Angin berhembus kencang, menerpa dan menggerai ujung pakaianku ke atas. Tangan menari di atas pedang, seakan memiliki nyawa sendiri, ia bergerak, mengincar, dan menebas musuhnya dengan kegirangan. Mengayun cepat, aku kini menyerang tanpa memberi jeda waktu. Mata melihat ke depan, terus fokus ke mulut musuh, membaca gerakan mereka, membaca sinyal dan memprediksi gerakannya.
Ke kanan aku menyerang, kuat, terus di sana, fokus, memojokkannya. Ia tak sempat bernafas, temannya datang untuk membantu. Mulutnya kini berkecap kencang, tanda temannya ingin menyerang, aku tiba-tiba berbalik, memutar tangan, dan menebas tubuh temannya yang ingin membantu.
Mata musuh terbelalak, ketakutan, melihat rekannya jatuh, melihat rekannya mati dalam kesakitan. Aku bergerak lagi, membiarkan tangan menghakimi, tak memberi kesempatan, terus menyerang, sampai titik di mana ia tak kuasa lagi dan kini mati terbunuh oleh tebasan pedangku.
Berjalan, tinggal satu, tampaknya ia sudah dalam keputusasaan. Berlari, menjauh, namun kini chi bergejolak kencang, aku mengejar dan mengincar kakinya. Tertebas, jatuh, tersungkur dalam lautan kesakitan. Ia merangkak, terus berusaha untuk hidup, tak lama pedangku mengayun lagi, dan kini menembus punggung serta rusuk dari orang itu.
Semua telah selesai, dengan cepat aku melesat, menuju ke arah desa. Keadaan pasti semakin kacau, lima detik berlalu. Kini aku telah sampai di gerbang utara. Masih tak terjamah, aman, kemungkinan besar musuh terus menyerang dari barat tak ke mana-mana. Spontan aku melompat, melewati pagar, dan tiba di rangkaian parit utara. Menyapa para pengawas di menara kemudian berjalan cepat ke barat.
Menyusuri parit satu, aku berjalan, belum ada yang rusak, seharusnya tak tertembus. Apakah masih belum ada peperangan di sini? Jika iya, sungguh Alz telah bekerja dengan sangat baik. Ah tidak, seharusnya aku tak boleh berbangga dulu. Menara pengawas barat telah terlihat dari jauh. Aku meninggikan kecepatanku dan mulai naik ke atas sana. Dari sana terlihat, beberapa musuh sudah mulai bisa masuk ke dalam parit. Namun percuma, mereka mati sia-sia terkena sihir dari para wizard. Jika mereka melesat melewati parit pun, sekelompok warrior akan melompat dan menyerang mereka dari bawah.
Baik, cukup baik, sepertinya aku tak salah kali ini. Alexiel terlihat terus menerus memberi sinyal dari atas menara pengawas. Aku menepuk pundaknya, dan memberi tahunya untuk turun apabila seluruh tembok kayu barat sudah hancur. Karena tentara yang melihat pemimpinnya langsung akan lebih terdongkrak moralnya. Ia mengangguk dan berterima kasih kepadaku. Aku kemudian kembali meloncat, dan berjalan ke medan pertempuran depan.
Apa yang menyebabkan musuh kesulitan untuk masuk?
Sebuah pertanyaan tentu jelas terus menerus muncul di kepala. Setelah melompat berkali-kali, kini aku telah sampai, dan tiba di medan pertempuran barat.
Alz terbang sangat tinggi, jadi tak ada Warrior yang bisa menggapainya, hanya wizard musuh yang bisa menyerang. Namun, jika mereka melakukan itu, maka posisi mereka akan dengan mudah terlacak oleh Alz dan dihancurkan oleh sihir besar miliknya.
Aku diserang lagi oleh sekelompok orang, mereka berpedang dan bertombak. Namun tampaknya sedikit lebih mudah daripada lima warrior sebelumnya. Ke kanan, pedangku melayang, menebas wajah musuh, merobek lehernya, mengganti sasaran, dan kini merusak pinggulnya. Cepat, aku tak mau berlama, Alz terus melakukan sihir ke depan. Aku takkan kalah, dan kini menghancurkan mereka semua sendirian.
Empat, lima, sepuluh. Lima belas Warrior kini sudah terbunuh langsung olehku.
Musuh berhenti semua, mereka mundur dan kembali ke ujung cakrawala. Melihat itu, Alz kemudian turun, menghampiriku yang berdiri tegak di atas tanah. Bergeming, nafasnya normal, ia belum terlihat kelelahan. Kami berdua menatap ke kejauhan. Berpikir apa yang terjadi, mengapa mereka semua mundur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rattleheart
Aventură(Cerita Update setiap 3-10 hari sekali) Arslan adalah seorang tentara bayaran yang mencari arti dari dunia. Baginya dunia tak lagi sama semenjak dia terpaksa menjadi tentara bayaran. Peperangan, rasa sakit, hubungan antara manusia. Apa sebenarnya it...
