Setelah dokter selesai memeriksa dan pergi, Leo tak membuang waktu. Langkahnya cepat namun mantap, dengan ketenangan yang seolah telah direncanakan jauh-jauh hari. Ia menuju lemari, membuka laci satu per satu, mengeluarkan pakaian hangat dan jaket tebal yang nyaman untuk Cassandra. Setiap gerakannya terukur—menyentuh kain dengan teliti, memastikan tak ada detail yang terlewat. Jaket itu, pikirnya, akan melindungi wanita yang kini menjadi pusat hidupnya, menghangatkannya dari dingin yang menggigit dan ketidakpastian yang mungkin terasa mengancam.
Ketika semua sudah siap, Leo kembali ke samping Cassandra. Tatapannya tenang namun penuh ketegasan, seakan ada janji tak terucap dalam sorot matanya. "Kita akan ke rumah sakit sekarang," katanya, suaranya rendah namun penuh keyakinan. Dengan kelembutan yang nyaris menyakitkan, ia membantu Cassandra bangkit, merangkulnya, memakaikan jaket padanya, lalu memastikan semua kebutuhannya sudah siap untuk perjalanan yang seolah panjang namun pasti ini.
Dalam perjalanan menuju mobil, ia terus memperhatikan setiap gerak-gerik Cassandra, seolah-olah setiap tarikan napas dan langkah kecilnya menyimpan cerita yang Leo tak ingin lewatkan. Sampai ia membukakan pintu, memakaikan sabuk pengaman dengan gerakan lembut, seakan dengan sentuhan itu ia berusaha memberi tahu, bahwa ia akan selalu ada di sana.
Perjalanan mereka terasa panjang, penuh keheningan yang mencekam namun menguatkan. Saat mereka akhirnya tiba di rumah sakit, aroma antiseptik dan cahaya terang menyambut mereka dengan dingin. Leo menggenggam tangan Cassandra lebih erat dari sebelumnya, memberikan ketenangan yang nyaris bisa dirasakan. Setiap kali mata Cassandra memancarkan kegelisahan, Leo mengangkat tangannya, mengecupnya lembut, seolah ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, meski ia sendiri belum tahu pasti.
Di ruang pemeriksaan, Leo tak meninggalkan sisi Cassandra. Suara mesin medis, detak monitor yang asing, dan rasa mencekam begitu terasa. Dokter melakukan serangkaian pemeriksaan dengan seksama—memeriksa tekanan darah, melakukan USG, bahkan mengambil sampel darah untuk memastikan semuanya. Leo duduk tepat di sebelah Cassandra, tak melepaskan genggaman tangannya, seakan-akan hubungan mereka kini lebih nyata dari sebelumnya. Saat suara detak jantung kecil terdengar samar melalui monitor, Cassandra menatap layar dengan tatapan penuh keheranan dan haru yang belum sepenuhnya ia mengerti.
"Dari hasil sementara, Anda sedang hamil, Nyonya," ucap dokter tenang, dengan senyum lembut yang tidak berlebihan. Cassandra terdiam, perasaan bahagia dan syok bercampur jadi satu, sementara Leo menggenggam tangannya lebih erat. Dalam hening itu, sebuah janji tak terucapkan seakan tercipta di antara keduanya.
Keluar dari rumah sakit dengan resep vitamin dan beberapa obat yang diperlukan, Leo membimbing Cassandra dengan penuh perhatian menuju mobil, menyelimutinya dengan kehangatan dari sorot matanya yang teduh. Sesaat sebelum menutup pintu mobil, ia mengecup kening Cassandra berulang kali, seakan mencoba menyampaikan kelegaan dan kasih yang begitu mendalam, yang tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. "Terima kasih, Cassandra, untuk segalanya," bisiknya, dan Cassandra hanya mengangguk kecil, tersenyum tipis, merasa hatinya menghangat.
Namun Leo belum mengarahkan mobil ke rumah. Ia membawanya ke supermarket terdekat, memandu langkah Cassandra di antara rak-rak penuh produk ibu hamil, wajahnya serius dan terfokus. Setiap barang yang ia pilih—dari minyak esensial hingga camilan sehat—ia perhatikan dengan seksama. Perhatiannya total, seperti ia ingin memberikan yang terbaik untuk wanita yang kini mengandung buah hati mereka. Setelah menyiapkan semua yang ia rasa perlu, mereka kembali ke mobil dengan senyum kecil di wajah Cassandra, merasa terjaga dan diperhatikan.
Tak lama kemudian, Leo membawa mereka ke sebuah butik mewah, tempat deretan gaun putih bergelantungan dalam kaca besar yang elegan. Cassandra memandangnya dengan tatapan terkejut, namun Leo hanya tersenyum lembut, menggenggam tangannya dan menuntunnya masuk. Aroma butik itu, suasana anggun di sekitarnya, membawa Cassandra ke dalam keheningan penuh harapan yang sulit ia jelaskan. Ia tak bisa mengalihkan tatapannya dari sebuah gaun putih sederhana yang tersusun sempurna di antara deretan gaun-gaun mewah lainnya. Gaun itu tidak mencolok, namun terasa begitu pas.
Tanpa sepatah kata, Leo meminta pegawai butik untuk menyiapkan gaun itu. Cassandra menyentuh kain lembutnya, membayangkan bagaimana ia terlihat di dalamnya, pikirannya penuh dengan bayangan masa depan yang membingungkan dan menyenangkan. Sementara Leo memilih setelan jas sederhana namun berkelas untuk dirinya sendiri, ia melirik ke arah Cassandra dengan pandangan penuh keyakinan.
"Pernikahan ini... aku ingin kita melakukannya dengan sungguh-sungguh," bisik Leo pelan, suaranya berat namun penuh kelembutan. Tangannya merapikan sedikit bagian gaun di bahu Cassandra dengan penuh kasih. Cassandra tak mengucapkan apa-apa, hanya memandang Leo dengan sorot mata yang tak mampu menyembunyikan perasaan harunya.
Di perjalanan pulang, Leo mengajak Cassandra singgah di sebuah restoran mewah dengan nuansa cahaya lilin yang hangat, memberikan suasana romantis yang intim, di mana mereka bisa berbicara dengan tenang. Sambil menunggu hidangan tiba, Leo menatapnya dalam-dalam, seolah mencoba menangkap kejujuran yang tersembunyi dalam mata Cassandra.
"Cassandra," katanya lembut. Cassandra menoleh, dengan sedikit cemas dan harap bercampur di wajahnya. "Aku sudah mempersiapkan semuanya. Tiga hari lagi kita akan menikah."
Suara itu bergema di telinga Cassandra, menghantarkan campuran rasa bahagia dan gentar dalam sekejap. Tiga hari. Waktu yang begitu singkat untuk keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Cassandra menggenggam sendok dengan erat, jantungnya berdetak lebih cepat, seolah-olah tubuhnya berusaha memahami kata-kata yang mengubah takdirnya itu.
Di tengah kegugupannya, ia merasakan genggaman tangan Leo, mengalirkan kehangatan yang tak terelakkan. "Aku tahu ini mendadak, tapi aku ingin kau tahu bahwa ini bukan sekadar kata-kata, Cassandra. Aku ingin melindungimu, menjaga, dan memberi kepastian." Tangannya yang hangat menggenggam tangan Cassandra erat, penuh keyakinan yang terasa begitu nyata.
Dengan sedikit tersendat, Cassandra menatap Leo, dan perlahan-lahan, ia mengangguk. Jawaban itu mungkin belum sepenuhnya pasti di hatinya, namun ada harapan yang pelan-pelan menyelinap. Dalam diam, mereka melanjutkan makan malam. Tiga hari lagi, sebuah janji akan terikat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Prigioniera (END)
Romanzi rosa / ChickLitKarena berani menolong sahabatnya yang kabur dari cengkeraman mafia, Cassandra Clark harus menanggung akibatnya. Gadis pemberani ini kini terjebak di bawah kekuasaan Leonardo Bianchi, tangan kanan mafia yang kejam. CERITA INI TERSEDIA SELURUH CHAPTE...
