28

22.6K 682 7
                                        

Cassandra berdiri di depan cermin, mencoba menenangkan dirinya sambil memeriksa setiap detail penampilannya. Gaun kasual berwarna pastel yang ia pilih terlihat simpel namun manis. Ia menarik napas dalam, merasakan setiap hembusan yang teratur, mencoba meredakan kegelisahannya.

Ketika kemarin Leo memberitahunya bahwa ia bisa menemui kedua orang tuanya besok, Cassandra tak bisa menyembunyikan perasaan yang berputar dalam dadanya. Ada campuran rasa lega, gugup, dan ketakutan yang seolah berlomba menyesaki pikirannya. Setelah bertahun-tahun menyimpan segala sesal dalam hati, ia akhirnya mendapat kesempatan untuk menyelesaikan semua itu. Namun, ketakutan lama juga ikut menyeruak, menantang keberaniannya untuk bertemu mereka.

Sepanjang malam, Cassandra gelisah di tempat tidur, pikirannya tak kunjung tenang. Bayangan percakapan yang mungkin terjadi terus berputar di kepalanya—bagaimana ia akan memulai permohonan maafnya? Apakah mereka bisa memaafkan segala luka yang pernah ia tinggalkan? Dalam hatinya, ia juga ingin memberitahu mereka kabar yang begitu besar bahwa mereka akan segera memiliki seorang cucu.

Tapi menyusun kata-kata itu dalam pikirannya terasa lebih sulit daripada yang ia bayangkan. Setiap frasa yang ia rencanakan seolah tak cukup kuat untuk menggambarkan penyesalan dan kebahagiaan yang kini bercampur aduk dalam dirinya. Ia membolak-balikkan tubuh, berharap mendapatkan sedikit ketenangan, namun hanya kegelisahan yang ia temukan. Hingga akhirnya Leo datang, mendekapnya erat, membisikkan kata-kata tenang yang menembus keresahannya. Dengan sabar, Leo mendengarkan segala kecemasannya dan meyakinkannya.

"Tak usah terlalu dipikirkan, Cassie. Orang tuamu akan melihat ketulusanmu lebih dari apa pun yang kau ucapkan," katanya pelan sambil menyelimutinya.

Kalimat sederhana itu meredakan ketegangan yang ia simpan sejak lama. Di dalam pelukan Leo, perlahan Cassandra merasakan dirinya lebih rileks, seakan segala kecemasan yang menumpuk mulai luruh. Tanpa Leo di sisinya malam itu, mungkin ia takkan bisa menutup mata barang sejenak. Leo tetap berada di sana hingga akhirnya Cassandra terlelap dalam ketenangan.

Leo berdiri di ambang pintu, memperhatikan Cassandra dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada senyum kecil di wajahnya, seolah ia paham betul betapa pentingnya momen ini bagi Cassandra. Tak ada kata-kata yang terucap, namun kehadiran Leo di situ saja sudah cukup untuk membuat Cassandra merasa lebih kuat.

"Kau siap?" suara Leo tenang, namun terdengar hangat.

Cassandra menatap bayangannya di cermin sekali lagi sebelum berbalik menghadap Leo. Ia tahu, ini bukan hanya sekadar pertemuan dengan orang tuanya—ini lebih dari itu. Sebuah langkah menuju perdamaian dengan masa lalunya, langkah untuk mengikis setiap jejak luka yang selama ini tersembunyi dalam senyuman dan diam.

Leo berjalan mendekat, lalu menggenggam kedua tangannya. "Aku akan menunggumu. Apa pun yang terjadi nanti, ingatlah... aku ada di sini."

Kalimat itu, sederhana namun begitu kuat, menyelimuti Cassandra dengan ketenangan. Ia mengangguk pelan, mengucapkan terima kasih dalam diam. Bersiap untuk pergi, ia mengambil tasnya, kemudian berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan Leo di depan rumah. Leo benar-benar menepati janjinya—membiarkannya bertemu orang tuanya, memberikan waktu yang ia butuhkan tanpa tekanan apa pun.

Sepanjang perjalanan, Cassandra melamun, membayangkan seperti apa reaksi orang tuanya saat melihatnya datang. Apakah mereka akan marah? Bingung? Atau justru memeluknya dengan penuh kehangatan? Di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tak dapat ia enyahkan, namun juga ada dorongan kuat untuk terus melangkah, seolah suatu kekuatan tak terlihat membimbingnya menuju masa lalunya yang belum sepenuhnya ia selesaikan.

Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah yang begitu familiar, rumah yang dulu selalu menyambutnya dengan kehangatan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraih gagang pintu mobil dan keluar. Di depan sana, di ambang pintu, ia melihat sosok ayahnya berdiri, tampak terkejut namun kemudian tersenyum hangat, sebuah senyum yang lama tak ia lihat. Di belakangnya, sang ibu melangkah keluar, matanya tampak berkaca-kaca.

Prigioniera (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang