26

25.1K 869 21
                                        

Pagi itu, Cassandra terbangun dengan perasaan yang aneh di perutnya, seperti ada gelombang yang mengaduk-aduk dari dalam. Sebelum benar-benar sadar, perutnya sudah merespons, memaksa tubuhnya untuk segera bangkit dari ranjang dan berlari menuju kamar mandi. Langkahnya terburu-buru, tangannya refleks menutup mulut, mencoba menahan rasa mual yang tak tertahankan.

Sampai di kamar mandi, ia berpegangan pada tepi wastafel, napasnya tersengal, dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Seketika tubuhnya berlutut di depan kloset, merasakan gelombang mual itu akhirnya pecah. Morning sickness yang kerap dirasakan ibu hamil sekarang benar-benar nyata baginya—setiap kali mencoba menarik napas dalam-dalam, rasanya hanya membuat mualnya semakin parah.

Leo, yang terbangun mendengar suara di kamar mandi, segera menyusulnya. Tanpa ragu, ia berlutut di samping Cassandra, mengusap punggungnya dengan lembut, memberikan sentuhan hangat di antara momen yang begitu melelahkan itu.

"Kau baik-baik saja?" bisiknya pelan, penuh perhatian. Cassandra hanya mengangguk lemah, meski wajahnya terlihat pucat.

Leo tak beranjak, tetap mendampingi Cassandra dengan sabar. Setiap kali Cassandra terbatuk atau merasa mual lagi, Leo ada di sana, menggenggam tangannya dengan lembut, seakan mencoba menyerap sebagian rasa tak nyaman yang dirasakannya.

Setelah gelombang mual itu mereda, Leo dengan hati-hati membantu Cassandra berdiri, lalu menuntunnya kembali ke ranjang. Langkahnya penuh kehati-hatian, memastikan setiap langkah Cassandra ringan dan stabil. Dengan lembut, ia membaringkannya di atas ranjang, membenarkan posisi bantal agar lebih nyaman.

"Aku akan turun sebentar buat sarapan, jangan khawatir. Tunggu di sini, ya," ucap Leo pelan, penuh perhatian.

Cassandra hanya mengangguk, masih berusaha menenangkan perutnya yang sedikit bergejolak. Sementara itu, Leo turun ke dapur, menyusun bahan-bahan sarapan yang bisa membantu meringankan mual Cassandra. Tak lama kemudian, Leo kembali dengan nampan di tangannya, di atasnya terdapat bubur hangat yang lembut, roti panggang, dan secangkir teh jahe yang harum.

Ia duduk di samping Cassandra dan mulai menyuapinya dengan penuh perhatian. Setiap suapan diberikannya perlahan, menunggu hingga Cassandra siap untuk suapan berikutnya. Meski masih lemah, Cassandra tersenyum kecil, merasa hangat dengan perhatian yang Leo berikan. Setelah selesai makan, Leo mengambil gelas obat dan membantu Cassandra meminumnya dengan telaten, seakan ia tak ingin melewatkan sedikit pun dari merawatnya.

Setelah memastikan Cassandra nyaman, Leo duduk di tepi ranjang dan dengan suara lembut mengabarkan berita yang membuat Cassandra terkejut, "Aku sudah mengambil cuti panjang. Aku akan bekerja dari rumah sampai kau melahirkan nanti. Miguel setuju, jadi sebagian pekerjaanku akan kuurus di sini."

Cassandra tersenyum lemah, ada rasa syukur yang menghangatkan hatinya ketika tahu Leo akan ada di sampingnya setiap hari selama kehamilan ini. Namun, saat Leo berkata akan pergi sebentar ke ruang kerjanya, muncul perasaan aneh yang tak bisa ia kendalikan, semacam keinginan kuat untuk tidak dibiarkan sendirian. Hormon kehamilan ini benar-benar membuatnya lebih rentan, lebih membutuhkan kehadiran Leo di setiap saat—seolah kedekatan mereka kini adalah satu-satunya yang mampu memberinya ketenangan.

