7. Waktu Bersama

38 6 0
                                        

"Dan pada akhirnya kita hanya memiliki satu sama lain"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Dan pada akhirnya kita hanya memiliki satu sama lain"
.
.
.
.

Yura membuka kedua kelopak matanya perlahan, matanya mengelilingi seluruh penjuru ruangan. Namun ada sesuatu yang kosong. Ia berdiri dari posisi tidurnya, menjepit rambutnya secara asal.

"Jakie!!" Teriak Yura, namun tidak ada tanda-tanda Jakie disini. Apa dia sudah pulang.

Bukankah semalam ia tertidur di dalam pelukan Jakie? Kenapa tiba-tiba sudah menghilang. Yura memutar bola matanya malas. Selalu saja begitu, setelah bersikap manis Jakie akan berubah menjadi manusia paling menyebalkan. Ia ingin memasuki kamarnya, namun terhenti ketika bel di tekan secara tidak sabaran.

Yura berjalan malas menuju pintu apartmennya. Siapa yang memencet bel, brutal sekali. Tidak mungkin Jakie, biasanya lelaki itu langsung saja masuk tanpa memencet bel.

Ia membuka pintu dan kedua matanya terbelalak dengan Jakie yang berdiri di depannya, dengan tangan dilipat depan dada.

"Baru bangun lo? Astaga Yura lo itu perempuan" Cerca Jakie sambil masuk ke dalam apartemen Yura tanpa permisi, "Mau jadi apa kalau bangunnya siang terus?"

Yura menggigit bibir bawahnya menahan tawa, baginya cercaan Jakie seperti mertua galak di sinetron. Meski awalnya kesal, ekspresi Jakie benar-benar penuh lelucon. Apa perlu Yura mendaftarkan Jakie dalam casting sinetron.

"Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" tanya Jakie dengan tatapan memancing membuat Yura segera menghentikan tawanya.

"Lo mirip mertua jahat di sinetron, kenapa lo ga main sinetron aja?" Ujar Yura diakhiri dengan tawa. sedangkan Jakie memutar matanya malas, dia tak ada lagi untuk berdebat dengan Yura.

"Gue masih marah ya sama lo, kenapa  kemaren balik sama Helmy?" tanya Jakie kembali serius. Rasa marah masih terus mengalir dalam dirinya keteka menyebut nama bajingan itu.

"Ya gatau? Orang ga sengaja ketemu di jalan" jawab Yura lalu ikut duduk di samping Jakie. Merapatkan tubuhnya lalu menyalakan televisi agar tidak terjadi keheningan dalam waktu yang lama. Jakie menatap Yura dalam, seperti sedang menelisik sesuatu membuat gadis itu risih. "Apasih Jak? biasa aja kali liatinnya, tau kok kalau gue cakep"

Di dalam keheningan, Jakie menarik dagu gadisnya agar terjadi kontak mata antara mereka berdua, "Lo kemaren kenapa ngabarin Helmy duluan? ga ngabarin gue? gue ini pacar lo"

"Kata siapa gue ngabarin Helmy?" Alis Yura tertaut, seenaknya sendiri Jakie menuduh dirinya. "Gue gaada ngabarin siapapun Jak, hp gue rusak."

"Lagian lo gue telpon malah diangkat sama om-om, kena jambret lo?"

Penjelasan Yura menjadikan kepala Jakie berputar. Sekarang pertanyaan di kepalanya menjadi bercabang, dan karena rasa cemburunya Jakie melupakan satu hal penting. Yura dari mana? Apa mungkin gadis itu-

"Mikir apa lo? Si Helmy? Mending pacaran sama dia aja lo daripada sama gue, yang di otak lo kan cuma Helmy" Ujar Yura kesal. Ia terus mengoceh tidak jelas,yang bahkan sama sekali tidak di dengar oleh Jakie.

Jakie memegang tangan Yura, "Lo, dari rumah bokap?" 

Ocehan Yura terhenti, tiba-tiba ia merasa gelisah. Ia memegang tangan Jakie kian erat, entah pikirannya kosong. "Yura, lo kenapa? Ra"

"Jakie tolongin gue, dia jahat . Dia pukul aku disini Jak, sakit" Ucap Yura dengan isak tangis yang mulai terdengar. Ia memegang Jakie erat, meminta pertolongan. Jakie  yang melihat itu diam-diam tangannya mengepal. 

"Yura, tenang. Lihat gue, lo aman disini Yura sama gue" Ujar Jakie meyakinkan gadis itu. Saat gadis itu menjadi semakin tidak terkendali, Jakie segera menariknya agar bisa medekap Yura.

"Orang itu, engga ada kan?"

"Engga, orang itu gaakan ada disini." Jakie menarik Yura kedalam pelukannya, menenagkan gadis itu seperti yang ia bisa. "Meski kita sama-sama cacat, ayo kita berusaha menyembuhkan satu sama lain Yura."

****

Suara deburan ombak menyapu telinga. Entah bagaimana awalnya, Jakie dan Yura memustuskan untuk menangkan pikirannya dengan cara pergi ke pantai. Selama perjalanan hingga sampai disana, keduanya hanya diam. Sibuk berperang dengan pikiran masing-masing.

Jika orang-orang dipenuhi canda tawa, Jakie dan Yura justru di selimuti oleh air mata.

Yura mendekati bibir pantai, melepas sepatunya dan membiarkan kakinya disapa dinginnya air laut. Sedangkan Jakie hanya memperhatikan dari belakang. Diam-diam merapalkan doa yang hanya diketahui oleh tuhan dan dirinya, awalnya ia tak ada keinginan bergabung dengan Yura. Namun ketika gadis itu tertawa dan menoleh ke arahnya, membuat tubuh kaku itu mendekat ikut melepaskan sepatu.

"Jak, gendong" pinta Yura iseng yang anehnya langsung dituruti oleh Jakie. Tapi tak apa lah, Yura tetap naik ke punggung Jakie. Menikmati angin pantai dengan tenang, seolah melupakan permasalahan mereka. 

Jakie mulai berjalan mengikuti garis pantai, meski ia menopang beban di punggunya. Ia bahagia. Tenang yang hampir tak lagi ia rasakan kini kembali lagi. Bersama Yura, gadisnya.


****

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

****

Holaaa

yaampun thor jarang update ngapain aja

mff guys, semoga kalian masih inget ada couple Yura dan Jakie yang imut gemesin dan tanpa gubrak-gubrak /mff boonk

okay oll, see u in next chapter /luvvvvv

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 11, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

SialTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang