musim panen tiba, para buruh tani sibuk memanen padi di sawah yang mereka garap, tapi tidak semua buruh tani memanen hasil garapannya karena ada yang duluan panen dan ada juga yang belum siap panen.
" Mas mbah mian kas sing sawah kweh, kayane kas panen pari " Ucap Bulan kala melihat salah satu petani yang pulang ke rumahnya dengan pakaian yang penuh lumpur.
(Mas mbah mian habis dari sawah tuh, kayaknya habis panen padi)
" Bul, kas dzuhur maring sawah gelem ra? " Tanya Bintang yang ikut melihat mbah mian masuk ke rumahnya.
(Bul, habis dzuhur ke sawah mau ga?)
" Ngapain? Pan nggawe rusuh wong-wong panen? " Tanya Bulan karena mengingat tingkah kakaknya yang jahil.
(Ngapain? Mau bikin rusuh orang-orang panen?)
" Dih ora ya, pan nggolet jamur lah, suudzon bae karo mas " Jawab Bintang sedikit nyolot.
(Dih engga ya, mau cari jamur lah, suudzon mulu sama mas)
" Ya maap, emang wis ana sing di panen disitan? " Bulan bertanya kembali.
(Ya maaf, emang udah ada yang di panen duluan?)
" Ya wis sih tinggal ngileng saiki bae, sekalian nggawa ember siji mbokat wis ana dadi tinggal njukut " Jelas Bintang masih sedikit 🤏 nyolot.
(Ya udah sih tinggal liat sekarang aja, sekalian bawa ember satu barangkali udah ada jadi tinggal ambil)
Mereka berdua masuk ke rumah dan langsung pergi menuju dapur untuk mencari ember kecil.
" Mas keh ana akeh " Ucap Bulan yang telah duluan menemukan ember.
(Mas nih ada banyak)
" Jukut siji bae gawa ngarep, mas pan nginung sit " Ucap Bintang. Bulan menuruti ucapan Bintang, dia duluan kedepan dan meninggalkan Bintang yang sedang mengambil minum.
(Ambil satu aja bawa kedepan, mas mau minum dulu)
" DE PAN NGGAWA NGINUNG ORA? " Teriak Bintang dari dapur berharap Bulan mendengarnya.
(DE MAU BAWA MINUM GA?)
" RA USAH, NGGAWA DUIT BAE, 2.000 " Bulan pun sama berharap Bintang mendengarnya.
(GA USAH, BAWA DUIT AJA, 2.000)
" Ndi duite? " Tanya Bintang yang ternyata sudah berada disamping Bulan.
(Mana duitnya?)
" Keh " Ucap Bulan sembari menunjuk ke saku celananya.
(Nih)
Karena jarak sawah dan rumah mereka tidak terlalu jauh, jadi mereka cepat sampai sawah bahkan tidak ada 15 menit mereka sampai. Tanpa basa basi mereka berdua langsung mencari keberadaan jerami yang sudah menumpuk, hingga matanya tertuju pada beberapa petak sawah yang memiliki segunduk jerami.
" Kayane kue wis rong dina " Ucap Bintang menunjuk gundukan yang dia maksud.
(Kayaknya itu udah dua hari)
" Cek langsung bae mas " Ucap Bulan yang dijawab anggukan kepala oleh Bintang.
(Cek langsung aja mas)
Bintang memimpin di depan, mereka berjalan diatas galeng (gundukan tanah yang membatasi setiap petakan sawah).
" Bintang pan mendi? " Tanya salah satu buruh tani yang tak lain adalah tetangga mereka
(Bintang mau kemana?).
" Aja adoh-adoh bokat ana ula " Lanjut buruh tani tadi (jangan jauh-jauh barangkali ada ular).
" De jawab koen, mas ora bisa kromo " Ucap Bintang di sela-sela buruh tani berbicara sedikit berbisik.
(De jawab kamu, mas ga bisa kromo)
" Tinggal jawab 'nggih wa' bae " Ucap Bulan ikut berbisik.
(Tinggal jawab 'nggih wa' aja)
" Nggih wa " Bintang berbicara kepada buruh tani tadi mengikuti apa yang di ucapkan Bulan.
