E8: Keluar Dari Masalah

49 3 0
                                        

"Arslan apa yang kau lakukan...!?"

Alz membisikkan sebuah kalimat kepadaku di hadapan warga yang berkumpul di sekitar kepala desa. Suasana semakin rumit, dan aku juga sulit untuk menjelaskan semuanya.

"Aku hanya melatih mereka, dan mengeluarkan unek-unek sedikit sih." Ungkapku sambil membalas, menoleh dan berbisik ke Alz.

"Unek-unek apanya, kau membuat puluhan orang pingsan seperti itu! Bagaimana bisa aku membelamu kalau seperti ini kasusnya."

Tiba-tiba kepala desa menghampiri kami berdua yang sedang berbisik. Menanyakan situasi dan kondisi yang terjadi pada warga desa yang dibina olehku.

Sebagian orang yang belajar Chi protes ke kepala desa, berbicara bahwa kami hanya mengada-ngada dan menghina leluhurnya. Tiba-tiba Alz berdiri, berbicara sesuatu menanggapi mereka.

"Tapi kalian semua kini bisa menggunakan Chi kan sekarang?"

Mendengar pernyataan Alz, sebagian dari mereka terdiam, mengakui dan meyakini bahwa diri mereka telah banyak belajar. Alz menjelaskan lagi, mengatakan bahwa melatih Chi lebih sulit daripada melatih sihir. Meski begitu warga desa telah berhasil melakukannya bahkan dalam waktu di bawah satu jam. Secara tak langsung Alz berusaha meyakinkan kepada warga desa bahwa metode yang kuberikan sangatlah efektif.

Menanggapi pernyataan Alz aku kemudian berbicara. Menambahkan poin-poin yang tidak diketahuinya.

"Chi merupakan perwujudan dari jiwa terdalam manusia, dan cara membangkitkan sisi lain dari dirimu adalah dengan menggunakan emosi. Memang efeknya mungkin singkat, tapi dari sana aku bisa melihat potensi kalian semua dalam menggunakan Chi."

Perlu ku akui, banyak masyarakat desa di sini memang memiliki bakat dalam Chi. Dari awal mengajari orang lain menggunakan Chi dalam seminggu itu hampir mustahil, aku bahkan sangat mengambil risiko dalam menggunakan metode ini. Namun percaya dengan titik terendah manusia, Chi akan bangkit dan mengalir ke orang yang terpaksa untuk bertahan hidup. Bukan ke orang yang "membutuhkannya".

Mendengar pernyataan dari Alz dan diriku, para warga desa kemudian terdiam. Mulai menyadari diri mereka yang berkembang pesat dalam waktu dekat. Harapan kembali tumbuh dari mereka, dan kini sekali lagi memberi kepercayaan kepadaku. Pemuda yang mendorongku ke lembah, datang dan menghampiri.

Berjalan, sambil mengulurkan tangannya, kami berjabatan dan meminta maaf atas apa yang terjadi. Ia juga berterima kasih karena diriku telah menyelamatkannya. Mengingat, perbuatannya sendirilah yang sampai mendorongku dan dirinya ke lembah tadi. Perilaku bodoh, namun heroik. Tanda ia berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelesaikan akar dari seluruh masalah.

Meski tahu ia pernah memiliki niat membunuh tadi, aku tetap memaafkan dan menyelamatkan dia dari terjun langsung ke lembah. Walau sembrono, aku mengakui keberanian dari para warga desa yang mulai tumbuh saat ini.

Demikianlah.

Hari terus berjalan, Alz dan aku kembali ke pos masing-masing untuk melatih warga. Sebelum pergi Alz memberi semangat sambil melambaikan tangan perpisahan. Aku hanya menatapnya sebagai reaksi, setelah itu melanjutkan pelatihan dengan warga desa lainnya.

Bebatuan kini menjadi sasaranku lagi. Ada dua tipe orang yang menggunakan Chi, yaitu Warrior dan Fighter. Entah mengapa Chi juga bisa bercabang menjadi dua arah. Ada orang yang memiliki bakat menggunakan Chi tanpa senjata, hanya fisik dan tubuhnya yang bekerja, dan ada juga yang lebih mahir menggunakan Chi dengan senjata, daripada bertarung langsung dengan tubuhnya. Namun umumnya, ada juga yang ahli dalam keduanya. Berbeda dengan Sorcerer dan Wizard, perbedaan kelas antara Warrior dan Fighter hanyalah masalah bakat dan ideologi masing-masing. Bukan karena tipe sihir yang berbeda seperti Sorcerer dan Wizard.

RattleheartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang