cahaya matahari pagi menyorot ke jendela kamar Bintang. Dia terbangun karena suara ketokan pintu kamarnya.
" MAS TANGI " teriak Bulan. Sendari tadi dia mengetok pintu kamar Bintang, tapi sang empuk tak kunjung bangun.
( mas bangun)" mas ih, kas subuh aja turu maning sih, kalaen kosi jam 6 " Omel Bulan dari balik pintu kamar Bintang.
(Mas ih, habis subuh jangan tidur lagi sih, jadinya sampai jam 6)" Iya iya mas tangi " Ucap Bintang kala membuka pintu kamarnya, dia masih mengucek matanya.
(Iya iya mas bangun)" Matane melek mas, wis jam 6, luih malah kayane " Bulan greget melihat kakaknya yang belum bisa bangun sepenuhnya.
(Matanya melek mas, udah jam 6, lebih malah kayaknya)" Mas esih ngantuk " Bintang terduduk di pintu kamarnya.
(Mas masih ngantuk)" Tangi, ngumbahi sepatu mana, mumpung dina minggu " Bulan mengambil satu tangan kakaknya dan mencoba untuk menyeret tubuh Bintang.
(Bangun, nyuci sepatu sana, mumpung hari minggu)" Koen bae mana, mas esih ngantuk " Ucap Bintang, dia hendak menutup pintu kamarnya kembali, tapi di tahan oleh tangan Bulan.
(Kamu saja sana, mas masih ngantuk)" Dih emoh yah, sing nganggo sapa, sing ngumbahi sapa " Bulan sedikit nyolot nada bicaranya.
(dih ga mau ya, yang make siapa, yang nyuci siapa)" Mas sungkan, temenan " Ucap Bintang dengan wajah memelasnya
(Mas males, beneran)" Dih emoh, ben sepatune mas mambu trasi " Bulan langsung berlari kebelakang untuk mencuci sepatunya sendiri.
(Dih ga mau, biar sepatunya mas bau trasi)" Heh pelit temen sih " Kesal Bintang, dia langsung menutup pintu kamarnya dan berjalan kebelakang untuk ikut Bulan mencuci sepatu.
(Heh pelit banget sih)Tak ada yang berbicara, mereka berdua fokus mencuci sepatunya masing-masing. Tidak setiap minggu mereka mencuci sepatu, paling selama 1 bulan mereka hanya 2x mencucinya. Biasanya minggu pertama cuman di lap biar ga keliahatan kotornya, trus minggu ke-2 baru deh di cuci, minggu ke-3 sama kayak minggu pertama cuman di lap, minggu ke-4 juga sama kayak minggu ke-2 dicuci. Kegiatan itu berjalan lancar, kecuali kalau Bintang malas, kadang dicuciin sama Bulan, kadang cuman di lap doang.
" Mas wis durung? " Tanya Bulan, dia sudah selesai duluan.
(Mas udah belum?)" Delat " Jawab Bintang, dia menyiram sepatunya agar sabunnya hilang.
(Bentar)" Njemure neng ngarep mas, aja neng mburi akeh ayame mbah sagwid " Ucap Bulan, dia berdiri hendak meninggalkan Bintang yang sedang menaruh sikat dan sabun yang dia pakai tadi.
(Jemurnya di depan aja mas, jangan di belakang banyak ayamnya mbah sagwid)Bintang sudah selesai mencuci sepatunya, dia langsung menyusul Bulan ke depan untuk menjemur sepatu.
" Bul, dalah ngendi? " Tanya Bintang, dia melihat Bulan yang sedang makan jajan di depan rumah.
(Bul taroh mana?)" Pinggir sepatune Bulan bae mas, kueh ngarep " Jawab Bulan tangannya menunjuk sepatu yang sedang di jemur.
(Samping sepatunya Bulan aja mas, itu depan).Bintang menaruh sepatunya jejer dengan sepatu milik Bulan.
" Mas pan dolan, melu ra? " Tanya Bintang setelah dia menjemur sepatunya.
(Mas mau main, ikut ga?)" Moh, pan udan mas ra sah dolan " Bulan mencegah kakaknya pergi bermain karena langit sudah mendung.
( ga mau, mau hujan mas ga udah main)" Sedelat tok " Ucap Bintang, dia tau alasan kenapa dia tidak di perbolehkan main oleh Bulan.
(Sebentar doang)" Pan mendi sih? " Tanya Bulan sinis.
(Mau kemana sih?)" Sawah, olih ya? " Jawab Bintang, dia berharap agar di perbolehkan main oleh Bulan.
(Sawah, boleh ya?)" Ngenteni udan, bokat sepatune kudanan " Ucap Bulan. Tepat dengan dugaan Bintang, gara-gara sepatu.
(Nunggu hujan, barangkali sepatunya kehujanan)Tak berselang lama dari mereka masuk rumah, terdengar suara tetangga yang memanggil nama Bulan dan Bintang. Katanya sih hujan, tapi tak terdengar suara rintik hujannya, mungkin kah masih gerimis?
" BULAN BINTANG UDAN, KIE SEPATUNE DINTAS " Teriak tetangga depan rumah.
(BULAN BINTANG HUJAN, INI SEPATUNYA DIANGKAT)" NGGIH " Balas Bulan setengah berteriak karena dia berada di dapur.
(IYA)" MAS, TOLONG SEKALIAN DINTASNA NDEKE BULAN " Teriak Bulan.
(MAS, TOLONG SEKALIAN DI ANGKATIN PUNYA BULAN)" NGENTAS DEWEK LAH " Teriak Bintang dari depan rumah.
(ANGKAT SENDIRI LAH)" PELIT TEMEN, TOLONG ANGKAT KENA LAH " Bulan kembali berteriak.
(PELIT BANGET, TOLONG ANGKATIN LAH)" IYA IYA BAWEL " teriak Bintang, dia langsung ke belakang untuk menemui Bulan " Dalah ngendi kie sepatune? "
(taroh dimana ini sepatunya?)" Dalah ngana bae keh, pinggir tembok " Jawab Bulan, jarinya menunjuk ke tembok yg dia maksud.
(Taroh disana aja tuh, samping tembok)Bintang menyusun sepatunya dan sepatu milik Bulan dengan rapih agar tidak ketukar, karena ukuran sepatu Bulan dan Bintang hanya selisih 1 angka, dan angka yang ada di sepatu juga hampir hilang, jadi harus jeli melihat ukuran sepatunya.
" Koen lagi apa sih? Mburi dewekan, ora wedi? Tumben, biasane wedi " Ledek Bintang mengingat adeknya penakut.
(Kamu lagi apa sih? Di belakang sendirian, ga takut? Tumben, biasanya takut)." Brisik, seweruhe mas Bulan lagi apa? Toli lawang mburine mbuka wlee " Ucap Bulan yang masih bergelut dengan pekerjaannya.
(Brisik, selihatnya mas Bulan lagi apa? Lagian pintu belakang buka wleee)" Sane ngoceti kentang sih? Ngko di ganyami mba uti lah " Tanya Bintang, dia berdiri di pintu dapur.
(Kenapa ngupasin kentang sih? Nanti di marahin nenek lah)" Keh ya, udan udan kaya kie enakan mangan kentang goreng " Jawab Bulan, dia masih fokus mengupasi kentang.
(Nih ya, hujan hujan kaya gini enakan makan kentang goreng)" Ya ora, enakkan mangan mie rebus, mas pan nggawe mie lah, mbah uti ndue mie ora Bul? " Bintang mengoceh sembari fokus mencari mie rebus di dapur.
(Ya engga, enakkan makan mie rebus, mas mau bikin mie lah, nenek punya mie ga Bul?)" Ana kae neng etalase " Bulan menujuk etalase yang di maksud dengan pisau di tangannya.
(Ada itu di etalase)Pandangan Bintang mengikuti arah pisau, tempat yang di tunjuk Bulan.
" Oh ya, mas durung weruh mama karo mbah uti sing esuk, pada mengendi? " Tanya Bintang saat dia mengambil mie rebus.
(Oh ya, mas belum liat mama sama nenek dari pagi,pada kemana?)" Lunga, jare pan neng pasar sekalian mampir neng kanca laen mbah uti " Jawab Bulan dia sudah selesai memotong dan mencuci kentang.
(Pergi, katanya mau ke pasar sekalian mampir ke temen kerjanya nenek)*laen kalo disini kerja di pabrik teh ya......
" Sing esuk eh? " Tanya Bintang.
(Dari pagi eh?)" Sing bar subuh malah " Jawab Bulan, dia tengah menggoreng kentang.
(Dari habis subuh malah)" Wis lah mas pan mangan ngarep TV " Bintang meninggalkan Bulan dan membawa mangkok mienya, tidak lupa membawa segelas air minum, mau beli es tidak bisa karena hujan sangat lebat, payung pun sudah rusak.
(Udah lah mas mau makan depan TV)Setelah selasai masak, Bulan menusul Bintang makan di depan TV. Mereka sibuk memakan makanannya masing-masing sembari melihat TV

KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan merindukan Bintang
Non-Fiction" mas bakal batiri koen kosi gede " (mas bakal nemenin kamu sampe besar) siapa sangka itu hanya menjadi kalimat penenang?