Mereka berdua lanjut berjalan menuju sawah yang tadi Bintang maksud.
" Nah akhire anjok " Ucap Bulan, dia duduk dahulu di dekat gundukan jerami itu, lumpurnya tidak basah karena padinya sudah di panen. Bintang mulai menggorek gundukan jerami itu.
(Nah akhirnya nyampe)
" Nah kie olih telu de " Ucap Bintang menunjukkan tiga buah jamur padi.
(Nah ini dapet tiga de)
" Akeh ora mas? " Tanya Bulan , dia langsung berdiri dan menyodorkan ember yang dia pegang, mengisyaratkan Bintang untuk memasukkan jamurnya ke ember.
(Banyak ga mas?)
" Golet bae disit, tapi kayane lumayan akeh " Jawab Bintang, dia lanjut menggorek-gorek tumpukan jerami.
(Cari aja dulu, tapi kayaknya lumayan banyak)
" Bulan pan nggolet neng mbang kene bae mas " Ucap Bulan, dia berjalan kearah gundukan jerami yang lebih sedikit.
(Bulan mau cari di sebelah sini aja mas)
" Aja adoh-adoh engko angel ndein jamur meng koene " Ucap Bintang sembari bekacak pinggang.
(Jangan jauh-jauh nanti susah ngasih jamur ke kamunya)
" Ora Bulan nengkene tok " Ucap Bulan, dia masih fokus menggorek-gorek gundukan jerami.
(Engga Bulan disini doang)
Lumayan lama mereka mencari dari satu petak sawah ke petakyaang lain, dan kini sudah mendapat jamur dengan jumlah yang tergolong banyak walau satu ember untuk dua orang.
" Mas wis akeh keh " Ucap Bulan menunjukkan ember yang berisi jamur.
(Mas udah banyak nih)
" Wih pan kebek, ya wis balik yuk " Ajak Bintang yang langsung di ikuti langkahnya oleh Bulan.
(Wih hampir penuh, ya udah balik yuk)
" De kue engko anjok umah jamure langsung di kumbahi bae ya, mas pan tumbas es disit neng mba asih " Ucap Bintang di sela-sela ia berjalan.
(De itu nanti sampe rumah jamurnya langsung di cuci aja ya, mas mau beli es dulu di mba asih)
" Ngenteni mas bae lah " Ucap Bulan yang berjalan di belakang Bintang.
(Nungguin mas aja lah)
" Lawang mburi dibuka bae, awan laka setan ka " Tutur Bintang.
(Pintu belakang di buka aja, siang ga akan ada hantu)
" Iya iya " Kesal Bulan.
Sesuai dengan apa yang tadi Bintang bicarakan, dia pergi ke warung untuk membeli es dan Bulan pulang untuk mencuci jamur yang tadi dia dapat agar nenek atau bunda yang mau masak tidak susah memisahkan jerami yang masih menempel di jamur.
Bintang memasuki rumah langsung menuju belakang, dia mencari keberadaan adek kesayangannya.
" De, uwis? " Tanya Bintang, dia melihat Bulan yang sedang memisahkan jamur dari jerami yang menempel.
(De, udah?)
" Delat maning " Jawab Bulan, dia sibuk menyiram jamur yang telah bersih.
(Bentar lagi)
" Nek wis dalah pinggir kompor bae, paling delat maning mbah uti mbuh mama balik " Ucap Bintang, tangannya menunjuk ke tempat yang dia maksud, Bintang berdiri menunggu adeknya karena dia tau kalau adeknya itu penakut, walau siang hari.
(Kalau udah taroh di pinggir kompor aja, paling bentar lagi nenek atau mama pulang)
" Iya " Bulan menaruh jamurnyadi samping kompor seperti apa yang kakanya suruh.
Mereka meninggalkan dapur dan berjalan ruang tengah untuk menonton televisi sembari menunggu diantara nenek atau mama nya pulang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bulan merindukan Bintang
Non-Fiction" mas bakal batiri koen kosi gede " (mas bakal nemenin kamu sampe besar) siapa sangka itu hanya menjadi kalimat penenang?