Di dalam hatinya, Cassandra merasa jengkel. Bukan hanya kepada dirinya sendiri, tapi juga kepada hormon-hormon yang begitu kuat memengaruhi emosinya. Rasa benci yang selama ini ia pendam terhadap Leo, entah mengapa, kini mulai memudar begitu saja. Alih-alih menahan jarak, ia justru merasa ingin terus berada di dekatnya. Ada hal yang membingungkan—bagian dari dirinya ingin memberontak, ingin tetap menjaga dinding-dinding pertahanannya, namun dorongan lain yang lebih lembut dan tak terjelaskan membuatnya hanya ingin mendekat, menggenggam tangannya, merasa aman di sisinya.

"Leo... boleh aku ikut ke ruang kerjamu?" tanyanya dengan suara lembut, disertai tatapan memohon.

Leo tak kuasa menolak. Di ruang kerja yang luas dan rapi, Leo duduk di kursinya dengan Cassandra di pangkuannya, melingkarkan lengannya di lehernya, seperti menemukan pijakan nyaman di tengah-tengah kegelisahan kecilnya. Biasanya, Leo tak pernah mengizinkan siapa pun berada di ruang kerja saat ia tenggelam dalam pekerjaannya, namun kali ini ia tak berniat mengusir Cassandra. Ada sesuatu yang berbeda dalam kehadirannya, sesuatu yang membuat hati Leo melunak.

Di pangkuan Leo, Cassandra memandang wajah Leo dengan tatapan lembut yang tersembunyi di balik rasa penasaran. Tatapan Leo terpusat pada layar komputernya, jarinya mengetik dengan kecepatan yang tetap dan pasti, meskipun terkadang matanya berkedip perlahan, mencoba memecahkan masalah yang terpampang di depan mata. Sesekali ia berhenti, menghela napas panjang, kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tangan Cassandra sesekali bergerak pelan, menyisir rambutnya yang jatuh di bahunya sendiri, namun matanya tak pernah lepas dari sosok Leo.

Cassandra diam saja di situ, tak berani memecah keseriusan Leo dengan suara atau gerakan yang tidak perlu. Hanya ada kedekatan di antara mereka, sebuah kedekatan yang kata-kata tak mampu wakili. Perasaan ingin bersama itu begitu kuat, seakan kehadiran Leo adalah udara yang ia hirup, pelindung yang melindunginya. Cassandra diam saja di situ, tak berani memecah keseriusan Leo dengan suara atau gerakan yang tidak perlu. Hanya ada kedekatan di antara mereka, sebuah kedekatan yang kata-kata tak mampu wakili. Perasaan ingin bersama itu begitu kuat, seakan kehadiran Leo adalah udara yang ia hirup, pelindung yang melindunginya.

Setiap kali Leo berhenti mengetik sejenak untuk membaca atau berpikir, ia akan melirik Cassandra dengan senyum tipis yang tak pernah gagal membuat Cassandra merasa tenang. Bahkan Leo, yang biasanya penuh dengan ketegasan, kini tampak seperti lelaki yang tengah menikmati detik-detik kecil kebersamaan dengan wanita yang telah menjadi bagian dari hidupnya.

Waktu pun berlalu dengan lambat namun damai. Cassandra hampir lupa dirinya ada di pangkuan Leo, hingga akhirnya rasa kantuk mulai menyerang. Kelopak matanya yang tadinya penuh perhatian mulai berat, dan tanpa sadar ia bersandar lebih erat, menelungkupkan kepalanya di bahu Leo. Leo hanya tersenyum dan melingkarkan satu tangannya di bahunya, memberinya kehangatan yang ia butuhkan tanpa satu kata pun terucap.


Double update sekaligus karena kemarin jumat aku ga sempat update. Sorry guys, buat kalian semua yang udah nunggu. Aku lagi bener-bener sibuk sekali dua minggu ini :(

Semangat terus semuanya dalam menjalani hari-hari kalian🫶🏻

Prigioniera (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang