"Akkkkkkkkk!!! Kenapa? Kenapa bisa gini? Hikssss!!! Gue masih tak percayaaa!! Aaakhhh!!"
Setelah memberikan sembako sedekahannya Alfan,ia dan Shahira pun pulang.Didalam mobil, Shahira berteriak sepuasnya tak peduli kalau Alfan akan terganggu jujur perasaannya kini tak karuan.Tak bisa dijelaskan bagaimana kecewanya bagaimana sakitnya, tak bisa ia jelaskan.Shahira hanya bisa menangis dan berteriak bak orang gila.Sudah sedari tadi ia tahan karena tak enak dengan Nisa dan sekarang ia bisa menangis sepuasnya.
"Hikssss....Jahat bener tuh orang! Karna dia gue ga punya ayah sama ibu.....Hikssss! Jahat jahat!!"
"Kak......Kak Alfannn...Hiksssss!! Dani....Dia harus di hukum seumur hidup....Aku ga rela dia bebas aku ga relaaaaa....Hiksssss!!!"
"Iya,iyaa...Kamu kalau mau nangis sekarang nangis aja,luapkan sekarang...Aku tau perasaan kamu sekarang ini!" jawab Alfan yang sedang menyetir itu.
Setelah satu jam ngereog, akhirnya Shahira tenang.Ia mulai mengantuk, ia sangat kelelahan.Shahira pun menyandarkan tubuhnya ke belakang lalu mulai menutup matanya dan perlahan ia mulai tertidur.30 menit kemudian mereka berdua sampai dirumah Shahira.
"Ra.....Raa...Bangun...Kita dah sampai..."
Seandainya Alfan telah menikahi Shahira jadinya ia akan bisa sekarang untuk mengendong Shahira.Namun nyatanya ia belum menikah jadi Alfan hanya bisa membangunkan Shahira.
"Ra...Bangun.."
"Hm? Dah sampai?" balas Shahira.
Alfan mengangguk,"iya, kita turun ya!"
Alfan dan Shahira pun turun dari mobil lalu berjalan menuju pintu rumah.
"Aku titip salam ya buat om Farhan sama tante Jesika! Aku pergi dulu!" pamit Alfan.
"Ga mampir dulu?" tawar Shahira.
"Ga usah! Aku ada urusan lagi di kantor polisi!"
"Oo...Oke, hati hati yaa!!"
"Hm! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Setelah Alfan pergi, Shahira pun masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya.Ia merasa sangat capek hari ini,tapi mengingat hari sudah azan maghrib beberapa menit yang lalu Shahira pun segera ke kamar mandi untuk mandi lalu melaksanakan sholat maghrib.
Dari sebelum Shahira sholat kamar sepi namun setelah sholat saudaranya itu satu per satu tiba dan membuat kamar itu ramai kembali.Shahira melirik satu per satu saudara angkatnya itu,terutama Okalina,Naqila dan Annasya.
"Guys...Gue ada inpo nih!" ujar Shahira seraya duduk di kasurnya.
"Apaan?" tanya Annasya.
"Inpo ini buat Annasya,Okalina dan Qila!"
"Hah? Emang apa sih?" tanya Naqila.
"Tadi sore aku balik dari panti dan di sana Ibu panti ngomong kalau orang tua kita meninggal bukan karena penyakit tapi karena dibunuh! Dan yang membunuh itu Dani,si penjaga sekolah itu! Jadi yang gue ceritain kemarin tentang pembunuhan di jalan alternatif bandung itu adalah pembunuhan orang tua kita!"
"HAH? KOK BISA?" kejut Alexa.
"Jadi.....Orang tua kita meninggal terbunuh?" tanya Annasya.Sedangkan Okalina dan Naqila terkejut mendengarnya dan ternganga.
"Hm! Orang tua kita sahabat ibu Nisa pantas saja kita dirawat sama ibu Nisa karena waktu malam itu kita dititip sama ibu Nisa! Jujur aku syok dengernya,itu Dani harus kena hukuman yang setimpal!" balas Shahira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Tujuh Alur
Teen FictionBagaimana jadinya jika tujuh anak cewek yang bersahabat dari kecil di panti asuhan di angkat jadi anak sekaligus oleh seorang CEO. Ketujuh cewe yaitu Hikaru,Okalina,Renata,Shahira,Alexa,Anasya,dan Naqila. Mereka adalah anak yang di adopsi oleh ora...
