Walter menyelesaikan ceritanya, dari mata, menetes air yang mengalir deras. Lensanya dibanjiri kenangan, raut sedih tak tertahan dari wajahnya. Namun itu semua tak lama.
Tiba-tiba Alz menangis kencang, membuat Walter yang sedih malah tertawa. Tak menyangka Alz terbawa suasana seperti itu dan kemudian terus berkata tak jelas.
"Walter, kenapa Lyra begitu, aaahh-".
Walter menepuk pundak Alz berkali-kali, begitu pula aku. Kami berdua mengelus kepala dan pundaknya. Entah mengapa malah ia yang harus ditenangkan, bukan si pembawa cerita yang sedari tadi berbicara pada kami. Walter lalu tiba-tiba ke belakang sebentar, kemudian kembali. Membawa sebuah bingkisan dan surat di tangan kanannya. Dia lalu bertanya sesuatu pada kami.
"Kalian ingin pergi ke Altenzeitz setelah ini kan?"
"Iya, kami akan ke sana."
Aku membalasnya pelan, menatap wajah Walter yang tersenyum kecil di sana. Darinya, ia lalu menitipkan sesuatu padaku. Sebuah surat, dan bingkisan yang mengeluarkan aroma sangat lezat. Katanya ia minta tolong. Bawakan bingkisan dan surat ini ke rumahnya, yaitu Kedai Lotus di pinggir kota.
Aku mengiyakan, lalu menerima permintaan Walter. Kami berdua kemudian bersiap, dan menyapa Walter untuk terakhir kalinya.
"Walter, jaga dirimu baik-baik ya, jangan kecewakan Lyra" ucap Alz khawatir.
"Iya, aku pasti akan menjaga diri, kalian juga ya."
Walter melambaikan tangan, tersenyum, lalu menunggu kepergian kita sambil berdiri. Melihat itu, Alz terus melambaikan tangan kepada Walter, sambil menahan wajah sedih, dan berjalan ke depan.
Kami melanjutkan perjalanan, mengetahui bahwa dataran landai sebentar lagi akan tiba.
Alz tak bisa menahan rasa, ia masih sedih setelah mendengar cerita Walter. Tak percaya wanita secantik dan sebaik Lyra harus meninggal dengan cara seperti itu. Terus menerus sedih, bahkan sampai mempengaruhi jalannya. Aku yang melihat itu kemudian menawarkan sesuatu.
"Jalanmu mulai tak benar, lebih baik kau beristirahat, aku akan membawamu sampai kota."
"Istirahat? Membawaku sampai kota? Maksudnya bagaimana?"
Tiba-tiba aku mengangkat Alz, menaikkan serta membawa tubuh mungilnya ke atas pundakku. Alz kaget, tak menyangka tiba-tiba kondisinya seperti ini. Dia terus memukul kepalaku dengan pelan. Meminta untuk diturunkan. Namun aku tak mendengar ocehannya.
Kami berdua terus berjalan, menyusuri sisa dari danau yang sangat luas. Melewati padang rumput, serta melewati pekarangan bunga yang indah. Tempat ini, mungkin sebuah tempat yang dimaksud oleh Walter. Aku bisa membayangkannya. Seorang wanita berdiri di antara bunga-bunga, dengan senyum indah yang melapisi raganya.
Walter...
Kau benar-benar sangat beruntung bisa menemukannya.
Gerbang kota terlihat dari kejauhan, ditemani oleh terik matahari yang tak menyengat. Ladangnya indah, penuh sayuran, mungkin dulu di sini Ayah Walter pernah bekerja. Visualnya semakin jelas, bentuk gerbangnya unik, terbuat dari marmer yang melengkung di atasnya. Menandakan kota ini cukup kaya, dan juga orang-orangnya makmur atas hidupnya.
Suasana kota yang tak biasa mulai terlihat. Sangat berbeda dengan kebanyakan kota di Benua Clayrien lainnya. Lebih mendekati kota ala-ala Clayrien Selatan, meski sebenarnya kami masih ada di Clayrien Tengah. Rumah-rumahnya tersusun rapi, ada yang terdiri dari apartemen bertingkat dua atau bahkan tiga. Catnya putih, dengan genting coklat dari tanah liat. Anak-anak berlari ke mana-mana. Mengitari kota, bermain dengan gembira.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rattleheart
Adventure(Cerita Update setiap 3-10 hari sekali) Arslan adalah seorang tentara bayaran yang mencari arti dari dunia. Baginya dunia tak lagi sama semenjak dia terpaksa menjadi tentara bayaran. Peperangan, rasa sakit, hubungan antara manusia. Apa sebenarnya it...
