E29: Mata yang Menyala

25 1 0
                                        

Lari, kedua kaki itu berlari tanpa tahu sebuah arti. Kegirangan, cekikikan, saling bermain di antara pegunungan. Cakrawala biru menemani mereka. Tersenyum, saling mencipratkan air di tepian danau. Dingin, meski siang sudah menjemput, namun air danau tetaplah dingin. Walau begitu, mereka terus menikmatinya. Katanya hidup tak selalu berputar di hal serius saja. Aku hanya memperhatikan, tak mau terlibat banyak atas urusan mereka berdua. Tak logis, gumamku. Sebentar lagi kita akan sampai di kota, namun mereka malah bermain air tanpa tahu waktu.

"Alz, tangkap ini!"

"Eh? Mana? Tangkap apa?"

"Tangkaplah pesona tubuhku yang indah."

"Hah...?"

Alz sedikit mengerang. Lalu mulai menunjukkan pose tak jelas di depan Elaiza. Aku hanya memperhatikan, lagi-lagi memperhatikan. Di sisi lain, aku tak percaya Elaiza berkata seperti itu. Kukira dia bisa lebih rasional.

"Kau pikir dirimu indah? Aku jauh lebih indah, lihat lekukan tubuh ini."

"Lekukan apa? Mantelmu saja setebal itu."

"Oh kau menantangku ya, lihat ini."

Mereka berdua semakin aneh. Saling berhadap-hadapan dengan konteks yang tak aku mengerti. Sebaiknya aku mulai menjauh.

"Arslan!"

"Apa?"

"Siapa yang lebih cantik dari kita berdua?"

"Ah..."

Mataku memperhatikan mereka dengan lesu. Aku terdiam sebentar. Lalu mulai mengepalkan tangan di dagu. Mereka berdua menatap wajahku dengan serius. Berharap sebuah jawaban keluar dari mulutku. Tak lama, tangan kembali menurun. Berjalan lalu mendekati mereka secara perlahan. Alz kebingungan, namun terus menatap diriku yang mendekat sambil menerka-nerka. Mata mengabaikan tatapan itu. Kedua belah tanganku kembali bergerak, memegang dan mencengkeram kerah belakang mereka berdua. Chi mengalir kembali, terpusat pada kedua tangan dan mulai mengangkut dua anak ini dari tepi danau. Tatapan mata mereka kosong. Seakan tak tahu apa yang sedang terjadi. Diam, tak berkutik, bagai dua anak kucing yang diangkat ke tempat lain. Tak lama Alz mulai memberontak, sambil mengatakan sesuatu.

"Hey, tunggu, kau belum memberi jawaban atas pertanyaan itu!"

"Apakah aku tampak perduli?"

"Ah..."

Elaiza tertawa mendengar jawabanku. Meninggalkan Alz yang kembali mematung di tangan kiri. Tak lama, aku menaruh mereka kembali ke tanah. Pelan, menaruhnya di atas rerumputan. Rumput itu cukup tebal. Membuat mereka tetap bersih meski jatuh ke atas tanah. Tubuh menghela nafas, kemudian kembali berdiri dengan tegak. Sejujurnya itu adalah pertanyaan yang sulit. Jika memang ditanya secara rasional, mereka berdua cantik. Bahkan mungkin lebih cantik dari rata-rata wanita yang pernah kutemui. Entah kenapa hari ini aku terbawa suasana. Memikirkan sesuatu yang sangat subjektif dari awal.

"Keringkan baju kalian, sebentar lagi kita akan masuk ke Geneville. Bersikaplah sedikit dewasa."

"Ahaha, maaf ya Arslan. Sudah lama aku tidak bercanda seperti ini soalnya."

"Aku tak cantik..., Aku tak cantik.... "

Elaiza tertawa kecil. Di sisi lain Alz kembali melantur tak jelas. Bagai orang mengigau, wajahnya tampak tak percaya atas apa yang terjadi. Mungkin kalimatku terlalu keras padanya. Telapak tangan kembali berlabuh di kepalaku. Lalu, kaki memutuskan untuk merendah, berlutut dan kini mulai menghampiri Alz yang terkapar di tanah. Kemudian, sebuah kalimat terucap dari mulut.

"Alz, sebenarnya kau cantik, oleh karena itu bersikaplah seperti wanita yang cantik. Cepat bangun sekarang."

"Sungguh...? Bagaimana dengan Elaiza? Apakah ia cantik juga?"

RattleheartTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang