E30: Tawar Menawar

25 0 0
                                        

Alz kembali bermain dengan sekitar. Tubuhnya memperhatikan sebuah batu dengan saksama. Tak lama ia mengangkatnya, berusaha tahu apa yang ada di balik batu. Padang bunga terbentang di jalan menuju kota. Tampaknya bunga-bunga ini ditanam dengan sengaja. Polanya khas, tidak seperti padang bunga alami yang tersebar. Contohnya bunga Primrose ini, di padang bunga alami, mereka akan tersebar acak di antara bunga lain atau rerumputan. Namun di sini terjadi hal sebaliknya. Mereka tertata secara rapi, sesuai dengan kelompok bunganya masing-masing.

Tak hanya Primrose, terdapat bunga-bunga lain di sekitarnya. Pasque, Avens, Androsace, dan masih banyak bunga lainnya. Putih, ungu, dan kuning. Mereka semua berwarna, memberi hawa menenangkan bagi siapapun yang melihatnya. Alz memetik salah satu bunga. Lalu mulai memperhatikannya dengan detail. Tak lama ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Buku, ternyata benda itu adalah buku. Alz membuka buku itu dengan saksama. Lalu mulai membandingkan antara ilustrasi dengan kenyataannya. Sungguh buku yang berguna.

Sebuah kereta kuda berjalan dari arah kota ke selatan. Membawa rangkaian bunga di belakangnya. Analisisku lagi-lagi benar. Sepertinya ia adalah orang yang merawat ladang bunga.

"Halo pak, bagaimana kabarmu?"

Alz menyapa petani itu dengan senyuman. Petani itu membalasnya dengan senyum, sambil melambaikan tangannya dari atas kereta. Senyumannya sangat manis, siapapun yang bertemu anak itu untuk pertama kali pasti akan membalasnya. Karena, meski ia tak sadar, semua orang paham atas itu. Senyumannya terlontar dengan sangat tulus. Alz berbicara sebentar dengan orang itu, sedangkan kami hanya memperhatikan dari jauh. Elaiza tampak sibuk, sepertinya ia sedang memeriksa barangnya sendiri. Tak lama, petani itu mengambil sedikit bunga di belakang muatan, lalu memberikannnya pada Alz. Alz tampak tersenyum, dan berterima kasih pada orang itu. Sontak, akhirnya petani kembali melaju, memberi salam perpisahan kepada Alz. Petani itu menatap kami, lalu memberi senyuman yang sama. Aku membalasnya, tersenyum meski mungkin senyumanku tak sebaik Alz. Elaiza yang merapikan barang mungkin sadar dengan suara kereta kuda, lalu juga memberi balasan senyum kepada si petani.

Alz kembali sibuk sendiri, membuka jurnal, dan membandingkan bunganya lagi. Kami hanya memperhatikannya, memberi ia sedikit ruang untuk asik dengan diri sendiri.

"Cukup melelahkan ya Arslan, mengurus anak seperti dia."

Elaiza tampak berbicara, matanya terus menatap Alz, namun membuka pembicaraan denganku. Ia tersenyum, lalu menatapku dengan perlahan. Tak lama aku membalas pertanyaannya dengan senyuman. Jika dipikir, Alz memang sangat ceria. Berbeda dengan wanita pada umumnya. Seperti anak kecil, mungkin itu cara menjelaskannya. Bagai anak kecil yang masih belajar atas dunia. Putih, kosong, hanya tau kebaikan di sekitarnya. Tetapi, tak mungkin ia terus memiliki pemikiran seperti itu. Ada waktunya semua itu berubah. Bagai kanvas, semua lukisan pasti dimulai dengan kertas yang kosong. Tetapi, ingin seperti apa, dan ingin menjadi apa, kembali pada keinginan pelukisnya. Alz tampak seperti kanvas putih yang besar. Tetapi, mungkin tak sesederhana itu. Lukisan apa yang ia ingin buat di kehidupannya? Gambaran seperti apa yang ingin ia simpan di kepribadiannya? Aku tak tahu, yang pasti. Melihat orang penuh senyum di usia seperti ini. Merupakan hal yang langka bagiku.

Sebuah plang kecil mulai terlihat. Diukir dalam huruf Runa. [Geneville] tulisnya. Benar, tak lama siluet kota itu terlihat di antara padang bunga. Besar, dengan ladang gandum yang mengelilinginya.

Tinggi, gerbang kota itu menjulang tinggi. Tak hanya gerbang darat yang dibuka, namun juga gerbang sungai. Kota ini unik, terbelah menjadi dua bagian. Satu di selatan, dan satu di utara. Kedua bagian kota itu terbentang luas, dengan sungai besar yang memotong bagian tengahnya. Gugusan parit terlihat mengitari kota. Bentuknya seperti mata panah, dengan benteng kota yang mengikuti di belakangnya. Parit-parit itu dibanjiri oleh aliran sungai. Sehingga, dari jauh, Kota tersebut tampak seperti dikelilingi air.

RattleheartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang