Halooo, aku kembaliii setelah beberapa bulan pascaoperasi lutut. Masih ada yang nunggu cerita ini? Anw, tinggal beberapa bab lagi cerita ini bakal tamat.

Deovander memasuki ruang sidang bersama Deolinda, Arsen, Alpheratz, dan Anton untuk kesekian kalinya. Lelaki itu melepas satu kancing jas yang memang tadinya dipasang sejak dari penthouse dan sedikit mengibaskannya. Ruang sidang terasa sedikit menyesakkan baginya setiap kali ia melangkah masuk dan lalu duduk di kursi penonton barisan utama bersama kekasih dan teman-temannya.
Panitera mengumumkan jika jaksa dan penuntut umum memasuki ruang persidangan. Kemudian, majelis hakim memasuki ruangan. Semua orang berdiri. Ketiga majelis hakim memasuki ruangan. Masing-masing menduduki tempat mereka. Para hadirin kembali duduk. Hakim ketua meminta kedua hakim anggota mengecek ruang sidang. Setelah itu, hakim ketua pun membuka sidang pagi ini dan memanggil terdakwa usai mengecek ruang sidang serta memjelaskan jika sidang dibuka untuk publik.
Akhirnya, setelah sekian lama, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Wade Tenggara - mantan komisaris utama Bhavanadaksa Group mendapat balasan atas apa yang mereka lakukan usai sidang sang istri berakhir. Rasa puas dan gembira menggerogoti lubuk hati terdalam Deovander hari ini. Sangat puas. Toh, jika mereka berani bermain menggunakan uang, ia juga tak segan menggelontorkan uang dalam jumlah yang lebih besar. Berapapun itu. Karena, ia menepati janjinya pada Nabila Tenggara; melakukan apapun untuk Arsen, agar senyuman remaja itu tetap lebar seperti mendapatkan hadiah setiap hari. Apalagi, hari ini merupakan sidang terakhir Wade setelah barang-barang bukti ditunjukkan dan para saksi-Deovander, Deolinda, Alpheratz, dan tentunya Arsen-angkat bicara.
"Berdasarkan Pasal 196 ayat (3) KUHP, saudara memiliki hak yaitu menerima/menolak putusan, mempelajari putusan, dan pengajuan banding. Saudara akan menggunakan hak yang mana?" Hakim ketua bertanya tegas.
Mulut Wade terkunci begitu saja, tak memiliki kekuatan untuk angkat bicara. Kedua tangannya mengepal di permukaan paha. Pandangan mata pria itu menatap datar ke arah lantai disertai rasa sesak di dada. Tetapi, dapat ia rasakan pula-dari kursi para hadirin-putra semata wayangnya memberi tatapan tajam dan menusuk hingga menembus ke hati. Pikirannya berputar kembali ke masa-masa ia mengusir Nabila, membuang Arsen ke panti asuhan, bertengkar dengan Deovander di penthouse, menghubungi dan menemui Austin untuk menjalankan misi, sampai akhirnya berakhir di hari penangkapan bersama Weni.
Wade menghembuskan napas, mengangkat mikrofon. "Menerima putusan, Yang Mulia."
Alpheratz mematung seketika di tempat. Mereka kompak mengangkat kedua alis, saling menatap satu sama lain-benar-benar tidak percaya apa yang keluar dari pria paruh baya itu. Benar-benar terasa mimpi. Wade sudah lepas tangan terhadap Nabila dan Deovander sejak kecil. Menelantarkan Nabila, meski perbuatan Nabila tak dapat dibenarkan. Membuang Arsen ke panti asuhan sehari setelah kelahiran. Hanya mementingkan bisnis. Hingga menjual cucu semata wayangnya kepada pria brengsek yang merupakan ayah biologis anak itu. Dan kini, di depan para hadirin-termasuk media-ia menerima putusan yang tentu saja paling berat akibat pelanggaran hak asasi manusia yang telah dilanggar.
Deolinda menoleh pelan ke Deovander. Kepalanya sedikit miring, menatap lelaki itu tak percaya-Papamu ... jawab kayak gitu?
Merasa ditatap, Deovander berpaling pada Deolinda. Ia mengangkat kedua bahunya, sama sekali tak peduli. Setidaknya, dengan jawaban yang diberikan Wade di tengah-tengah sorak-sorai yang menggerogoti lubuk hati terdalam, ia sedikit lega-ayahnya itu mau menerima konsekuensi atas apa yang diperbuat.
"Semoga Kakek jadi orang yang lebih baik," gumam Arsen sembari mengayunkan tangan yang digenggam Deovander, memandang sendu pria baru baya yang pertama kali ia lihat di depan lift penthouse nampak gagah dalam setelan jas hitam Brioni, jam tangan Patek Phillipe, dan sepatu pentofel Buccheri. Akan tetapi, semua barang branded itu tak ada artinya jika sudah berada di balik jeruji.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Hero #1 [REVISI]
Romance[16+] Deovander Tenggara berhasil menyembunyikan rahasia terbesar dalam hidupnya selama belasan tahun. Namun, ketika kebenaran itu akhirnya terbongkar, orangtuanya justru menjadi pusat dari pusaran tersebut. Fakta-fakta lain juga ikut teruak ke perm...
![Sweet Hero #1 [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/355243350-64-k935320.jpg)