6. Promise

89 21 0
                                        

Jakie mengendarai motor hitamnya dengan cepat. Tidak peduli dengan genangan air yang menyiprat kemana-mana, bahkan saat pengendara lain mengumpatinya pun Jakie tak peduli. Die berbelok ke arah apartemen Yura, berharap gadis itu sudah berada di rumah.

Jakie mengencangkan jaketnya dan masuk ke dalam apartemen Yura. Bahkan ia tak perlu menunggu di luar agar Yura membuka pintu, dia langsung masuk dengan pin yang dia dapat dari Yura.

"Yura!!!" Seru Jakie saat sudah berda di dalam apartemen Yura.

"Lagi mandi apa ya?" monolog Jakie menatap keadaan rumah Yura yang kosong.

"Tapi ga mungkin lah, udah malem juga" lanjut Jakie, ia menatap jam dinding. Pukul 8 malam, seharusnya Yura sudah berada di rumah.

Jakie melirik ke arah rak sepatu Yura, ia menyerngit bingung ketika melihat sepatu sekolah Yura tidak berada di sana. Jakie segera naik ke atas, ia membuka pintu kamar Yura yang tidak terkunci dan tas sekolahnya juga tidak ada.

Apa dia belum pulang? Tapi pergi kemana dia? Kenapa dia tidak memberi tau Jakie?

Jakie segera merogoh saku celananya ia menelfon Yura. Namun, nihil. Panggilannya tidak tersambung.

"Yura kenapa lo ga bisa sehari aja bikin gue tenang?" monolog Jakie. Ia segera turun dan kkekuar dari apartemen Yura, ia kembali mengendarai motornya untuk mencari Yura.

Ia mendatangi tempat-tempat yang biasa dikunjungi Yura, bahkan ia sampai ke rumah teman-teman gadis itu. Tapi tetap saja tidak ketemu.

Jakie melajukan motornya tanpa tujuan pasti. Diiringi dengan hujan dan dinginnya air malam yang menusuk kulit.

Ia teringat akan satu tempat. Tapi Jakie ragu Yura akan datang kesana. Saat merasa bingung, Jakie tak sengaja menatap dua orang yang begitu ia kenal sedang berboncengan.

Tangan Jakie mengepal. Amarah nya mulai tersulut, ia memutar motornya. Mulai mengikuti motor di depannya dengan tatapan nyalang.

Amarah nya kembali tersulut ketika mereka sampai di pelataran apartemen Yura. Dua orang tersebut berpelukan, dan tanpa pikir panjang Jakie berlari lalu memberikan pukulan untuk laki-laki yang sudah lancang menyentuh gadisnya.

"Mau ngapain lo bangsat?" tanya Jakie dengan penuh penekanan. Yang dipukul hanya diam karena terlalu syok, begitupun dengan Yura.

"Gue peringatin sekali lagi, jangan lo sentuh cewe gue bangsat"

Helmy terkekeh pelan, ia balik menatap Jakie dengan tak bersahabat. "Cewek lo? kemana aja lo? kenapa tadi ga nolongin dia?"

"Gue rasa cewek lo gabakal selamat kalau gue ga datang duluan" ujar Helmy menyombongkan diri semakin membuat amarah Jakie tersulut.

Jakie kembali melayangkan pukulan kepada Helmy. Begitupun sebaliknya. Pertarungan mereka tetap berlanjut, bahkan Yura sendiri kesulitan untuk menghentikannya.

"Udah stop!!"

"Kalian berdua jangan kayak anak kecil!" Seru Yura menengah perkelahian Jakie dan Helmy.

"Jangan deketin cewek gue lagi bangsat" desis Jakie sambil mengatur nafasnya. Bahkan air hujan pun tidak mampu memadamkan amarah Jakie.

"Ga janji, kalau lo bikin dia sakit biar gue yang jaga dia" ujar Helmy sambil berlalu dari hadapan Yura dan Jakie.

Jakie ingin kembali memberikan bogeman mentah kepada muka songong milik Helmy namun dia ditahan oleh Yura.

Setelah Helmy pergi Jakie segera membawa Yura ke dalam dekapannya. Ia tidak yakin gadis ini baik-baik saja, seragamnya begitu lusuh dan luka pukul berada dimana-mana. Bahkan ia tidak memakai alas kaki.

SialTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang