29

23.6K 724 8
                                        

Di dalam mobil, Cassandra bersandar lemah pada kursinya, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong yang perlahan diwarnai kebahagiaan yang tenang. Hari ini adalah hari yang tak akan terlupakan. Seperti angin segar yang membersihkan kabut di dalam hatinya, pertemuan dengan orang tuanya terasa bagaikan langkah pertama menuju kehidupan baru. Beban yang bertahun-tahun menekan pundaknya kini seakan menghilang. Dia telah mengutarakan penyesalannya, menyampaikan permintaan maaf dengan hati yang tulus, dan mengumumkan satu hal besar yang mengubah segalanya, dirinya sedang mengandung anak dari Leo. Respons hangat keluarganya begitu berarti, sesuatu yang dulu bahkan tak pernah berani ia bayangkan.

Sambil tersenyum kecil, Cassandra menarik napas panjang, lalu berpaling pada Leo. "Leo," suaranya terdengar lirih namun sarat dengan rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih... sudah memberiku keberanian untuk melakukan ini."

Leo, yang sedang fokus mengemudi, melirik lembut ke arahnya. Dengan senyum hangat, dia menjawab, "Aku hanya menemanimu, Cassie. Keberanian itu sudah ada di dalam dirimu sejak dulu."

Kata-kata itu, sederhana namun menyentuh, membuat Cassandra merasa lebih kuat. Ia tertawa kecil, meski ada nada haru yang tersisa di balik tawanya. "Rasanya seperti mimpi. Aku selalu merasa keluargaku adalah bagian dari diriku yang hilang... Tapi hari ini, saat mereka menerimaku lagi, rasanya seperti menemukan potongan hati yang selama ini tercecer entah di mana." Cassandra terdiam sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit berat, "Sayangnya, aku tak bisa bertemu Casson. Aku harap suatu hari nanti aku bisa menjelaskan semuanya padanya secara langsung."

Keesokan paginya, Cassandra terbangun dengan rasa hangat di hati. Kenangan akan pertemuan itu masih segar, dan hatinya dipenuhi kelegaan yang lembut. Namun, saat ia meraba sisi tempat tidur, Leo tak ada di sana. Ruangan itu hening, menyisakan kehampaan yang seketika membuat dadanya terasa sesak. Dengan cepat, perasaan cemas itu menguasai dirinya. Tanpa sadar, air matanya mulai menggenang, lalu tumpah, menjadi tangisan lirih yang berujung pada isakan terpendam.

Di lantai bawah, Leo sibuk mengaduk adonan pancake ketika tangisan itu menyentuh telinganya. Ia mendongak, lalu tanpa ragu-ragu langsung bergegas naik ke kamar.

Sesampainya di sana, ia menemukan Cassandra duduk di tepi tempat tidur, wajahnya tertutup tangan, bahunya terguncang. Tanpa pikir panjang, Leo berjalan mendekat dan duduk di sampingnya, merangkul tubuhnya dengan hangat, menyalurkan kehadiran yang menenangkan.

"Cassie, aku di sini," ujarnya lembut, sambil mengusap punggungnya dengan telaten. "Maaf kalau aku membuatmu khawatir. Aku hanya ke bawah untuk membuatkan sarapan."

Cassandra mengangkat kepalanya perlahan, matanya yang basah bertemu tatapan penuh kasih dari Leo. Ia menarik napas dalam-dalam, merasa konyol namun juga tak bisa menahan rasa takut yang mendadak datang saat ia tak menemukannya di sana. "Aku... aku pikir kau pergi meninggalkanku," katanya dengan suara bergetar, isakan kecil masih menyelip di ujung kalimatnya.

Leo tersenyum lembut, lalu mengusap rambutnya dengan penuh perhatian. "Aku tak akan pernah meninggalkanmu, Cassie," ucapnya, menegaskan tiap kata seolah ingin menancapkan keyakinan itu di hati Cassandra. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus sisa air mata di pipinya, lalu menggenggam tangannya erat. "Selama aku masih bisa bernapas, aku akan selalu ada di sisimu."

Cassandra menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. "Sejak hamil, entah kenapa aku jadi mudah terbawa perasaan. Rasanya, aku bahkan tak lagi mengenal diriku sendiri." Ia menggeleng pelan, ada sedikit senyum getir di balik ekspresinya yang setengah bingung, setengah kesal.

Leo tertawa kecil, menariknya ke dalam pelukan hangat lagi. "Itu karena sekarang ada si kecil di dalam sana," ujarnya sambil menaruh tangannya di perut Cassandra yang mulai tampak membesar. "Dia membuatmu lebih peka, lebih lembut... dan lebih hidup. Dan bagiku, kau justru terlihat lebih indah dengan itu semua."

Cassandra tersenyum kecil, sedikit malu namun hatinya penuh. Bayi dalam kandungannya telah membuka sisi dirinya yang tak pernah ia kenali—lebih rapuh, lebih lembut.

"Jadi, kalau aku lebih mudah menangis atau merasa tersentuh karena hal-hal kecil, kau tak akan keberatan?" tanyanya, sedikit malu, namun harapan di dalam suaranya begitu nyata.

Leo mengangguk mantap. "Tentu saja tidak, Cass. Setiap senyummu, setiap air matamu, semuanya berharga bagiku. Aku akan selalu ada untuk menguatkanmu, tak peduli berapa banyak emosi yang datang."

Perasaan hangat mengisi hati Cassandra. Dengan suara yang lebih tenang, ia berkata, "Leo, bisakah kau berjanji untuk selalu ada di sisiku saat pagi? Rasanya... saat aku bangun dan tak menemukanmu, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga."

Leo menatapnya, melihat ketulusan dan sedikit keraguan yang tersisa di sana. Ia meraih tangan Cassandra, menggenggamnya dengan erat dan berkata, "Aku janji, Cassie. Setiap pagi, aku akan ada di sampingmu, memastikan kau bangun dengan tenang, tanpa khawatir atau merasa sendiri."

Senyum Cassandra mengembang, dan tanpa menunggu lama, Leo mengangkat tubuhnya dalam gendongan. Cassandra terkekeh kecil, rona pipinya memerah, tapi ada perasaan aman yang menyelimutinya, sebuah ketenangan yang tak tergantikan. Tanpa banyak bicara, Leo membawanya turun ke dapur, dan sesampainya di sana, ia menurunkan Cassandra di kursi dengan lembut.

Cassandra duduk dengan tenang, memperhatikan setiap gerak Leo yang kembali sibuk di depan kompor. Cara Leo memasak, sesekali mencicipi, menambahkan bumbu, semua gerakannya terlihat begitu alami, seolah ia telah melakukannya ratusan kali. Cassandra merasa dirinya tak mampu mengalihkan pandangan, menikmati momen kecil yang begitu indah ini.

Leo melirik padanya sambil tersenyum kecil, seolah tahu sedang diperhatikan. "Jangan terlalu terpukau, nanti masakanku terasa biasa saja," ujarnya menggoda.

Cassandra tersenyum, matanya berbinar. "Aku memang selalu terpukau denganmu," jawabnya dengan nada bercanda.

Leo menggeleng, namun senyum di wajahnya tak bisa disembunyikan. Di pagi yang sederhana itu, di antara aroma pancake yang hangat dan tatapan penuh kasih, Leo merasa hidupnya kini lengkap.


Prigioniera (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang