Harapan Pupus

199 14 0
                                        

Malam itu Nashwa belum juga memejamkan matanya, dia memandang ke arah plafon kamarnya yang terbuat dari triplek, tapi pikirannya tertuju pada pesan yang tak sengaja ia baca di ponsel Fahd tadi.

From: My Love❤️

Sayang, kamu udah atur tanggal buat pernikahan kita kan? Aku mau akadnya dimajuin bulan depan.

"Memang benar ya, berharap ke selain-Nya itu berujung mengecewakan, apalagi berharap ke manusia. Wa, harus berapa kali sih kamu dikasih pengalaman hidup sama Allah biar kamu sadar kalo kamu cuma boleh berharap kepada-Nya." Nashwa membatin, menyesali dirinya yang beberapa hari kemarin sempat terlena dengan sikap baik Fahd sehingga tumbuh harapan di hatinya yang tak pasti.

Nashwa menoleh ke samping, dipandanginya Fahd yang sudah terlelap sejak pukul sebelas malam. Ia merubah posisi tidurnya menghadap ke pria itu lalu mengamati wajahnya yang rupawan dalam diam.

Tangannya perlahan menyentuh pipi Fahd yang halus, tak seperti pipinya yang gampang berjerawat setiap kali mens. Ia merasakan kehangatan dari pipi Fahd yang selaras dengan deru nafasnya yang teratur dan hangat.

"Ya Allah, pria ini suamiku, tapi kenapa aku merasa kalau dia begitu sulit untuk ku miliki? Aku merasa aku bukan sosok yang berarti baginya yang seharusnya pantas menjadi perempuan satu-satunya yang dia cintai." Air matanya perlahan jatuh membasahi bantal. Nashwa memindahkan tangannya dari pipi Fahd lalu memutuskan untuk tidak membelakanginya.

Tak lama setelahnya, tubuh Nashwa membeku saat sebuah tangan melingkar di perutnya, ia bisa merasakan Fahd memeluknya dari belakang dengan erat. Bahkan saking dekatnya jarak mereka, ia bisa merasakan hembusan nafas Fahd menerpa telinganya, wajahnya seketika merah padam, lampu tidur yang temaram semakin menambah nuansa romantis diantara mereka.

"Tidur Wa, jangan overthinking mulu," suara berat itu membuyarkan kegugupan Nashwa, jangan bilang Fahd belum tidur sedari tadi dan mengetahui kegelisahannya.

Gadis itu reflek menghindar, mencoba menyingkirkan tangan Fahd yang melingkari perutnya.

"Nggak nyaman ya?" Fahd dengan pengertian melepas pelukannya meskipun sebenarnya ia tak rela. Sebab belakangan ini dia sendiri sangat suka berada di dekat Nashwa apalagi tidur sambil memeluk istrinya itu.

"Bang Fahd, kalau mungkin kamu lagi pura-pura jadi suami yang baik, nggak perlu menunjukkannya saat kita cuma berdua seperti ini, cukup lakukan di depan orang tua kita supaya mereka senang."

"Nggak perlu maksain buat cinta sama aku kalau memang kamu punya wanita lain yang kamu cintai bahkan sebelum kamu kenal sama aku, Bang. Kalau sampai dia tau kekasihnya udah jadi suami orang bukan cuma aku yang sakit, tapi dia juga."

Mendengar penuturan Nashwa, Fahd terdiam beberapa saat lalu dengan gerakan lembut dia menarik bahu Nashwa agar gadis itu mau menghadap ke arahnya.

Dua pasang mata akhirnya bertemu dan saling menyelami satu sama lain, keduanya mencoba saling memahami perasaan satu sama lain.

"Beri aku waktu, Wa. Aku akan memilih diantara kamu dan dia, aku akan pertimbangkan baik-baik mana yang paling aku butuhkan dalam hidupku," ujar Fahd serius. Matanya terus menatap mata Nashwa yang masih berpendar untuknya.

"Berapa lama Bang? Jangan terlalu lama ya, aku juga perlu memikirkan masa depanku seandainya bukan aku yang kamu pilih." Nashwa merasa pesimis untuk memenangkan hati suaminya.

"Tiga bulan Wa, aku akan memutuskan pilihanku dan kamu bakal jadi orang pertama yang aku beritahu. Tapi kamu nggak perlu takut, apapun yang terjadi kelak, aku akan tetap bertanggung jawab atas kamu sampai kamu menemukan kehidupan yang baru."

Terjebak Dalam Akad Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang