasan tahun. Namun, ketika kebenaran itu akhirnya terbongkar, orangtuanya justru menjadi pusat dari pusaran tersebut. Fakta-fakta lain juga ikut teruak ke perm...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tasya menekan kuat layar ponsel beberapa kali. Matanya menatap tajam layar tersebut. Dadanya beberapa kali naik-turun, mengatur napas sebaik mungkin. Jemarinya bergerak mengangkat ponsel itu ke telinga, mencoba menghubungi seseorang di sana. Tetapi, lagi-lagi tak ada jawaban dan itu membuat decakan kesalnya memenuhi kamar yang ia tempati bersama Austin.
Suasana kamar itu terasa hampa dan kosong. Bagaikan tak ada kehidupan secara kasat mata, namun kenangan yang tertinggal begitu membekas dalam relung hati. Perbincangan manis mereka masih terdengar jelas di telinga, walau raga Austin tak berada di sini. Perlahan, memori kejadian itu bergulir perlahan dalam pikiran menyebabkan air mata Tasya turun secara tak sadar dari kelopak mata, membasahi pipinya. Dengan cepat, jari manis tangan kirinya itu menghapus cairan sebening mutiara tersebut. Lantaran, ponsel perempuan itu berada dalam genggaman tangan kanan sejak tadi. Dan kini, dadanya terasa penuh layaknya tenggelam dalam lautan usai naik-turun bak lari maraton.
"Kok bisa, sih, kalian tuh? Selama ini, kan, baik-baik aja," kata sang asisten sekaligus manajer Tasya.
"Iya. Malam itu dia tiba-tiba mendadak gak pulang, gak tahu ke mana. Tapi, besoknya pulang. Dia pergi ke kamar, bawa koper. Terus, ya ... pergi. Gak tahu ke mana." Tasya menghela napas frustrasi di sela-sela isakan, sesekali mengacak-acak rambutnya.
Hari ini, perempuan itu kembali bekerja-melakukan photoshoot dengan brand ternama dari Surabaya-sesuai kesepakatan beberapa minggu yang lalu. Karena, kebetulan ia baru saja tiba di Surabaya bersama Austin saat itu. Lagipula, ia sudah rindu bergaya di depan kamera fotografer. Tapi, karena ada masalah mendadak yang menyangkut Austin dan ingin berbincang bersama sang manajer mengenai hal ini, ia meminta jadwal photoshoot sedikit diundur lima belas menit. Beruntung, pihak brand menyetujuinya. Walau alibinya tentu saja bukan mengenai hilangnya sang tunangan, melainkan alasan lain.
"Telepon sekretarisnya coba," saran sang manajer.
"Udah, tapi dia gak tahu Austin ke mana," balas Tasya teringat saat menghubungi Anton, berharap mengetahui keberadaan Austin. Sayangnya, lelaki itu tak tahu ke mana. Hanya memberitahukan, kalau Austin sudah pulang dari kantor, sehari sebelum Direktur Utama Feplants tersebut menghilang semalaman.
"Nyokapnya coba," saran manajer.
"Ah, benar juga lo, Mbak. Tapi sekarang, kan, di sana malam," ujar Tasya sedikit berpikir.
"Yeu, elo mah. Ya ... nanti malam aja berarti. Sekarang, kita harus cap-cus ke studio. Udah ditunggu sama tim," kata manajer menepuk pundak Tasya, lalu berdiri dari duduknya di tepi ranjang seraya membenarkan mini backpack di punggungnya.
"Hm, oke deh," Tasya membalas malas.
Sang manajer menekuk lengan tangan, memperlihatkan ototnya yang tak seberapa terbentuk. "Yang semangat dong."
"Iya. Ayo, deh, berangkat," kata Tasya menyambar slin bag yang tergeletak di nakas. Mungkin, dengan adanya kegiatan photoshoot produk salah satu brand yang bekerja sama dengannya ini, bisa menghapus kegelisahan gadis itu terhadap sang tunangan.