GEMETAR 🔞

10.3K 154 6
                                        

Gemetar
.
.
.
(Sebelumnya)

Jakun Revan naik turun. Dadanya berpacu kencang. Tanganya sedikit gemetar membayang apa yang sedang dilakukan didalam. Dengan penasaran yang penuh serta rasa penasaran tinggi, Revan mengambil kursi plastik, mengintip pada ventilasi diatas pintu kamar mandi.

Mata Revan membelalak sempurna melihat pemandangan didepan mata. Bagaimana enam kotak diperut Afan, lengan kokoh serta dada bidangnya terpampang. Mata Afan terlihat terpejam sambil bibirnya terbuka dibawah guyuran air dari shower.

"Akhh... Sayanghh... Shit, fuck... Anjingh..."

"Sshhhh.... Ahhh... Enak sayanghh..."

Terlebih lagi, mata Revan semakin membelalak manakal melihat batang kejantanan Afan yang dikocok maju mundur dengan sangat sexy.

"Akhh... Keluar.. sayang... Ahhh... Come... Fuckkkkkkkkkk.......

Crot
Crot
Crot

Tembakan pejuh Afan mencuat dengan begitu panjang dan jauh. Pejuh kental Afan sangat melimpah. Karena kelelahan, Afan bersandar pada dinding dibelakangnya sambil terduduk lemas. Dirinya tersengah-engah selepas ejakulasinya.

Revan segera turun dari kursi. Hawatir dirinya terpergok oleh Afan. Bisa jadi masalah bila supirnya tahu.
.
.
.
.
.
.
Seperti biasa, Lagi-lagi Revan ditinggal dinas oleh sang papa kembali selama tiga hari. Sang mama juga turut mendampingi nya. Revan kini kesepian untuk yang kesekian kalinya.

"Lagi Bosen, Mas Revan?" Tanya Afan yang kini ikut duduk disamping Revan diteras belakang.

Semenjak kejadian tempo lalu saat Revan memergoki Afan sedang masturbasi, Revan sedikit canggung. Tapi, selang hampir dua minggu ini dirinya mulai terbiasa.

"Huffttt... Iya nih, Bang." Jawab Revan sambil menoleh kearah Afan.

"Yaudah, Mas Revan mau kemana, Biar saya yang anter!" Tawan Afan.

"Kayanya Ngga deh. Lagi pengen dirumah aja."

"Eh, Bang. Mau mabar Ga?" Lanjut Revan.

"Hmm.. boleh juga. Saya juga lagi suntuk nih, Mas." Sepakat Afan.

"Ya udah, kalo gitu, Bang Afan tutup dulu gih gerbangnya. Sekalian lampu-lampunya juga." Perintah Revan.

"Lah, kan ada si Satria, Mas!"

"Owh, iya. Aku lupa. Bag Satria udah balik. Hahaha...." Revan baru teringat jika Satria sudah kembali dari cutinya.

"Mau main dimana nih, Mas?"

"Dikamar Bang Afan aja deh"

"Lah, ga takut kegerahan mas?. Mana sempit lagi. Ga kaya kamar Mas Revan!"

"Lah, kan ada Ac juga dikamar Bang Afan. Mau sempit apa engga ga masalah. Yang penting bisa buat selonjoran juga!"

"Oke lah, kalau gitu!"

Keduanya berjalan menuju kamar Afan yang terletak paling belakang. Samping kamar Satria.

Jam menunjukan pukul sebelas malam. Sudah hampir tiga jam keduanya bermain game online. Bahkan, saking lelahnya, membuat Revan tertidur dikamar Afan. Afan yang menyadarinya kini mulai menutup pintu dan menguncinya. Menyalakan Pendingin ruangan. Menyelimuti sang majikan mudanya.

Tanpa sadar, Afan juga ikut tertidur disamping Revan. Sampai-sampai baterai pada  ponsel Afan habis karena layarnya hidup berjam-jam lamanya.

Diluar rumah, tepatnya dipos penjagaan, Satria melihat jam dipergelangan tanganya sudah menunjukan pukul dua belas malam. Sudah tengah malam. Dirinya mulai mengunci pagar. Mengaktifkan tombol otomatis yang terhubung kekamarnya langsung. Mengunci seluruh sudut pintu dan memastikan semuanya aman, barulah dirinya kini memasuki kamarnya untuk beristirahat.

Pukul satu dinihari, Revan terbangun. Matanya ia coba untuk tetap terbuka. Beradaptasi dengan sekitar. Sedikit demi sedikit, kelopak mata Revan terbuka sempurna.

Akan tetapi, ada satu hal yang membuat kelopak matanya seperti ingin keluar. Gundukan pada celana boxer yang membuat fokus Revan teralihkan.

Ya, selangkangan milik Afan kini mengembung dengan sempurna. Apalagi, boxer yang sedang ia pakai terlihat sedikit kendor. Membuat jiplakan itu terlihat dengan sangat jelas.

Jakun Revan naik turun, seakan ia sulit hanya untuk sekedar menelan air liurnya sendiri. Jantungnya tak kalah berdegup kencang saat pertama kali Revan mengintip Afan sedang masturbasi.

"Keknya gede juga" batin Revan dalam hati.

Matanya fokus menuju  arah pintu. Memastikan jika pintu benar-benar terkinci dengan sangat rapat.

Tangan Revan perlahan menyentuh, merambat menuju pusat selangkangan Afan. Dengan hati-hati, ia remas gundukan itu dari luar. Afan tidak bergerak sama sekali. Seperti orang mati.

Ya, Afan tipikal orang yang jika sudah tidur terlelap akan sulit untuk bangun jika belum waktunya tiba. Atau minimal, dirinya sudah puas dengan tidurnya, barulah Afan bisa terbangun.

Dengan  hati-hati, Revan membuka boxer putih yang dipakai Afan. Dengan sekali tarik, Kontol Afan keluar dengan sangat keras. Benda itu seakan melambai-lambai untuk Revan segera mengulumnya.

Revan masih memandangi kontol Afan. Sesekali sambil melihat wajah Afan, jaga-jaga jika ia bangun. Bisa bahaya urusanya nanti jika Afan tahu.

Perlahan, Revan kocok dengan pelan kontol Afan yang sudah tegang maximal. Satu dua menit. Hingga hampir lima belas menit, Revan mengocoknya.

"Njir, kuat banget Bang Afan. Udah seperempat jam belum keluar-keluar!"
Revan bergumam dalam suara samarnya.

"Tanggung lah, urusan kepergok atau nggaknya urusan belakang."

Dengan modal nekat, karena saking sangenya, Revan menjilat kontol jumbo Afan. Lidah itu menari-nari diatas palkon jumbo Afan. Sesekali keluar precum dari lubang kontol Afan.

Slurp..
Slurp..
Slurp..

Kloq..
Kloq..
Kloq..

Bunyi kecipak karena Revan mengulum kontol Afan, membuat suara diruangan itu penuh dengan kecipak kuluman.

Bahkan, hampir lima belas menit juga Afan mengulum kontol Afan, belum ada tanda-tanda kalau dia akan klimaks.

"Gua masukin aja kali, ya. Nanggung juga."

Revan memutuskan untuk ngentot dengan Afan malam itu juga. Karena saking sangenya, Revan. Begitu pula hasratnya yang sudah diubun-ubun. Terlebih ahir-ahir ini, kini dirinya sudah tidak dipakai lagi oleh Faldi.

Cuih...

Revan melidahi lubangnya sendiri dan kontol Afan sebagai pelumas alami. Revan sangat tahu dan hafal jika Afan salah satu type orang yang tidur kebo alias susah bangun. Kesempatan bagi Revan.

Revan berdiri sambil melucuti pakaianya. Dia bertelanjang bulat. Sedangkan untuk Afan, kebetulan dia tidur hanya memakai boxer tanpa cd dan tanpa baju. Membuat Revan sangat mudah melancarkan aksinya.

Keduanya sudah sama-sama telanjang bulat. Revan bersiap menaiki tubuh Afan. Dengan sedikit tergesa, Revan menggengam komtol Afan dan diarahkanya menuju lubang anal Revan.

Bless....

"Akh......" Pekik Revan
Seketika mulutnya ia bungkam sendiri dengan telapak tangannya.

Sedangkan dikamar sebelah, Satria mendengar seperti orang memekik. Kebetulan, Satria baru sekedar rebahan. Dan belum terlalu terlelap.

"Suara apaan ya?"

Dengan penasaran, Satria keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Takut jika itu suara maling dan semacamnya. Bahkan, bunyi kenop pintu kamar yang ditutup pun tanpa suara sama sekali.

Baru saja empat langkah, ternyata suara itu bersumber dari kamar sebelahnya. Dengan curiga, Satri berjinjit untuk melihat lewat fentilasi. Tetapi sayang, fentilasi itu ternyata sudah ditutup rapat.

Satria berusaha mencari celah intuk mengintip, memastikan keadaan didalam kamar Afan.
.
.
.
TBC

PELUH KENIKMATANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang