[16+]
Deovander Tenggara berhasil menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya selama belasan tahun. Namun, ketika kebenaran itu akhirnya terbongkar, orangtuanya justru menjadi pusat dari pusaran tersebut. Fakta-fakta lain juga ikut teruak ke perm...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Deolinda mengotak-atik ponsel sembari mengenakan kacamata hitamnya yang ia ambil dari saku jas kemudian menyimpan alat komunikasi itu ke dalam saku jas. Tak lama kemudian, salah seorang sopir kantor datang memarkirkan mobil BMW i8 Roadster abu-abu itu tepat di depan lobi. "Makasih, Pak," ucapnya.
"Sama-sama, Bu."
Keluar dari area Ghibran Corp, mobil sport itu akhirnya membelah jalan raya diiringi teriknya sinar matahari yang sedikit tertutupi oleh rindangnya pepohonan di sebelah kanan-kiri jalan bersama kendaraan bermotor. Selama perjalanan, lagu Fact Check dari NCT 127 menggema di kabin mobil. Sesekali Deolinda menggumamkan lirik.
Tujuannya kali ini pergi ke salah satu restoran yang lama tak ia kunjungi semenjak pergi menempuh pendidikan di Inggris. Belum lagi, perempuan itu sempat berlarut dalam kesedihan. Kemudian, disibukkan dengan pekerjaan setelah menjabat sebagai Chief Executive Officer di salah satu perusahaan multinasional di Surabaya selama satu bulan belakangan. Deolinda sudah rindu dengan tenangnya suasana restoran, lezatnya rasa makanan, serta segarnya minuman. Terlebih, jika itu tentang kenangannya.
Sampai di perkarangan restoran, Deolinda mengambil dompet. Tangannya membuka pintu gunting mobil. Jenjang kaki gadis itu menapak pada permukaan pavingan block disambut dinginnya ruangan dan dedaunan dari bahan daur bekas yang menggantung di dua sisi pintu ketika sudah berada di dalam restoran bernuansa vintage ini.
Gadis itu memilih duduk di salah satu tempat di tepi jendela, menikmati hiruk-pikuk jalan raya siang ini bebarengan dengan helaan napas panjang dan sekelebat bayangan di mana ia menghabiskan waktu bersama Ajisaka di restaurant ini terlintas sejenak. Menghabiskan waktu bersama dengan cerita-cerita ringan disertai canda tawa mampu merubah atmosfer menjadi lebih baik, tidak peduli entah itu hari yang menyenangkan atau sebaliknya. Namun, semua itu hanyalah kenangan sekarang.
"Kak Linda!"
Lamunan Deolinda sontak terbuyar saat itu juga mendengar suara seorang anak yang—langsung dapat ditangkap netra matanya—berpakaian seragam sekolah khas internasional lengkap berdiri di depan pintu masuk bersama seorang pria berbadan atletis dalam balutan setelan jas lengkap dengan sepatu pentofel. Rambut bermodel comma hair-nya tertata rapi meski bagian depan menutupi dahi. Hidungnya mancung bak perosotan anak TK. Dan, rahang yang tegas membuat pahatan wajahnya semakin sempurna.
Belum sempat menjawab dan masih mencerna apa yang terjadi saat ini, anak itu sudah berlari kecil ke arahnya diikuti pria berjas tersebut yang beberapa kali memanggil nama remaja lelaki itu. "Kak Linda ke mana aja?" tanyanya duduk di kursi di samping Deolinda.
"Hah?" Usai membenarkan kursi agar anak itu nyaman, Deolinda berhenti sejenak. Berusaha mengingat-ingat remaja lelaki di depannya ini. Mulai dari wajah berbentuk hati perpaduan Amerika-Tiongkok itu, pipi chubby seperti bakpao, mata sedikit sipit, hidung mancung terpahat sempurna, dan rambut quiff hair cut yang membuat penampilannya semakin terlihat tampan. Saat itu juga, bola matanya pun langsung terbelalak lebar. "Ohh!!! Kamu Arsen yang waktu itu di panti sosial, kan?" seru Deolinda lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.