Langit sore terlihat cerah, dihiasi warna jingga yang mulai merona. Lapangan desa, tempat semua anak berkumpul selepas pulang sekolah, hari ini dipenuhi semangat dan tawa. Layangan-layangan beraneka bentuk menghiasi langit, melayang tinggi diiringi sorak-sorai pemiliknya.
Di sisi lapangan, Bulan berdiri memegang gulungan benang. Wajahnya dipenuhi ekspresi serius, fokus pada layangan berbentuk kupu-kupu yang tengah dia coba terbangkan. Namun, sekeras apa pun dia berusaha, layangannya hanya terbang rendah, hampir menyentuh tanah.
“Mas Bintang, tolongi nyong oh! Layangane nyong ora gelem manjat!” keluh Bulan dengan suara setengah berteriak.
(Mas Bintang, bantuin aku dong! Layanganku nggak mau naik!)
Bintang melirik adiknya sambil tersenyum kecil. Layangan elang miliknya terbang gagah di langit, mengalahkan layangan lain dalam ketinggian. "mene, nyong ngileng disit. koen narike kakeen. Layangan kue butuh sabar, dudu asal main tarik,” ujarnya sambil mendekati Bulan.
(Sini, aku lihat dulu. Kamu nariknya kebanyakan. Layangan itu butuh sabar, bukan asal main tarik)
Bulan menyerahkan gulungan benangnya dengan sedikit enggan. nyong wis coba sabar, tapi tetep ora bisa. Mungkin karena angine jahat karo nyong.”
(Aku udah coba sabar, tapi tetep nggak bisa. Mungkin karena anginnya jahat sama aku)
“Dudu angin sing salah, Bulan. koen bae sing durung jago,” sahut Ambon, teman sebaya Bulan, yang berdiri di sebelahnya sambil menggulung layangannya sendiri.
(Bukan angin yang salah, Bulan. Kamu aja yang belum jago,)
“Eh, Ambon, aja nyalah kena nyong! koen be miki layangane tiba terus,” balas Bulan sambil melipat tangannya di dada.
(Eh, Ambon, jangan nyalahin aku! Kamu juga tadi layangannya jatuh terus)
Ambon hanya nyengir. Dia memang tahu dirinya pun belum mahir bermain layangan, tapi menggoda Bulan selalu menjadi hiburan tersendiri baginya.
Tak jauh dari mereka, di bawah pohon mangga tua di sudut lapangan, Arman sedang bersantai sambil mengunyah permen karet. Teman dekat Bintang itu hanya mengamati dari kejauhan, sesekali melempar komentar yang membuat suasana semakin ramai.
"Wislah, Bulan. Mending koen ndein layangane koen meng nyong, endah nyong nunjukkena cara maine,” ledek Arman sambil tertawa kecil.
(Udahlah, Bulan. Mending kamu kasih layanganmu ke aku, biar aku tunjukin cara mainnya)
" Moh, ah! nyong bisa dewek!” sahut Bulan dengan nada kesal.
(Enggak, ah! Aku bisa sendiri!)
Bintang tertawa mendengar percakapan itu. Dia tahu betul adiknya tidak akan menyerah begitu saja, terutama jika ada yang meremehkannya. Setelah mengikat ulang benang layangan Bulan, dia memberikan gulungannya kembali. “Coba saiki. Narike alon-alon, ngenteni sampe angine pas.”
(Coba sekarang. Tariknya pelan-pelan, tunggu sampai anginnya pas)
Bulan mencoba lagi. Dengan bimbingan Bintang, layangannya perlahan naik, meski belum setinggi layangan milik kakaknya. Namun, senyum lebar muncul di wajah Bulan. "Dileng ! manjat, kan? nyong bisa!”
(Lihat! Naik, kan? Aku bisa!)
Ambon ikut bersorak. “Wah, hebat, Bulan! Tapi aja seneng disit, kue mbene setengah jalan!”
(Wah, hebat, Bulan! Tapi jangan senang dulu, itu baru setengah jalan!)
Di tengah kegembiraan mereka, suara seseorang memanggil dari kejauhan. Itu suara Pak Jarwo si penjual bubur ayam yang sering memperhatikan anak-anak bermain. “Hei,bocah-bocah! Aja kepereken karo sawah, ngko layangane nyangkut neng wit!” serunya sambil melambaikan tangan.
(Hei, anak-anak! Jangan terlalu dekat dengan sawah, nanti layangannya nyangkut di pohon!)
“Iya, Pak!” jawab mereka serentak.
Namun, seperti biasa, peringatan itu seringkali dianggap angin lalu oleh anak-anak. Beberapa layangan memang sudah mulai mendekati sawah, termasuk layangan elang milik Bintang.
“Mas, ati-atia, ngko layangane nyangkut neng wit" seru Bulan.
(Mas, hati-hati, nanti layanganmu nyangkut di pohon!)
Bintang hanya tertawa kecil. "Kalem bae, nyong wis ahli!”
(Tenang aja, aku udah ahli!)
Sementara itu, Arman mulai membawa layangannya sendiri. “Wis sore. Kayane nyong balik disitan, deh. Ngesuk nyong tantang koen maning, Bintang!” katanya sambil menunjuk Bintang.
(Udah sore. Kayaknya aku pulang duluan, deh. Besok aku tantang kamu lagi, Bintang!)
Bintang hanya mengangguk. “Siap, ngesuk nyong nggawa layangan anyar. Koen mesti kalah maning.”
(Siap, besok aku bawa layangan baru. Kamu pasti kalah lagi.)
---
Ketika matahari mulai tenggelam, satu persatu anak-anak desa mulai meninggalkan lapangan. Bulan dan Bintang adalah dua di antara yang terakhir pulang. Namun, tepat saat mereka bersiap menggulung layangan, angin tiba-tiba berhembus kencang.
“Mas, layangane nyong ! Benange pedot!” teriak Bulan panik.
(Mas, layanganku! Benangnya putus!)
Bintang langsung menoleh. Dia melihat layangan kupu-kupu milik adiknya melayang bebas, terbawa angin menuju arah sawah. Tanpa pikir panjang, Bulan langsung berlari mengejar.
“Bulan, ngko sit! Aja mana dewekan!” seru Bintang sambil mengejar adiknya.
(Bulan, tunggu! Jangan ke sana sendirian!)
Ambon yang masih di lapangan ikut panik. “Bulan,ati-ati! Neng sawah akeh ula!”
(Bulan, hati-hati! Di sawah banyak ular!)
Namun, Bulan tidak peduli. Dia terus berlari hingga sampai di tepi sawah. Layangannya tersangkut di salah satu pohon jambu yang lumayan tinggi.
“Mas, kue! Pimen carane nyong njukut?” tanya Bulan dengan nada putus asa.
(Mas, itu dia! Gimana caranya aku ambil?)
Bintang menghela napas. “Ngesuk tuku maning bae karo mas"
(besok beli lagi aja sama mas)
Dengan berat hati Bulan mengiyakan ucapan kakaknya, Bintang yang melihat muka kusut Bulan, langsung menurunkan layangannya dan mengajak Bulan untuk pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan merindukan Bintang
Non-Fiction" mas bakal batiri koen kosi gede " (mas bakal nemenin kamu sampe besar) siapa sangka itu hanya menjadi kalimat penenang?
