Note. 1. JANGAN LUPA FOLLOW AUTHOR KALO SUKA CERITA INI.
2. TIDAK DIANJURKAN UNTUK YANG MEMILIKI KESABARAN SETIPIS TISU DIBAGI SEPULUH. (Karena alur cukup lambat).
3. PLAGIARISME TERCANTUM UU NO 28 THN 2014 TENTANG HAK CIPTA.
...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Wake up, Princessa." Arsha mengelus tangan halus Airys yang terkulai lemah. Bibirnya mendesis samar ketika hanya suara monitor Elektrokardiogram yang menyambut getar suaranya. Sesekali ia membubuhkan kecupan penuh afeksi pada punggung tangan Airys. "Kamu Andromeda, bukan putri tidur. Jadi jangan tutup matamu terlalu lama."
Meski terhitung satu jam, Arsha tetap stagnan pada posisinya. Tidak ada bosan ia memandang wajah teduh Airys. Yang meski terhias rona pasi, gadisnya tetap terlihat secantik mawar merah yang merekah. Seolah Arsha hanya akan menuai penyesalan jika satu sekon saja berpaling.
Ada sepercik kebencian saat Arsha mengingat alasan Airys berada di tempat berbau obat-obatan ini. Jeana benar-benar gadis licik. Dan Jayendra adalah keturunan Wang paling bodoh. Anak itu bisa jatuh ke dalam permainan Jeana dengan sangat mudah. Meminta kuasa Jackson dan para anggota Kartel untuk melindungi Jeana dari kejaran orang-orang yang diutus Fraulens maupun Wilder.
Entah rasa sakit seperti apa yang gadisnya rasakan. Racun korosif atau arsenik jelas bukan racun biasa. Jika terlambat dalam penanganan dan membiarkan racun sampai menyebar ke dalam organ vital, maka presentase keselamatannya sangat lah tipis. Mungkin, Arsha akan benar-benar hancur jika hal itu terjadi terhadap Airys.
"Maaf, maaf karena saya gagal menjaga kamu, Princessa." Arsha menunduk dengan genggam tangannya yang tidak pernah lepas membawa tangan Airys. Mencoba mengalirkan kehangatan dan barangkali mampu membuat sepasang jelaga cantik itu terbuka. Ia tertawa kecil hingga bahunya naik turun. "Ah, ternyata saya belum bisa menjadi Perseus karena gagal membawa kembali Andromeda dalam keadaan baik. Apa itu alasanmu masih betah tertidur?"
Hening, Airys masih setia terpejam. Seolah dalam pejamnya, Tuhan menawarkan sebuah mimpi teramat indah. Membuat jiwa Airys betah berlama-lama.
"Princessa, kamu tidak merindukan hewan berbulu itu? Dia mungkin akan benar-benar saya buang." Tidak menyerah, Arsha menggunakan Mochi sebagai umpan. Ia jadi teringat kucing yang kerap menyita waktu Airys ketika gadis itu bersamanya.
"Saya mendapat laporan jika hewan jelek itu mengotori ruang kerja saya." Arsha kembali mengadu. "Haruskah saya membunuhnya, Princessa?"
Tidak, jelas Airys akan menolak dengan ekspresi marah. Arsha sudah bisa menduganya.
"Mungkin, hewan jelek itu juga akan merindukan gadis cantik yang biasa menggendong dan menciuminya." Arsha terkekeh hambar, ia sudah gila karena terus berbicara. Ada setitik rasa sakit yang tiba-tiba saja menjalar di dalam hati. Membuat matanya terpejam. "Saya benar-benar kesal karena saya juga ingin mendapat ciuman darimu."
"Masih ingin tidur, hm?"
Lelaki itu lantas memandang Airys sekali lagi. Lebih dalam, lebih intens. Tubuhnya sedikit dicondongkan. Ia mengecup lembut dahi Airys, mengelusnya dengan amat pelan seolah gadis itu bisa hancur kapan pun.
"I love you more than anything. More than my own life. Segera lah bangun, Sayang."
Sementara itu, dari luar kaca pintu. Sepasang suami istri memerhatikan Arsha dengan tatapan sendu. Iliana menarik napas panjang, ia lantas menghadap Aidan. "Is he Wilder?"