37 - DARI PERMAINAN MENJADI KEPUTUSAN

137 18 0
                                        

Deovander memarkirkan mobil hitam sportnya di seberang lobi Adhitama Hospital. Dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, lelaki itu turun dan memutari mobil, membukakan pintu bagi Arsen. Langkah mereka bergerak memasuki gedung berlantai sepuluh dengan sentuhan arsitektur modern nan mewah, sehingga nampak jelas dari luar jika rumah sakit ini bertarif mahal dengan standar internasional. Banyak sekali orang-orang yang datang ke rumah sakit-mulai dari mengambil nomor antrian dibantu satpam, menunggu giliran daftar, mengurusi pendaftaran, membayar di kasir, dan ada pula yang membeli roti di kafetaria seberang meja pendaftaran-pada pukul tujuh pagi ini.

"Pak Deovander?" tanya seorang satpam yang beberapa kali membantu orang-orang mengambil nomor antri pendaftaran.

Deovander seketika menghentikan langkahnya, termasuk Arsen. Lelaki berjas hitam itu menoleh ke kiri, "Ya."

"Mari, saya antar. Dokter Mahesa tadi meminta saya untuk mengantar njenangan ke ruangan Pak Dirut."

Deovander terdiam sejenak. Ternyata, Mahesa sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Padahal kedatangannya ke mari untuk mengantar Arsen bertemu Luvena di ruangan ayah Mahesa seraya menunggu jadwal kontrolnya nanti
kepada Isla, bukan sebagai kolega. Karena, di akhir pekan ini, ia harus menghadiri pemotretan profil baru perusahaan sekaligus membiasakan diri untuk tidak ketergantungan pada Keluarga Ghibran lagi sebelum kebenaran insiden kecelakaan Ajisaka diungkapkan pada Deolinda dan ini sudah berjalan selama beberapa hari belakangan. "Ah, baik. Terima kasih," ucapnya.

Sampai di depan ruangan direktur utama Adhitama Hospital, Deovander tak lupa mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam ruangan bercat putih itu bersama Arsen usai mengetuk pintu dan mendengar sahutan dari dalam.

"Kokooo," seru Luvena membalikkan badan, berlari ke belakang sofa begitu mendengar suara pintu dibuka.

"Halo," sapa Arsen ramah menerima pelukan hangat dari Luvena. "How's your day?" tanya Arsen melepas pelukan, memandang manik cokelat gadis kecil itu.

"Ha? Aku gak bisa bahasa Inggris, Ko," jawab Luvena mengerucutkan bibir.

"Oh, iya, hehehe, maaf lupa." Arsen menggaruk leher belakangnya dibarengi kekehan Deovander. "Gimana kabarmu?"

"Baik. Koko gimana?"

"Baik."

Usai menyimak interaksi Arsen dan Luvena, Deovander mengalihkan pandangan pada seorang suster berdiri beberapa meter dari Luvena. "Suster boleh lanjut kerja. Luvena aman dengan anak saya, nanti ada rekan Dokter Mahesa juga yang datang ke mari," jelasnya.

"Baik, Pak. Saya pamit, permisi," akhir suster sebelum meninggalkan ruangan.

"Jagain Luvena, ya. Nanti Uncle Danu ke sini," pesan Deovander menyamakan tingginya dengan sang putra dan mendapat anggukan dari Arsen. "Ya udah, Daddy kerja dulu. Nanti kalo belum Daddy jemput, ikut Uncle Mahesa atau Kakek pulang aja," lanjut Deovander menyebut panggilan ayah Mahesa yang biasa digunakan Arsen memanggil pria paruh baya itu.

"Iya, Dad."

"Uncle," panggil Luvena mencuri perhatian ayah dan anak itu. "Terima kasih, ya, udah bantu aku dan teman-teman keluar dari sana. Kalo nggak ada Uncle dan teman-teman Papa, mungkin ..., kami udah dijual atau di-"

Deovander segera mengangkat sedikit tangannya, memberi isyarat agar Luvena tidak melanjutkan ucapannya. Tatapannya melembut, memahami betapa beratnya kejadian yang dialami anak itu. "Iya, sama-sama," jawabnya tenang, tak ingin gadis kecil itu mengingat lebih jauh. Selain itu, sesuatu dalam ucapan Luvena juga menarik perhatian Deovander-panggilan baru untuk Mahesa. Papa. Lelaki itu tidak menyinggung, hanya menampakkan senyuman tipis dan berkata, "Selamat bersenang-senang sama Arsen, Danu, and Isla hari ini, oke?"

Sweet Hero #1 [REVISI]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang