CAHPTER 7

2 1 0
                                    

Bulan menarik nafas panjang, matanya terpaku pada bola yang tergeletak di tengah lapangan. Hari itu, mereka bermain sepak bola di lapangan yang tak jauh dari rumah. Teman-temannya sudah berkumpul, siap untuk bertanding. Arya, yang biasanya lebih pendiam, terlihat antusias meski tidak banyak bicara. Anggris dan Arman berdiri bersebelahan, saling berbisik tentang strategi yang akan diterapkan. Ambon dan Abi sudah bersiap dengan semangat.

Namun, ada satu sosok yang tidak bisa diabaikan—Bintang, kakaknya. Ia berdiri di pinggir lapangan, tampak siap dengan semangat yang menyala. Bulan bisa melihat itu dari jauh, matanya penuh energi. Sejak kecil, Bintang memang selalu menjadi sosok yang penuh semangat. Tidak ada hal yang bisa menghentikannya untuk bermain bola, apalagi bersama teman-temannya.

“Mas, yuh dewek mulai!” teriak Bulan sambil melambaikan tangan.
(Mas, ayo kita mulai!)

Bintang menoleh dan tersenyum lebar. “Iya, Bulan! Sabar, sabar, mas lagi siap-siap keh!” jawabnya sambil berlari menuju lapangan.
(Iya, Bulan! Sabar, sabar, mas lagi siap-siap nih!)

Arya yang mendengar suara Bintang hanya menggelengkan kepala dengan senyum, “Bintang, selalu penuh semangat. Semoga energine ora enteng disitan ya!”
(Bintang, selalu penuh semangat. Semoga energinya nggak habis duluan ya!)

Bulan tertawa melihat ekspresi Arya yang penuh tawa kecil. “Aja kuatir, Mas Arya. Mas Bintang ari wis ng lapangan, kayak ora kenal kesel,” jawab Bulan dengan bangga.
(Jangan khawatir, Mas Arya. Mas Bintang kalau udah di lapangan, kayak nggak kenal lelah)

Laga pun dimulai. Bola bergulir cepat, dan semuanya berlari mengejar. Bulan bergerak gesit, menggiring bola dengan penuh semangat. Arya, meskipun pendiam, selalu mengikuti pergerakan lawan dengan tenang. Anggris dan Arman saling mengoper bola dengan cepat, sementara Ambon dan Abi sibuk menciptakan ruang di area pertahanan lawan.

Namun, di tengah permainan, Bintang tak bisa diam. Sejak pertama kali ikut berlari, dia sudah mulai bicara dengan penuh semangat. “Yuh, dewek kudu menang! Aja ndein kendor, aja ndein ampun! Anggris, dein nyong bal!” serunya dengan suara lantang.
(Ayo, kita harus menang! Jangan kasih kendor, jangan kasih ampun! Anggris, kasih aku bola!)

Bulan yang mendengar teriakannya tidak bisa menahan senyum. Mas Bintang memang seperti itu—penuh semangat, bahkan mungkin terkadang berlebihan, tapi itu yang membuatnya selalu menjadi pemimpin di tim mereka. "Yuh, Mas! Aja gemboran terus, ngko mas keentengen napas!" ujar Bulan sambil tertawa.
(Ayo, Mas! Jangan teriak terus, nanti mas kehabisan napas)

Bintang tertawa, lalu berlari ke sisi lapangan. “Denteni bae! Ngko koen weruh dewek. Mas esih ana tenaga, kok!” katanya seraya melompat untuk merebut bola yang terlepas.
(Tunggu aja! Nanti kamu lihat sendiri. Mas masih ada tenaga, kok!)

Permainan semakin seru. Bintang yang sudah mendapatkan bola langsung mengirimkan umpan kepada Bulan yang ada di depan gawang. “Ayo, Bulan! Aja sampe sia-sia!” teriak Mas Bintang, dengan semangat yang membara.
(Ayo, Bulan! Jangan sampai sia-sia!)

Bulan, yang sudah mengerti apa yang dimaksud kakaknya, langsung menendang bola tepat ke gawang. "Gol!" teriak mereka semua serempak, menyambut keberhasilan yang diraih berkat kerjasama yang solid.

Mas Bintang langsung berlari ke Bulan dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “kue baru adine mas!” katanya sambil tertawa keras. "Koen dolanan bal luih hebat sing mas, Bulan!"
(Itu baru adik mas!)
(Kamu main bola lebih hebat dari mas, Bulan!)

Bulan tertawa kecil, “Mas, ari ora ana semangate mas, tim e dewek bisa kalah deh!”
(Mas, kalau nggak ada semangat mas, tim kita bisa kalah deh!)

Setelah beberapa menit istirahat, permainan pun berlanjut. Kali ini, giliran Anggris yang menggiring bola ke depan. “Bintang, ndein dukungan, oh!” teriak Anggris, meminta bantuan dari Bintang yang berdiri lebih dekat dengan garis tengah.
(Bintang, kasih dukungan, dong!)

“Tenang bae, Anggris, koen bisa! nyong yakin!” seru Mas Bintang, tidak henti-hentinya memberikan dukungan. Dia memang sangat berbicara selama permainan. “nyong wis janji karo awake nyng dewek, dewek ora bakal kalah kali kie!”
(Tenang aja, Anggris, kamu bisa! Aku yakin)
(Aku udah janji sama diri sendiri, kita nggak bakal kalah kali ini!)

Arya yang biasanya diam hanya bisa tersenyum mendengar semangat Mas Bintang yang tak ada habisnya. “Bintang, tenang bae, dewek menang ka,” kata Arya, walaupun dia tetap fokus pada gerakan bola.
(Bintang, tenang aja, kita menang kok)

Bulan yang melihat Mas Bintang terus berbicara memberi semangat kepada teman-temannya, merasa sangat bangga. “Mas Bintang emang selalu kaya kue, ora pernah gelem mandek ndein semangat,” kata Bulan dengan senyum lebar, sambil berlari mengejar bola yang dioper oleh Abi.
(Mas Bintang memang selalu seperti itu, nggak pernah mau berhenti memberi semangat,)

Saat pertandingan hampir berakhir, skor masih imbang. Semua orang terlihat semakin serius, tetapi Mas Bintang tidak mengurangi semangatnya. “kie dudu akhir, co! dewek mesti bisa menang!” teriaknya, matanya berbinar-binar. “dileng, gawange wis ana neng ngarep mata, dewek kudu tetep percaya diri!”
(Ini bukan akhir, guys! Kita pasti bisa menang!)
(Lihat, gawangnya sudah ada di depan mata, kita harus tetap percaya diri!)

Bulan menggiring bola ke arah gawang lawan, dikejar ketat oleh Arya yang terlihat serius. “Aja sampe nyong kalah karo koen, Bulan!” tantang Arya dengan nada tenang, tapi tetap penuh tekad.
(Jangan sampai aku kalah sama kamu, Bulan)

Dengan kecepatan dan ketenangannya, Arya berusaha merebut bola. Namun, Bulan yang sudah siap menggiring bola dengan gesit, melepaskan umpan ke Mas Bintang yang ada di sisi kanan. “Mas, siap?” seru Bulan.

“Pasti!” jawab Mas Bintang dengan penuh keyakinan.

Mas Bintang menerima bola dan langsung menendangnya dengan kuat. “Gol!” teriak semua orang, saat bola meluncur mulus ke dalam gawang lawan.

Seluruh tim bersorak sorai, dan Mas Bintang langsung berlari menghampiri Bulan. “Weruh, kan? nyong ngomong dewek bisa menang!” kata Mas Bintang dengan wajah sumringah, masih terengah-engah setelah melakukan tendangan keras yang menakjubkan.
(Lihat, kan? Aku bilang kita bisa menang!)

“Hebat, Mas!” jawab Bulan, tersenyum bangga. “Mas emang paling keren!”
(Mas memang paling keren!)

Setelah pertandingan berakhir, mereka semua duduk di pinggir lapangan, menikmati angin sore yang sejuk. Mas Bintang tampak sangat senang dan terus bercerita tentang permainan seru tadi. “Ari koen koen pada weruh, awit awal miki nyong wis ngomong ari bisa menang, kan?” katanya sambil tertawa.
(Kalau kalian lihat, dari awal tadi aku udah bilang kita bisa menang, kan?)

Bulan hanya bisa menggelengkan kepala dengan senyum. “Mas emang paling ora bisa meneng ya, tapi nyong ngerti, semangate mas sing gawe kabeh wong semangat!”
(Mas memang paling nggak bisa diam ya, tapi aku tahu, semangatmu yang bikin semua orang semangat!)

Mas Bintang tersenyum lebar. “Ya, soale mas ora pernah gelem mandek usaha! Kabeh wong bisa dadi pemenang ari kae  wong percaya trus kerja sama!”
(Ya, karena mas nggak pernah mau berhenti berusaha! Semua orang bisa jadi pemenang kalau mereka percaya dan bekerja sama)

Mereka tertawa bersama, menikmati momen kebersamaan itu. Meskipun banyak tantangan yang mereka hadapi, bersama teman-teman dan keluarga, tak ada yang tidak mungkin. Mas Bintang dengan semangatnya yang tiada habisnya, selalu membawa keceriaan dan kekuatan bagi semua orang.

Bulan merindukan BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang