Sikap Dingin

170 12 9
                                        

FOLLOW ME ON INSTAGRAM : @asyiahmuzakir
& WATTPAD : nurasyiaaaaahh

"Semua butuh proses, karena di setiap proses ada pembelajaran. Jika dipercepat, Allah ingin kita bersyukur. Jika diperlambat, Allah ingin kita bersabar."

WARNING‼️DILARANG KERAS MEMBACA DIWAKTU SHOLAT!

Allahumma sholli 'ala sayyidina Muhammad wa 'ala ali sayyidina Muhammad 📿 kama shollaita'ala sayyidina Ibrahim wa 'ala ali sayyidina Ibrahim.

💚

Dingin, itulah yang menggambarkan suasana di rumah mereka, tak bisa dipungkiri oleh Nashwa, semenjak mantan tunangan Fahd tahu soal pernikahan mereka, suaminya kembali bersikap tak acuh seperti awal-awal mereka menikah. Sedih? Tentu saja, istri mana yang kuat didiamkan berhari-hari oleh suaminya, dia seperti tak terlihat di mata Fahd yang semakin sibuk di luar rumah dengan toko-tokonya.

Seperti pagi ini, usai sholat subuh Nashwa bergegas ke dapur, dia tetap memasak untuk sarapan, meskipun sejak hari itu Fahd selalu membiarkan sarapan di atas meja itu mendingin tanpa disentuhnya sedikitpun. Melirik pun seolah enggan, Nashwa semula sakit hati, tapi yang penting dia sudah berusaha menjadi istri yang berbakti.

Tak seperti di film-film, dia dan Fahd masih satu kamar, tapi suaminya itu bertingkah seperti hanya dia yang ada di kamar mereka. Nashwa sudah beberapa kali mencoba membuka percakapan, tapi Fahd hanya menanggapinya dengan malas-malasan, tak jarang pula dia mengabaikan Nashwa.

Nashwa mencepol rambutnya ke atas, dia hanya memakai dress rumahan selutut, biasanya dia selalu menggunakan hijab meskipun di dalam rumah, tapi kali ini Nashwa mencoba menyamankan diri dengan tampilan santai seperti di rumahnya sendiri, lagi pula di rumah mereka tak ada asisten laki-laki. Hanya ada dia dan Fahd, serta Mbak Jum yang setiap pagi datang untuk beres-beres. Beliau asisten yang dikirim oleh ayah mertua Nashwa, Mbak Jum tinggal tak jauh dari rumah Fahd dan Nashwa, sebab itu beliau memilih pulang pergi.

"Eh, Mas? Udah mau berangkat?"

Fahd hanya bergumam sambil melewati Nashwa yang berdiri sambil memegang pisau, dia sedang memotong daun bawang dan seledri untuk tambahan sup yang masih direbusnya.

"Airnya habis, Mas. Tapi tadi aku udah minta orang depot buat nganterin airnya." beritahu Nashwa begitu melihat suaminya menekan dispenser sambil menadahkan gelas di bawahnya.

"Ck, gimana sih kamu? Air aja sampai kehabisan? Uang dari ayah kurang?"

"Astaghfirullah, Mas. Aku nggak ada nerima uang dari ayah kamu. Kamu kenapa bicara begitu?"

"Halah udahlah." Fahd beranjak pergi dari dapur juga dari rumah dengan kekesalan di hatinya.

"Mas! Nggak sarapan dulu?! Sup-nya hampir matang."

Tawaran Nashwa terdengar seperti hembusan angin lewat di telinga Fahd, entah kenapa dia terus merasa curiga dengan Nashwa yang bisa mendapatkan kepercayaan ayahnya semudah menjentikkan jari. Padahal Maurin saja yang sudah lama menjalin hubungan dengannya sulit sekali mendapatkan kepercayaan ayahnya. Boro-boro ditawari membuka toko atau restoran seperti Nashwa, selama tiga tahun mereka bersama, ayahnya tak kunjung memberi restu.

Memang Fahd akui kalau Nashwa adalah tipikal calon menantu yang banyak disukai oleh para orang tua. Sikapnya yang sopan, pribadinya yang menyenangkan dan mudah diajak mengobrol, penampilannya yang sederhana tapi anggun.

Ditambah lagi, perempuan itu jago dalam berbagai hal, seperti memasak, merajut, bermitra, dan membuat kue. Sedangkan Maurin, perempuan yang dicintainya itu tak banyak mempunyai skill karena hidupnya cenderung bebas mengikuti arus, mungkin disebabkan karena orang tuanya yang tak harmonis. Ayahnya suka selingkuh dan ibunya sering mendapat KDRT hingga pergi ke luar negeri dan jarang sekali menengok Maurin.

Terjebak Dalam Akad Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang