Zizi dan Janela

54 2 0
                                        

Happy Readinggg.......

Maaf kalau typo gesss

Perpaduan warna biru yang amat tenang di pandang.Diatas bewarna biru dengan gumpalan gumpalan awan sedangkan dibawah terbentang luas warna biru dengan deburan ombaknya yang menghantam ke darat maupun ke batu batuan.

  Wajar saja berbagai belahan dunia datang ke sana.Karena indahnya pantai Bali begitu memukau orang orang yang melihatnya. Hembusan angin, kicauan burung dan deburan ombak bersatu dalam satu waktu.Menikmati pantai bukan hanya melihat keindahannya namun juga merasakan ketenangannya yang mana semilir angin berhembus di sela sela rambut yang dapat meredakan stres.

  Di pasir yang lumayan panas, semua yang wisatawan duduk disana dengan beralasan karpet kecil maupun yang besar.Memakai kacamata hitam adalah kunci untuk tidak sakit mata saat melihat silauan matahari yang amat terangnya.Dan jangan lupa memakai suncreen agar wajah tak terbakar sinar matahari seperti Alastar dan Naqila.

Kemesraan mereka berdua yang mana Naqila memakaikan suncreen pada wajah Alastar dilihat oleh beberapa orang orang yang lewat di sekitarnya.Sesekali orang tersenyum lucu melihat Alastar yang sedikit mengoceh tak jelas karena tak mau pakai suncreen.Wajahnya sudah mulus dari kecil, ia tak pernah sekalipun memakai produk untuk wajahnya selain sabun cuci muka.

"La, udah! Ga papa kok.Gue ga perlu make suncreen gini," gerutu Alastar sejak tadi tapi Naqila tetap mengoleskan suncreen tersebut pada wajah, tangan dan leher Alastar.

"Ih..Ngomel aja, nurut apa?" balas Naqila.

"Tapi wajah gue udah mulus dari kecil ga perlu make gitu gituan!" bantah Alastar.Tapi ia tetap diam ketika Naqila mengoleskan suncreen itu.

"Ini suncreen Tar! Ini bukan untuk mulusin atau mutihin, tapi biar kulit Lo ga kebakar matahari." Jelas Naqila.

"Dah selesai, Lo bisa lanjut minum air kelapanya!"

"Kalau ga pake kebakar ya?" tanya Alastar seraya meminum air kelapanya.

Naqila terkekeh, ternyata masih ada laki laki yang tak tau fungsi suncreen."Hahha..Iya Atar!"

  ***

Sehabis pulang dari rumahnya sendiri, Shahira menjadi bingung.Hatinya bimbang, apakah ia harus melakukan itu semua? Sesuai yang dikatakan saudara saudaranya? Tapi ia juga tak tau bagaimana memulainya.

"Kalau ga lakuin pasti.....Aaaa....Ga takuttttt!" gumam Shahira memukul sofa yang ia duduki, beruntung hanya ia di rumah.Jadi tak ada yang melihat tingkah anehnya itu.

Tak berselang waktu lama, Shahira mengambil handphonenya, ia tak bisa lagi mengelak, ia harus melakukan itu atau tidak Alfan bisa jadi memilih wanita lain.Karena belum tau apa pun, Shahira mempelajari semuanya di internet walau dulu Jesika pernah memberitahunya sedikit sedikit tapi menurutnya ia kurang paham.

  Malam pukul 9, belum ada tanda tanda Alfan pulang.Biasanya laki laki itu pulang sebelum maghrib dan juga ketika pulang ia akan mengabari Shahira terlebih dahulu.Sampai jam 10 malam Alfan pun belum pulang, padahal Shahira sudah menunggunya berjam jam yang awalnya di meja makan sekarang sudah di kamarnya dengan memakai baju yang sangat berbeda dari biasanya.Bisa dikatakan baju dinasnya.

*"Tit.tittt..tiittt!"*

Tiba tiba terdengar suara klakson mobil Alfan memasuki garasi.Mendengar itu jantung Shahira semakin berdetak kencang, ia ketar ketir tapi ia harus melakukan itu.

"Lo bisa Ra, Lo bisa...Huihhhh!!" ujar Shahira menarik nafasnya lalu menghembuskannya.

  Disisi lain, Alfan keluar dari mobil.Pintu terbuka tapi yang membukakan bukanlah Shahira tapi pembantunya yang baru saja balik dari kampung.

Tujuh Alur Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang